Hari Film Nasional, Storytelling, dan Mengajar

Selamat Hari Film Nasional 2022

Masa Lalu

Hari Film Nasional diperingati tiap tanggal 30 Maret karena pada tanggal tersebut pada tahun 1950, film Darah dan Doa memulai syuting hari pertamanya. Yang makin menarik, film tersebut disutradarai oleh orang Indonesia dan diproduksi oleh rumah produksi Indonesia untuk pertama kalinya.

Masa Kini

Berhasilnya film “Coda” memenangkan piala Oscar, menjadi hal yang menarik untuk memahami besarnya dampak dari suatu cerita. Selaras dengan yang diungkapkan Pellowski (Dalam Nurcahyani, 2010) bahwasannya bercerita adalah suatu keterampilan untuk menyampaikan suatu informasi dalam bernarasi.

Well, KETERAMPILAN.

Seringkali keterampilan didefinisikan sebagai “gift” dari Tuhan, atau kita seringkali menghindari tantangan dengan, “ah, gue ga bakat di situ.” Kalau ga bakat di situ artinya bakat di sana ya?

Iya dong.

Iya apa?

Hmm

Padahal, pengertian keterampilan menurut Hari Amirullah adalah suatu perbuatan dalam mengembangkan proses diri untuk terus menerus belajar.

Konsep tersebut sejalan dengan kutipan terkenal “Guru yang berhenti belajar, sebaiknya berhenti mengajar,” dari sekretaris Pembina Indonesia Bermutu (IB), Dr. Deni Hardiana, M.Si.

(Kutipan tersebut sangat jelas jadi tidak perlu saya interpretasikan ya )

Kita (Pendidik) kerap kali menggaungkan konsep keterampilan abad ke-21 agar dapat diterapkan pada siswa/I kita, tetapi kitanya sendiri apakah sudah menerapkan konsep tersebut?

Alih-alih hanya sekedar saling menyalahkan, bagaimana kalau kita coba saja sekarang?

Mari kita tengok sedikit konsep mengenai Keterampilan abad ke-21 ini yang meliputi berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas dan inovasi, komunikasi, dan kolaborasi.

Pada kesempatan kali ini mari kita coba rayakan Hari Film Nasional untuk menerapkan Keterampilan Abad ke-21 melalui “The power of Storytelling.

(well, babak utama baru dimulai, hehe)

Di dalam menulis fiksi, penulis diwajibkan untuk membuat sinopsis agar ceritanya lebih terarah dan menarik tentunya, serta lebih mudah untuk dianalisis tindak lanjutnya.

Meskipun sinopsis dimulai dari opening, tetapi opening tidak harus dimulai dari proses perkenalan yang panjang. Kenapa? Cobalah posisikan diri kita sebagai penonton.

Sama halnya seperti proses KBM yang tidak harus dimulai dari menalar dan mengingat, seperti yang dijelaskan dalam platform “Merdeka Mengajar” proses belajar dapat dimulai dari mengintegrasi, karena proses berpikir dan bernalar dilakukan sepanjang hayat. Cobalah posisikan diri kita sebagai murid.

Dunia perfilman butuh banyak  waktu untuk menulis cerita dan memvisualkannya. Namun, kenapa guru yang punya sedikit waktu dipaksa untuk membuat cerita yang bagus setiap harinya?

(bisa ajja sih harusnya, coba lanjutin bacanya)

Sinetron? FTV? Kejar Tayang?

Mereka kan punya waktu yang pendek untuk menulis, tetapi laris-laris ajja tuh, penontonnya banyak. How?

Yap, mungkin mereka memiliki jangka waktu yang pendek, tetapi apakah kualitasnya dapat dijamin?

Bukan mengumpat/ menyepelekan, hanya saja faktanya seperti itu bukan?

Ada mindset yang mau kita ubah agar produk local dapat berkembang, tetapi nyaman dan suka pada satu titik kadang membuat kita enggan menerima yang lain dan enggan mendengar masukan.

Pada perayaan hari film kali ini banyak sekali harapan agar kualitas bercerita film Indonesia semakin meningkat dan dikenal.

Hal tersebut mengingatkan saya akan pentingnya kemampuan bercerita yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, terutama saat film “Coda” berhasil memenangkan piala Oscar dengan produksi yang minim budget.

