Praktik Nilai-nilai Keberagaman di Satuan Pendidikan
Pendidikan toleransi merupakan proses di mana guru mengajarkan siswa untuk menerima perbedaan. Tidak hanya sekedar menerima, namun siswa juga diajarkan untuk dapat menghormati berbagai macam perbedaan yang ada. Bagaimana cara mengaplikasikan nilai toleransi di Sekolah?
Konsep 1: Implementasi nilai toleransi di Sekolah
Ada 2 (dua) strategi yang bisa dilakukan oleh Sekolah: (1). Memperkuat budaya sekolah (school culture) dengan nilai-nilai moderasi (toleransi), dan (2). memperkuat budaya kelas (classroom culture) dengan nilai-nilai moderasi (toleransi).
Pertama, strategi memperkuat budaya sekolah (school culture) dengan nilai-nilai moderasi, kunci sukses strategi ini ada di kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan, kepala sekolah berperan sangat vital dalam mewujudkan nilai-nilai toleransi melalui beragam aktivitas dan program yang mainstreaming 5 (lima) nilai-nilai moderasi. Kelima nilai-nilai moderasi tersebut adalah (1). Komitmen kebangsaan (2). Cara berpikir, bersikap, dan berperilaku mengedepankan nilai-nilai moderasi/adil. (3). Kesetaraan dan Kemanusiaan (4). Berpikiran terbuka/kritis. (5). Akomodatif terhadap nilai-nilai lokal.
Konsep 2: Memperkuat budaya Sekolah dengan aktivitas kebinekaan
Metode 1
Mengenakan pakaian batik tiap tanggal 2 Oktober;
Menyelenggarakan kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan batik
seperti aktivitas (a). pameran batik di sekolah, (b).peragaana busana batik, (c). lomba membatik dengan teknik canting, (d). mengundang pembatik ke Sekolah untuk bercerita proses kreativitas mereka, dll
Metode 2
Napak tilas sejarah batik
merilis gift card dan tumblr bermotif batik
Metode 3
Kegiatan amal, baik secara personal atau bergabung dengan badan amal.
membagikan batik dan hadiah-hadiah lainnya untuk masyarakat yang membutuhkan.
Menghias gedung instansi sekolah dengan nuansa batik selama sepekan.
Metode 4
Memeriahkan media sosial dengan tagar batik days, atau mengenakan pakaian batik yang diupload di sosial media masing-masing.
Festival budaya adalah salah satu cara agar generasi penerus mampu melestarikan serta menyadarkan dirinya akan adanya budaya dalam masyarakatnya
Festival, dari bahasa Latin berasal dari kata dasar "festa" atau pesta dalam bahasa Indonesia. Festival biasanya berarti "pesta besar" atau sebuah acara meriah yang diadakan dalam rangka memperingati sesuatu. Sering pula disalahartikan dengan kata sayembara atau perlombaan (kompetisi).
Tujuan diadakannya festival kebudayaan yaitu untuk menambah wawasan warga sekolah dalam melestarikan kebudayaan yang terdapat di tanah air sehingga kita lebih mengerti dan dapat melestarikannya.
Manfaatnya adalah bisa mempelajari lebih luasa lagi tentang kekayaan budaya nusantara sebagai bentuk rasa cinta terhadap tanah air, dapat mengetahui budaya Indonesia. dan dapat mengenal budaya daerah lain.
Kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang membentuk jati diri suatu bangsa. kearifan lokal berarti gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, dan berniat baik. Gagasan-gagasan tersebut tertanam, dan dipatuhi oleh anggota masyarakat.
Inti dari kearifan lokal yaitu kumpulan pengetahuan berupa nilai, norma, dan aturan-aturan khusus yang berkembang. Aturan-aturan tersebut mesti ditaati dan diwariskan dari generasi ke generasi.
METODE PENGUATAN HARMONI DENGAN PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL (PROJECT LOCAL WISDOM)
Minta siswa membuat kelompok atau tim yang mereka pilih sendiri maksimal 1 tim 5 siswa)
Guru menyiapkan menu-menu project yang harus dikerjakan oleh tim
Metode aktivitas festival agama-agama
Metode 1
kenalkan anak-anak di sekolah dengan siswa yang berbeda keyakinan lewat perbedaan cara melakukan hari raya.
Sekolah bisa membuat festival hari raya agama-agama baik dari segi tata caranya, kekhasannya, makna yang ada di balik hari raya tersebut, budayanya (baju, makanan, suasananya
Metode 2
Mengenalkan kitab suci agama-agama
mengenalkan kandungan apa yang ada dalam masing2 kitab suci dengan cara membuat proyek infografis tentang kitab suci agama-agama
Metode 3
festival lagu religi agama-agama
bisa dilihat pada contoh video di atas
Metode 4
Sekolah mengundang tokoh-tokoh lintas agama (kiayi/ustad, biksu, pendeta, romo, dll) untuk menjelaskan nilai-nilai dari ajaran agama masing-masing.
Sekolah bisa berkolaborasi dengan ormas, organisasi keagamaan, majlis taklim, sekolah minggu.
Contoh festifal lagu religi agama-agama di Sekolah - https://www.youtube.com/watch?v=UREF4IDmIIw&t=2s
Konsep 3: Area memasukkan nilai toleransi di kelas
Kedua, penanaman nilai moderasi melalui penguatan budaya kelas (classroom culture). Strategi ini dilakukan dengan cara memperkuat nilai-nilai moderasi include toleransi ke dalam mata pelajaran melalui pengayaan materi ajar, menyisipkan nilai-nilai moderasi di RPP, masuk pada capaian pembelajaran, maupun pada tugas-tugas terstruktur yang harus diselesaikan oleh siswa. strategi lainnya bisa dilakukan pada konteks pengelolaan kelas yang lebih mempromosikan kebinekaan, strategi pembelajaran yang berbasis pada aktivitas yang beragam, seperti kerja kelompok yang berbasis heterogenitas siswa, memperbanyak ruang perjumpaan dengan program live in dengan yang berbeda baik dalam konteks internal maupun eksternal kelas.
Bentuk intervensi lainnya adalah pada adanya aturan kelas (tata tertib) yang mengandung nilai-nilai yang menghargai adanya perbedaan dalam aspek SARA, alat peraga atau toolkit pembelajaran yang mendorong penguatan budaya damai di kelas.
Kutipan:
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti toleransi yaitu sifat atau sikap toleran. Toleran adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Toleransi juga disebut tenggang rasa, yaitu dapat ikut menghargai (menghormati) perasaan orang lain.