Bahasa Daerah, Perlukah Dipelajari?


UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai International Mother Language Day.

Dikutip dari NatGeo, Indonesia memiliki banyak bahasa etnis, hingga lebih dari seratus bahasa.

Dalam pembahasan ini, akan saya kerucutkan bahasa daerah menjadi muatan lokal, muatan lokal yang ada di suatu sekolah, jadi tidak literally bahasa daerah yang sudah naturally dari kita atau keluarga.  Konsepnya, kalau di sekolah, besar kemungkinan bahwasannya siswa/I itu beragam, datang dari latar belakang yang berbeda dan datang dari daerah asal yang berbeda dan tentu saja punya bahasa daerah yang berbeda.

Namun, kalau sudah memilih satu sekolah, let’s say sekolah tempat saya megajar sekarang. SMP di Depok, muloknya Bahasa Sunda, jadi semua siswa/inya wajib ikut kelas Bahasa Sunda.

Tapiii nih sebagai seorang guru kita juga harus mempertimbangkan value-value lain sebelum kita mengajar, terutama bahasa daerah.

Maka dari itu, bahasa daerah di sini maksudnya mulok ya, yang dekat dengan saya dan yang sesuai dengan pengalaman saya. Jadi, saya membagi tujuan mengajar Bahasa Sunda ini menjadi 2:

Maka dari itu, beberapa pertemuan awal saya membiasakan siswa/I untuk mengenali kosa kata sehari-hari bahasa Sunda dan membuat persetujuan untuk menerapkan itu saat sesi Sunda dan saat harus mengucapkan kosa kata tersebut. Maksudnya,

Tapi bukan berarti ini jadi kursus bahasa Sunda level dasar yaaa hehe

Sambil kita belajar kosa kata sehari-hari kita juga mengikuti silabus pemerintah. Ngga muluk-muluk sih tbh, syukur kalo mereka paham secara keseluruhan, tapi paham sampai basicnya ajja udah syukur juga. Tau materi itu tuh apa, fungsinya buat apa, dan aspek-aspek lain. Selain kosa kata sehari-hari, mereka juga dapet kosa kata tambahan buat dimasukin kamus Bahasa Sundanya mereka hehe

Jadi kalau terdengar Bahasa Sunda sebagai mulok di sini tidak terlalu dipaksakan mungkin benar, karena kalau dipaksa mungkin mereka bisa tapi lama ingatannya kita tidak tau sepanjang apa. Ya paling tidak mereka masih inget lah wilujeng enjing dan kumaha damang, dan iya bener ada ajja yang masih inget sampai selengkap itu. Meskipun yang diingat kosa kata sehari-harinya tapi itu udah menyenangkan banget. Alhamdulillah makasih ya guys ehehe

Beda konsep mungkin ya kalau bahasa daerah, atau mungkin sebenarnya sama ajja, dibiasakan, dibuat menyenangkan, diberitahu tujuannya, bahkan mungkin kalau bahasa daerah dari kita sendiri itu akan lebih menyenangkan dan menarik. Yang penting kita sebagai orang dewasa tidak memulai dengan memaksa, bisa dengan mencontohkan, mengajak diskusi, nanti lama-lama si anak-anak kita ini akan set goalsnya sendiri buat apa sih belajar daerah?

Jadi selain belajar bahasa asing, bahasa Indonesia jangan lupa bahasa daerahnya juga ya.

Sekarang gini ajja coba kenapa anak-anak tau bahasa-bahasa gaul padahal di sekolah ga diajarin? Ya kurang lebih seperti itu konsepnya ehehe