Mengenal Indonesia, negeri damai aneka rupa dan warna, bisa dilakukan juga lewat lagu dan keragaman pakaian adat yang sangat kaya di seluruh Nusantara. Yuk kita tonton terlebih dahulu video berikut:
Konsep 1: Makna toleransi: toleransi mahal dan toleransi murah
Film animasi ini memberikan kita inspirasi praktik baik toleransi yang ditunjukkan oleh tokoh seperti Mahatma Ghandi (Hindu) dari India, seorang teolog berkebangsaaan Jerman Dietrich Bonhoeffer (Katolik), serta belajar dari Ki Bagus Hadikusumo (Islam) yang menjadi sosok pejuang toleransi sejati. Toleransi dimaknai sebagai kesediaan melakukan pengorbanan untuk kepentingan bersama saat kita punya kekuatan mendahulukan kepentingan kelompok sendiri.
Dalam animasi ini juga dijelaskan apa definisi toleransi serta apa saja macam-macam toleransi, seperti toleransi mahal (costly tolerance) yang sampai mengorbankan jiwa untuk sebuah sikap toleran terhadap yang berbeda, dan ada juga konsep toleransi murah, suatu sikap tidak saling menggangu, tapi juga tidak saling membantu atau dikenal dengan istilah toleransi pasif.
Sumber video dari peacegen: https://www.youtube.com/watch?v=ISNK3Wb1UkY
Konsep 2: Beragam praktik toleransi di pelbagai pelosok negeri
Kisah Indahnya Toleransi
Ini kisah dari Sawai, Pulau Seram, Maluku. Wilayah tersebut merupakan satu-satunya tempat di provinsi Maluku yang tidak terkena kerusuhan (1999-2004). Kepala Sekolah SMPN 2 Sawai saat itu mengumpulkan warga sekitar dan mengucapkan Hapwama, yang berarti semua saling menggendong, alias semua adalah saudara tanpa melihat agama. Ketika ada kaum Nasrani dari luar wilayah datang menghasut, warga Sawai yang Kristen lah yang mengusirnya. Begitu pula ketika ada kaum Muslim yang datang menghasut, warga Sawai yang Muslim lah yang mengusirnya. (dikisahkan oleh Heny Supolo Sitepu, Yayasan Cahaya Guru, Beritasatu.com, 2021)
Kisah lain datang dari Pekojan Jakarta Barat. Di perkampungan di pinggir Kali Angke ini keturunan Arab, Cina dan Betawi masih memelihara tradisi saling membantu dan menghargai antarumat yang sudah berlangsung sejak abad ke 17. Toleransi kehidupan beragam itu terlihat pada bulan Ramadhan ini. Warga keturunan Cina akan membantu warga keturunan Arab yang menjalankan ibadah puasa. Misalnya pada Minggu malam, ketika warga muslim menggadakan pengajian di bulan Ramadan di depan masjid warga keturunan Cina yang tinggal di sekitar masjid merelakan jalanan depan rumah mereka ditutup, bahkan memberikan bantuan berupa aliran listrik untuk penerangan. (BBC News, 2010)
Dari Surabaya, kisah toleransi ditunjukkan oleh seorang guru bernama Imam Syafii (muslim) dan beberapa rekannya diundang rapat persiapan festival ekstrakurikuler SMA sederajat se-Surabaya di SMA Katholik St Louis. Lalu ketika rapat yang dihadiri para kepala sekolah itu memasuki waktu istirahat, ia dan beberapa rekannya ini hendak makan siang serta melaksanakan salat zuhur. Imam mengungkapkan jika saat itu, pihak sekolah sudah menyediakan tempat salat di salah satu ruangan yang nyaman. Namun ketika mereka mulai mengambil air wudu, rupanya pihak sekolah terlihat dengan tergesa-gesa berusaha mencopot salib yang terpasang di dinding ruangan tersebut. Melihat hal itu, Imam langsung meminta pihak sekolah untuk tidak mencopot salib yang ada di ruang tersebut. Kemudian, Imam dan beberapa rekannya ini melanjutkan ibadah salat zuhur dengan khusyuk di ruangan itu. (Brilio.net, 2018)
Dari bumi cendrawasih, Timika, Papua. Sebanyak 65 Pemuda dan pemudi lintas agama ikut mengamankan pelaksanaan shalat Idul Fitri 1440 Hijriah. (Kompas.com, 2019)
