Quote:
Tuhan pun tidak menciptakan manusia dengan memberikan identitas-identitas. Manusia yang tinggal di bumi memiliki kesamaan dalam hakekatnya sebagai manusia meskipun terdapat perbedaan dalam cara berpikir. (Kevin Robot)
Akhir-akhir ini, telah terjadi banyak konflik yang sering kali memakan banyak korban jiwa. Banyak nyawa yang melayang dengan percuma hanya karena konflik antara dua pihak yang saling berlawanan. Namun, apakah pernah terpikirkan oleh kita bagaimana konflik-konflik tersebut dapat terjadi? Mulai dari tawuran antarsekolah, antarkampung, antarkota, antarpendukung hingga yang paling sensitif seperti antarSARA? Dilihat dari berbagai jenis konflik yang ada, ada satu hal yang mendasarinya, yakni identitas.
Apa yang dimaksud dengan kata 'identitas'? Menurut KBBI, kata 'identitas' memiliki pengertian ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang, atau jati diri. Lalu, kamus Merriam-Webster menjelaskan lebih dalam lagi dengan mendefinisikan identitas, atau dalam bahasa Inggris 'identity' sebagai kesamaan ciri-ciri dalam hal tertentu dan ciri-ciri yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Jadi, tidak jauh untuk menyimpulkan bahwa identitas, pada dasarnya, merupakan ciri-ciri yang tertanam dan melekat dalam diri tiap manusia.
Sumber: https://www.kompasiana.com/robot7794/58b43a2fce92733b067f29f7/manusia-dan-identitas
Konsep 1: Kita mahluk dengan banyak identitas
Tidak ada orang yang persis sama di dunia ini. Seringkali perbedaan membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Ini wajar, selama kamu tetap fokus dengan mencari identitasmu sendiri. Lalu, mengapa mencari identitas diri itu penting untuk kamu?
Yuk selama 10 menit kita bersama-sama belajar tentang mengapa "penting mencari identitas diri sendiri" lewat video pembelajaran di bawah ini
Dalam video pertama ini (peacegen.id) kita belajar bahwa setiap orang punya banyak identitas, dan setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda tentang identitas yang paling penting menurut mereka.
Dan di video kedua (unicef) kita belajar bahwa mengenal diri sendiri itu bagian dari kecakapan hidup
Konsep 2: Gunakan standar diri sendiri
Pernahkah Bapak Ibu merasa bahwa handphone, jam tangan, laptop, aksesoris yang bapak ibu miliki saat ini Bapak Ibu merasa tidak pantas untuk dibawa ke sekolah atau lingkungan kerja hanya karena mereknya yang kurang terkenal? Pernahkan Bapak Ibu menemukan seorang teman yang mau mentraktir makan harus pesan jenis makanan dengan merek tertentu? Pernahkah kalian menjumpai seorang kenalan yg tidak mau keluar rumah hanya karena program dietnya belum berjalan dengan baik karena merasa kurang cantik atau ganteng? Sebenarnya standar baik, cantik, keren itu siapa yang membuat? Apakah penampilan kita sudah sesuai dengan standar-standar tersebut, ataukah standar tersebut kita sendiri yang menciptakan? Yuk kita cari tahu jawabannya dalam video berikut. yuk kita cari tahu jawabannya di video berikut:
Konsep 3: Welas asih pada diri(self compassion)
Self-compassion berasal dari kata compassion yang diturunkan dari bahasa Latin patiri dan bahasa Yunani patein yang berarti ‘menderita, menjalani, atau mengalami’. Self-compassion merupakan konsep baru yang diadaptasi dari filosofi Buddha yang memiliki definisi secara umum sebagai kasih sayang diri.
Self-compassion adalah sikap kasih sayang atau kebaikan terhadap diri sendiri saat menghadapi masalah dalam hidup serta menghargai segala bentuk penderitaan, kegagalan, dan kekurangan diri sebagai bagian dari hidup setiap manusia.
Kristin Neff, psikolog Universitas Texas di Austin, mengembangkan self-compassion scale yang hampir selalu digunakan dalam penelitian tentang self-compassion. Neff (2003) menjelaskan bahwa self-compassion terdiri dari enam komponen.
Sumber: https://www.indopositive.org/2019/11/self-compassion-pengertian-komponen-dan.html
Ada 6 (enam) komponen Self Compassion
Merupakan kemampuan seseorang untuk memahami dan menerima diri apa adanya serta memberikan kelembutan, tidak menyakiti atau menghakimi diri sendiri.
Merupakan aspek kebalikan dari self-kindess, yaitu menghakimi dan mengkritik diri sendiri. Self-judgement adalah ketika seseorang menolak perasaan, pemikiran, dorongan, tindakan, dan nilai diri sehingga menyebabkan individu merespon secara berlebihan dengan apa yang terjadi. Individu sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan self-judgement.
(3). Common Humanity
Common humanity adalah kesadaran bahwa individu memandang kesulitan, kegagalan, dan tantangan merupakan bagian dari hidup manusia dan merupakan sesuatu yang dialami oleh semua orang, bukan hanya dialami diri sendiri. Komponen mendasar kedua dari self-compassion adalah pengakuan terhadap pengalaman manusia bersama.
Merupakan kebalikan dari aspek common humanity, dimana ketika individu dalam keadaan yang sulit cenderung merasa dirinya yang paling menderita di dunia. Muncul perasaan bahwa individu mengalami segala bentuk kesulitan sendirian dan bertanggung jawab sendiri atas segala bentuk kesulitan yang dialami sehingga akan mengisolasi diri dari orang lain.
Mindfulness adalah melihat sesuatu seperti apa adanya, tidak ditambah maupun dikurangi, sehingga respon-respon yang dihasilkan dapat lebih efektif. Dengan mindfulness ini individu dapat sepenuhnya mengetahui dan mengerti apa yang sebenarnya dirasakan.
Over identification adalah kebalikan dari mindfulness yakni reaksi ekstrim atau reaksi berlebihan individu ketika menghadapi suatu permasalahan. Over identification diartikan sebagai terlalu fokus pada keterbatasan diri sehingga pada akhirnya menimbulkan kecemasan dan depresi.