Kotak Dialog
Pak Tole (T) : Ibu Rara tahu tidak tujuan akhir dan manfaat dari program ini?
Ibu Rara (R): Tahu banyak sih tidak Pak Tole, tapi kan pihak panitia akan menjelaskannya kepada semua peserta yang lolos seleksi.
T :Oh iya ya. Nah ... tuh panitianya datang. Yuk, kita siap-siap.
Pihak Panitia: Bapak dan Ibu yang berbahagia, kami ucapkan selamat kepada Bapak dan Ibu yang telah lolos seleksi mengikuti Program Penanaman Nilai Keberagaman bagi Ekosistem Pendidikan, Mengenal dengan Mengalami di Kemendikbudristek. Izinkan kami, pihak panitia, menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dari agenda mulia ini serta manfaat program ini untuk Bapak dan Ibu sebagai guru dan tenaga kependidikan nantinya.
Konteks Program
Bapak dan Ibu, sebelum lebih jauh kami menjelaskan apa tujuan program ini, mari sejenak kita berefleksi. Mari bertanya kepada diri kita masing-masing.
Lingkungan sekolah seperti apa yang Bapak dan Ibu dambakan untuk tempat belajar putra putri kita?
Apa yang terbayang di benak Bapak dan Ibu ketika hendak mengantarkan anak ke lingkungan sekolah yang baru?
Jika Bapak Ibu sebagai pengelola lembaga pendidikan, apakah lingkungan sekolah yang Bapak Ibu kelola tersebut sudah masuk kriteria sekolah dambaan orang tua?
Bapak dan Ibu, kita tentu sudah memahami bahwa sekolah adalah institusi yang memiliki mandat untuk menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran secara demokratis, berkeadilan dan non-diskriminatif. Para pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah diharapkan menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran yang mampu memfasilitasi peserta didik berperilaku terpelajar.
Tentu di antara Bapak dan Ibu masih ada yang bertanya, perilaku terpelajar itu maksudnya apa, ya?
Perilaku terpelajar adalah perilaku yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Perilaku ini mencerminkan peserta didik yang beriman; bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia; mandiri baik dalam proses maupun hasil belajarnya; bernalar kritis dan berwawasan luas; berkebinekaan global, yakni mampu beradaptasi dengan lingkungan global tetapi tidak meninggalkan karakter dan budaya negerinya; mampu bekerja sama dan bergotong royong; serta kreatif.
Masing-masing dari kita, baik sebagai orang tua maupun sebagai guru, mempunyai mimpi yang sama terkait dengan lembaga pendidikan tempat putra dan putri kita belajar. Kita bermimpi untuk memiliki lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan, tempat putra dan putri kita bisa tumbuh secara sehat dan kuat. Kita ingin semua peserta didik bisa belajar tanpa ada gangguan dalam bentuk apapun. Kita semua ingin memastikan bahwa institusi sekolah adalah rumah kedua tempat anak-anak membentuk jati diri dan merajut masa depannya. Di ruang-ruang sekolah ini, anak-anak tumbuh seperti kuntum bunga di musim semi. Lingkungan sekolah harus menjadi media tanam yang mendukung tumbuh suburnya serta terwujudnya Profil Pelajar Pancasila, seperti yang dicita-citakan oleh kita bersama.
Bapak dan Ibu Guru peserta program yang kami hormati.
Lalu lingkungan sekolah seperti apa yang kita dambakan? Betul sekali Bapak dan Ibu, lingkungan sekolah yang kita dambakan adalah lingkungan yang mendukung anak belajar dengan aman, nyaman, dan menyenangkan. Lingkungan yang bebas dari diskriminasi, bebas dari segala bentuk tindakan kekerasan dan intoleransi, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun psikisnya.
Jadi program ini hadir untuk memperkuat nilai-nilai keberagaman, penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, memupuk budaya saling mengenal dan menghormati terhadap kebinekaan di sekolah, mempraktikkan nilai-nilai toleransi di lingkungan sekolah dan ruang-ruang pembelajaran di kelas.
Bapak dan Ibu peserta program kebinekaan. Demikianlah konteks mengenai kenapa program ini hadir. Kami sangat berharap program ini berdampak dalam meningkatkan pemahaman toleransi dan menumbuhkan sikap toleran pada guru dan tenaga kependidikan dan menjadikan guru dan tenaga kependidikan (GTK) sebagai agen promosi toleransi kebinekaan
Program ini berhasil ketika beberapa indikator berikut tercapai:
Peserta mampu melakukan analisa terhadap konsepsi toleransi, bentuk-bentuk pelanggaran intoleransi di dunia pendidikan, serta konsep pencegahannya dengan pendekatan penanaman prinsip dan nilai moderasi dan program kebinekaan di sekolah.
Peserta mampu mempromosikan nilai-nilai kebinekaan (moderasi) baik di sekolah maupun di ruang pembelajaran.
Peserta menghayati pengalaman kebinekaan dan mampu merefleksikannya dalam konteks sekolah
Panitia: "Bapak dan Ibu peserta program kebinekaan yang kami hormati, kami sudah jelaskan mimpi yang jadi konteks program ini, dan apa tujuan serta indikator keberhasilannya, sampai disini apakah diantara bapak dan ibu ada yang mau bertanya?"
Pak Tole : "Saya boleh bertanya pak"
Panitia: "Silahkan pak Tole"
Pak Tole: "Kalau mendengar paparan tadi terkait konteks kenapa program ini dibuat, sepertinya saya menangkap ada sesuatu yang krusial di lingkup pendidikan yaitu soal kerentanan akan tindakan intoleransi, sehingga perlu ada penguatan kembali terkait pemahaman akan konsep kebinekaan. Pertanyaan pertama, apakah bapak dapat jelaskan secara detail terkait konteks berikut faktanya di lingkup pendidikan, karena kami melihat dunia pendidikan kita saat ini baik-baik saja pak? Kedua, Apa manfaat program ini bagi kita para guru, baik manfaat teoritis maupun praktisnya? terima kasih pak."
Panitia: "Terima kasih atas pertanyaannya pak Tole, kami akan jawab dari pertanyaan nomor dua dulu ya, sebab untuk pertanyaan nomor satu bapak dan ibu nantinya akan dapat jawabannya dipaparan materi programnya"
Bapak dan Ibu, Adapun manfaat yang diharapka dari program kebinekaan ini bagi guru baik secara teoritis maupunpraktisnya nanti ketika kembali ke Sekolah adalah:
Dapat memperkuat pemahaman guru baik secara konseptual maupun praktis akan terciptanya budaya toleransi yang didasarkan atas penghargaan akan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai ajaran agama, nilai-nilai budaya atau local wisdom, dan praktik baik yang sudah dilakukan oleh penggerak pendidikan di Indonesia;
Melalui pelatihan ini juga diharapkan dapat memberikan pengalaman kebinekaan yang diharapkan bisa diterapkan dan diperkuat juga dalam lingkup lingkungan pendidikan dimana kepala sekolah dan guru bertugas, sehingga budaya saling menghargai akan keragaman sebagai basis adanya sekolah yang aman dan nyaman bisa tercipta;
Output pelatihan ini juga diukur dari kontribusi peserta program (kepala sekolah dan guru) dalam ikut aktif mempromosikan budaya toleran baik di lingkungan sekolah maupun kelas.