Kisah lain datang dari Bandung, Rusli Ginting, dosen di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, menoleransi waktu berbuka dan mentraktir makanan bagi mahasiswanya yang sedang berpuasa. Kisahnya diunggah Andi Triwahyudi (22), salah satu mahasiswa yang mengikuti kuliah Rusli, di media sosial Facebook. Saat mendengar suara azan Maghrib di tengah kuliah, Rusli segera menghentikan kegiatan dan mempersilakan mahasiswanya yang berpuasa untuk berbuka puasa. "Beliau bilang, 'sudah azan ya, karena ini Ramadhan, maka bapak memberikan waktu 30 menit untuk berbuka puasa bagi yang Muslim, yang tidak berpuasa pun silakan beristirahat. Eh sebentar Bapak punya rezeki sedikit untuk kalian'," ujar Andi yang berkuliah di Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen S1. Tidak beberapa lama kemudian pak Rusli membawakan mereka kue coklat dan teh kotak untuk disantap mahasiswa yang sedang berpuasa. (Kompas.com, 2019)
Kisah toleransi dari masa ke masa, adalah terpatri pada masjid menara Kudus. dimana bentuk menara masjid berkontruksi susunan batubata merah bercirikan candi Hindu di Jawa. nilai toleransi yang lain yang diajarkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya, yakni dengan melarang menyembelih sapi untuk dikonsumsi. Tak hanya itu, sapi juga ditempatkan di halaman masjid ketika itu. Langkah itu diharapkan bisa diikuti oleh seluruh pengikut Sunan Kudus lantaran sapi dianggap sebagai binatang suci bagi umat Hindu.
Konsep 3: Tantangan intoleransi
Berapa banyak anak muda zaman sekarang yang bersikap radikal ataupun intoleran? Jumlahnya bisa dilihat dari video yang diolah dari hasil survei peneliti PPIM UIN terhadap sifat beragama generasi Z.
Sumber video dari Convey Indonesia: https://www.youtube.com/watch?v=eHOzggORpVk
Konsep 4: Hebat jadi moderat
Moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring, dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal (local wisdom). Tidak saling mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran.
Moderasi beragama sangat erat terkait dengan menjaga kebersamaan dengan memiliki sikap ‘tenggang rasa’, sebuah warisan leluhur yang mengajarkan kita untuk saling memahami satu sama lain yang berbeda dengan kita
Sumber: Akhmadi, A. (2019). Moderasi Beragama dalam Keragaman Indonesia. Inovasi-Jurnal Diklat Keagamaan, 13(2), 45-55. https://bdksurabaya.e-journal.id/bdksurabaya/article/download/82/45
Komitmen kebangsaan
Cara berpikir, bersikap, dan berperilaku moderat
Kesetaraan dan Kemanusiaan
Berpikiran terbuka dan kritis
Akomodatif terhadap nilai-nilai lokal
https://bit.ly/3AYQu5T (Buku saku Moderasi Kemenag)
Dengan merujuk pada rumusan para ulama dalam KTT Bogor yang menyepakati 9 (sembilan) nilai moderasi beragama yaitu:
Moderat (jalan tengah),
Adil (berperilaku proporsional dan adil dengan penuh tanggungjawab),
Toleransi (mengakui dan menghormati perbedaan),
Musyawarah/konsensus),
Reformatif
Inisiatif mulia
Muwathanah/citizenship (mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan).
Ada dua nilai lagi yang disinggung oleh Kementerian Agama dalam buku saku moderasi beragama yaitu (a). anti kekerasan, dan (b). ramah budaya.
https://www.nu.or.id/post/read/90208/bogor-message-dan-kembalinya-moderasi-islam
Antara Lima Prinsip Moderasi dan Profil Pelajar Pancasila
Prinsip komitmen kebangsaan mendukung terbentuknya profil pelajar yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, terutama akhlak terhadap negara.
Prinsip bersikap moderat mendukung profil pelajar yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, terutama akhlak terhadap sesama manusia.
Prinsip kesetaraan dan kemanusiaan mendukung profil pelajar yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, terutama akhlak terhadap sesama manusia, serta profil pelajar yang bersedia bergotong royong, yakni semangat kolaborasi, peduli, dan siap berbagi.
Prinsip berpikiran terbuka dan kritis merupakan semangat berpengetahuan sebagai basis dalam menerapkan moderasi. Ini mendukung profil pelajar yang berpikiran kritis (critical thinking).