The Power of Storytelling” sangat menjadi highlight pada berbagai diskusi.

Pada tulisan ini saya tidak akan membahas secara mendalam seputar Hari Film Nasional dan film “Coda” sendiri.  Melainkan, saya ingin sedikit bercerita seputar menautkan pembelajaran dengan struktur bercerita yang menarik berdasarkan pengalaman-pengalaman saya.

(mencoba menerapkan keterampilan abad ke-21, hehe)

Maka dari itu berikut sedikit inovasi (paling tidak buat saya ya hehe) yang saya lakukan untuk mengajar (baca: mendidik)

Muatan Lokal

Premis: seorang guru ingin mengajarkan mulok (Bahasa Sunda) pada siswa/inya, tetapi untuk berbahasa Indonesia sehari-hari saja sudah cukup sulit bagi mereka.

Sinopsis:

Pak Dodi (35) menyanggupi tawaran Kepala Sekolah untuk mengajarkan mapel Bahasa Sunda meski tidak berlatar belakang pendidikan Bahasa Sunda. Beliau menerima tawaran itu karena melihat banyak siswa/inya yang tidak mengenal budaya Indonesia. Melalui sesi Bahasa Sunda, Pak Dodi percaya dapat mengenalkan budaya-budaya Tanah Sunda sebagai langkah awal membuat siswa/I tertarik akan budaya Indonesia.

Siswa/I hanya terdiam saat membaca Learning Program mapel Bahasa Sunda. Pak Dodi memulai kelasnya dengan membuka kelas seperti biasa, cukup ramai saat opening, namun saat sudah memulai penjelasan dengan PowerPoint kelas hanya terdiam dan tidak ada interaksi.

Kelas pun selesai, tetapi Pak Dodi tidak cukup senang akan sesi Bahasa Sunda pertamanya. Semangat pak Dodi untuk mengenalkan budaya Indonesia pun luntur.  Karena mendapatkan sedikit sesi untuk mengajar Bahasa Sunda dan harus menyelesaikan banyak Kompetensi Dasar, Pak Dodi pun berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan semua materinya tanpa memperhatikan muridnya.

Term 1 pun berakhir. Pak Dodi menemukan kembali semangatnya saat mengingat pengalamannya tinggal di Sukabumi. Beliau menjadi fasih karena belajar langsung dari teman-temannya dan tidak memaksakan untuk kejar target.

Beliau memulai dengan membiasakan kelas untuk berbicara Bahasa Sunda tiap kali pembukaan dan/ memahami kata-kata dasar yang biasa diucapkan. Tentunya, kata-kata tersebut tidak dituliskan dalam PowerPoint melainkan melakukan interaksi dan dicari bersama-sama dalam kelas. Banyaknya kosa kata baru yang dianggap lucu oleh siswa/I semakin menghidupkan kelas.

Siswa/I pun semangat dalam mengikuti sesi Bahasa Sunda dan mulai menerima kelas tersebut.

Tulisan di atas merupakan contoh cerita dalam kelas yang sudah pernah saya praktikkan sendiri. Tentu saja, ruang kelas bukan cerita yang bisa kita tentukan. Anak-anak bukan aktor dan aktris yang bisa kita paksakan mengikuti skenario kita. Namun, melalui cerita, kita dapat menganalisis kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang akan muncul dalam kelas apabila metode yang kita terapkan itu-itu saja. Hingga pada akhirnya, ruang kelas bisa kita arahkan pada interaksi yang lebih bermakna dan terasa dekat dengan kehidupan kita.

Dan yang paling penting, kita kembali mengingat peran kita sebagai seorang guru.

Saya yakin, akan adanya kita lelah dengan rutinitas mengajar kita, mungkin kelelalahan itu muncul karena kelas kita hanya begitu-gitu saja? Hehe

Semoga produksi film local mampu menjadi tuan rumah di Negeri ini. Agar kita dapat kembali menemukan arti akan peran yang sedang kita jalani.

Cobalah bercerita, saya yakin, tiap mata pelajaran punya cerita menariknya masing-masing.

Learning is not watching a video, learning is taking action and seeing what happens ~ Seth Godin