Di era digital yang terus bertransformasi, pendidikan dasar menghadapi tantangan sekaligus peluang besar untuk mempersiapkan generasi penerus menghadapi masa depan. Mulai tahun pelajaran 2025/2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah secara resmi memasukkan pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) sebagai mata pelajaran pilihan dalam kurikulum sekolah dasar di Indonesia.
internal-portal.kemdikbud.go.id
Langkah progresif ini bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan upaya strategis menanamkan fondasi literasi digital sejak dini agar anak-anak tidak hanya menjadi konsumen pasif teknologi, tetapi juga pencipta yang kritis dan bertanggung jawab.
Pembelajaran koding di sekolah dasar tidak dimaksudkan untuk mencetak programmer cilik semata, melainkan melatih berpikir komputasional—kemampuan memecah masalah kompleks menjadi langkah-langkah logis, sistematis, dan terstruktur.
www.menpan.go.id
Sementara itu, pengenalan kecerdasan artifisial bertujuan membekali siswa dengan pemahaman dasar tentang cara kerja teknologi cerdas, sekaligus menanamkan kesadaran etis dalam memanfaatkannya. Tiga fondasi utama yang harus ditanamkan dalam kurikulum AI untuk sekolah dasar adalah: etika penggunaan teknologi, literasi digital kritis, dan tanggung jawab sosial dalam berinteraksi dengan sistem cerdas.
ugm.ac.id
Pendekatan pembelajaran yang efektif untuk anak usia sekolah dasar harus bersifat ramah anak, menyenangkan, dan bermakna. Koding dapat diperkenalkan melalui dua jalur: unplugged coding (aktivitas tanpa komputer seperti permainan papan atau gerakan tubuh) dan plugged coding (menggunakan platform visual seperti Scratch Jr. atau Blockly yang dirancang khusus untuk anak-anak).
guruinovatif.id
Demikian pula, konsep AI dapat dijelaskan melalui analogi sehari-hari—misalnya membandingkan cara kerja AI dengan otak manusia yang belajar dari pengalaman—disertai aktivitas kolaboratif yang mengasah kreativitas dan empati.
Yang tak kalah penting, integrasi koding dan AI dalam pendidikan dasar harus selaras dengan nilai-nilai karakter dan pendekatan lintas disiplin. Pembelajaran tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi dikaitkan dengan:
Nilai kejujuran saat menggunakan AI sebagai asisten belajar (bukan untuk menyontek),
Rasa ingin tahu dalam mengeksplorasi cara kerja teknologi,
Tanggung jawab sosial dalam menciptakan solusi digital yang bermanfaat bagi lingkungan dan sesama,
Kedisiplinan dalam menyusun alur logika yang rapi dan terstruktur.
Dengan demikian, pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial di sekolah dasar bukanlah sekadar penambahan mata pelajaran baru, melainkan transformasi paradigma pendidikan: dari menghafal menjadi berpikir kritis, dari pasif menjadi kreatif, dan dari individual menjadi kolaboratif. Melalui pendekatan yang tepat, kita tidak hanya membekali anak-anak dengan keterampilan abad ke-21, tetapi juga menumbuhkan generasi yang bijak, berakhlak mulia, dan siap menjadi arsitek peradaban digital yang berkeadilan.
www.menpan.go.id