Universitas Bung Hatta Achieves the highest level of Institutional Accreditation
Refleksi Kritis atas Ucapan “Selamat Hari Baden-Powell”
Setiap tanggal 22 Februari, sebagian kalangan kepramukaan di Indonesia mengucapkan “Selamat Hari Baden-Powell” atau Founder’s Day untuk mengenang hari lahir Robert Baden-Powell. Tradisi ini merupakan bagian dari kultur global gerakan kepanduan dunia. Namun, pertanyaan reflektif yang patut diajukan adalah: kepada siapa sebenarnya ucapan “selamat” itu ditujukan? Dan dalam kerangka sejarah Indonesia, apakah ucapan tersebut memiliki makna kebangsaan?
1. Antara Tradisi Global dan Kesadaran Nasional
Tidak dapat disangkal bahwa Baden-Powell adalah pendiri gerakan kepanduan yang awalnya ditujukan untuk pemuda-pemuda Inggris. Ia merumuskan metode pendidikan karakter berbasis pengalaman lapangan militernya yang kemudian menyebar luas. Namun, refleksi kritis menuntut kita untuk tidak berhenti pada fakta global, melainkan menempatkannya dalam konteks sejarah nasional Indonesia.
Gerakan kepanduan di Indonesia berkembang dalam situasi kolonial Hindia Belanda, dan Inggris adalah negara sekutunya. Kaum bumiputra justru membangun kepanduan sebagai sarana pembentukan karakter nasional dan semangat kemerdekaan. Dalam momentum Sumpah Pemuda, istilah “pandu” telah menjadi simbol generasi muda Indonesia yang bersatu, bukan simbol loyalitas terhadap imperium Inggris atau Belanda.
Maka, ketika ucapan “Selamat Hari BP” dilontarkan, pertanyaan mendasarnya bukan sekadar soal boleh atau tidak, tetapi soal kesadaran historis: apakah kita sedang memperingati tokoh pendidikan dunia, atau tanpa sadar meminggirkan narasi perjuangan kepanduan Indonesia sendiri?
2. Refleksi atas Makna “Selamat”
Kata “selamat” identik dengan perayaan. Ia biasanya ditujukan kepada subjek yang masih hidup, atau kepada komunitas yang memiliki keterikatan emosional langsung. Jika ditujukan kepada Baden-Powell, tentu secara historis ia telah wafat pada 1941. Jika ditujukan kepada anggota pramuka Indonesia, maka perlu dipertanyakan: apakah momentum tersebut benar-benar berkaitan dengan sejarah perjuangan kepanduan Indonesia?
Sebagian mungkin memaknainya sebagai bentuk penghormatan terhadap pendiri gerakan dunia. Itu sah sebagai ekspresi global citizenship. Namun, refleksi kritis mengingatkan bahwa pendidikan karakter tidak boleh tercerabut dari akar kebangsaan sendiri. Kepanduan Indonesia melahirkan tokoh-tokoh perjuangan (seperti Agus Salim, Bung Tomo, Jenderal Soedirman), membentuk kader yang kemudian berperan dalam revolusi kemerdekaan, bahkan jauh sebelum TNI resmi berdiri di tahun 1945.
3. Antara Kekaguman dan Ketergantungan Simbolik
Ada perbedaan antara menghargai kontribusi sejarah dan mengultuskan figur. Menghargai berarti memahami secara proporsional: bahwa metode kepanduan lahir dalam konteks kolonialisme Inggris di Afrika Selatan, dengan latar militer dan nasionalisme Inggris itu sendiri. Mengultuskan berarti menjadikannya simbol sentral yang seolah-olah menjadi fondasi utama identitas kepramukaan Indonesia, yang anti penjajahan (baca dan cermati pembukaan UUD 1945).
Refleksi ini bukan untuk menafikan sejarah dunia, tetapi untuk mengingatkan bahwa identitas pramuka Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang bangsa sendiri. Jika setiap tahun energi simbolik kita terserap pada figur luar, sementara tokoh-tokoh kepanduan nasional kurang mendapatkan ruang peringatan yang setara, maka ada ketimpangan dalam kesadaran historis kita, atau kita sendiri yang sedang bermasalah terhadap literasi sejarah bangsa Indonesia.
4. Menggeser Fokus: Dari Personifikasi ke Nilai
Alih-alih terjebak pada personifikasi tokoh, mungkin yang lebih relevan adalah merayakan nilai-nilai: kemandirian, patriotisme, pengabdian, dan cinta tanah air. Nilai-nilai itulah yang menjadikan kepanduan Indonesia berbeda—ia tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga membakar semangat kemerdekaan.
Pertanyaannya kini bukan lagi “bolehkah mengucapkan Selamat Hari BP?”, melainkan “apakah kita sudah cukup memuliakan sejarah kepanduan Indonesia sendiri?”
Refleksi ini mengajak kita untuk bersikap dewasa secara historis: menghargai kontribusi global tanpa kehilangan jati diri nasional bangsa Indonesia. Sebab pada akhirnya, yang membentuk Indonesia merdeka bukanlah figur luar, melainkan putra-putri bangsa Indonesia sendiri yang menjadikan kepanduan sebagai jalan perjuangan.
by APS 22022026