Prinsip akomodatif terhadap nilai-nilai lokal mendukung profil pelajar yang berkebinekaan global, yakni pelajar yang menghargai dan mengenal budaya.
Islam : menjelaskan pentingnya bersikap moderat dalam beragama dengan konsep wasathiyyah/tawassuth
Ajaran Kristen : meletakkan konsep hidup harus seimbang pada konsep golden rule
Ajaran Katolik : meletakkan ajaran moderasi ini dalam konsep nostra aetate
Buddha : menamakan konsep moderaasi dengan madyamika
Hindu : menamakan konsep keseimbangan dengan yuga
Khonghuchu : menamakan konsep keseimbangan dengan konsep yin dan yang
Kepercayaan : Moderasi bisa digali pada aliran Sapta Dharma di Kediri, Wetu Telu di Lombok NTB, suku Badui, Tengger di Probolinggo, Kepercayaan Ugamo Malim suku Batak Toba, Samosir, Sumatera Barat, dan Penghayat Kapribaden di Purworejo Jateng.
Kearifan lokal merupakan nilai, ide, kearifan, pandangan lokal yang bijak yang tertanam dan dipatuhi oleh para anggota masyarakat. Kearifan lokal pada umumnya diwariskan dari mulut ke mulut. Kearifan lokal ada dalam cerita rakyat, lagu, peribahasa, dan permainan rakyat.
Kehadiran kearifan lokal bukanlah wacana baru dalam kehidupan kita sehari-hari. Kearifan lokal sebenarnya hadir bersamaan dengan terbentuknya masyarakat kita, masyarakat Indonesia. Eksistensi kearifan lokal menjadi cermin nyata dari apa yang kita sebut sebagai hukum yang hidup dan tumbuh dalam masyarakat. Sesuai laporan The World Conservation Union (1997), dari sekitar 6.000 kebudayaan di dunia, 4.000-5.000 di antaranya adalah masyarakat adat. Ini berarti bahwa masyarakat adat merupakan 70-80 persen dari semua masyarakat di dunia. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berada di Indonesia yang tersebar di berbagai kepulauan.
Contoh penerapan kearifan lokal ditunjukkan di Desa Kanekes, Provinsi Banten, yang berupa larangan untuk menggunakan alat transportasi, listrik, alat elektronik, hingga sabun dan pasta gigi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga alam dari pengaruh modernisasi, termasuk produk kimia.
Suku Baduy masih menekuni usaha bertani dan bercocok tanam sebagai mata pencaharian mereka. Tidak sedikit dari mereka yang memilih mencari madu ke hutan untuk kemudian dijual. Beberapa di antaranya juga menenun kain, selendang, dan sarung, atau membuat tas dari serat akar-akar pohon sebagai produk khas daerah.
Contoh lain kearifan lokal bisa dibaca di https://dosensosiologi.com/contoh-kearifan-lokal/
Dalam aspek kesehatan pengendalian covid 19, pemerintah bersikap moderat dengan tetap menerapkan PPKM. Namun di sisi lain tidak serta-merta menutup kran ekonomi (lockdown.)
Penggunaan media sosial di kalangan anak milenial dengan tidak menghilangkan aspek kreativitas dan inovasinya, tetapi di sisi lain tetap menjaga jangan sampai medsos digunakan untuk penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.
Budaya mudik baik saat menyambut Hari Raya idul Fitri maupun saat libur Natal dan tahun baru adalah contoh moderasi dalam budaya. Kita diajari untuk tetap menyadari dari mana kita berasal.
Ikat kepala khas Banyuwangi yang disebut udeng (mudeng berarti paham) merupakan kain yang digunakan sebagai ikat berbentuk bujur sangkar atau segitiga. Konsep bujur sangkar mengacu pada konsep soko papat, artinya harus selalu ada di tengah untuk keseimbangan, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar.
https://kumparan.com/kumparantravel/mengenal-udeng-ikat-kepala-banyuwangi/full
Untuk menutup topik ini, kita saksikan satu fragmen tentang toleransi dengan judul "Satu dalam Kita". Semoga lewat video ini kita semakin paham dan sadar bahwa budaya toleransi di segala ruang harus selalu dipraktikkan untuk menjaga keutuhan dan kesatuan negeri tercinta ini.
Sumber lain:
Tentang Toleransi Terhadap Perbedaan (Bicara Toleransi https://www.youtube.com/watch?v=idiQVmNzdDE