SEGERA TERBIT PERDANA DARI AWWABIN PRESS
HUBUNGI : abdulmuid2023@gmail.com
"Mengapa di usia kepala lima, hati sering kali merasa waswas tanpa sebab yang jelas?"
Memasuki usia 50 tahun adalah sebuah perjalanan pulang. Tubuh mulai bicara melalui rasa lelah yang lebih cepat datang, dan hati mulai berbisik melalui keresahan yang sering menyapa di sepertiga malam. Namun, buku ini hadir untuk memberi tahu Anda bahwa ini bukanlah awal dari kepudaran, melainkan sebuah "Fajar Baru"—puncak kematangan intelektual dan spiritual manusia.
Sajadah Ketenangan merajut harmoni yang jarang dibahas: pertemuan antara sains modern dan hikmah ilahi. Di sini, penulis mengajak Anda membedah kegelisahan dari dua sisi yang saling menguatkan:
Secara Medis & Psikologis: Memahami bagaimana perubahan hormon, kimiawi otak, dan fungsi saraf di usia emas memengaruhi suasana hati, serta cara mengelolanya secara ilmiah.
Secara Spiritual Islam: Menemukan ketenangan (Sakinah) melalui tuntunan Al-Qur’an dan Hadits, mengubah Empty Nest Syndrome menjadi kedekatan dengan Allah, dan menjadikan setiap gerak shalat sebagai terapi fisik yang menyembuhkan.
Buku ini bukan sekadar teori, melainkan panduan praktis untuk menjadikan masa lansia sebagai masa yang paling bermakna dalam hidup. Karena pada akhirnya, kesehatan raga adalah amanah, dan ketenangan jiwa adalah bekal terbaik untuk kembali ke haribaan-Nya dengan hati yang rida.
Saatnya melangkah teduh, menjemput sakinah di atas sajadah ketenangan.
HUBUNGI : abdulmuid2023@gmail.com
Dunia hari ini sering kali terjebak dalam kekacauan karena hilangnya keselarasan. Buku ini hadir sebagai kompas untuk kembali ke jati diri melalui filosofi adiluhung Memayu Hayuning Bawana—sebuah laku hidup untuk mempercantik keindahan semesta.
Dimulai dari pengenalan diri sebagai Jagad Cilik yang harus beresonansi dengan alam (Jagad Gede), penulis membawa kita menelusuri lorong-lorong kehidupan: dari keintiman hubungan suami-istri, bakti antara anak dan orang tua, etika transfer ilmu antara guru dan murid, hingga tanggung jawab besar seorang pemimpin terhadap rakyatnya. Buku ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah undangan untuk menciptakan tatanan Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo, di mana harmoni mengalir dari akar hingga ke pucuk negeri.
HUBUNGI : abdulmuid2023@gmail.com
"TAYA: Menemukan Jejak Tuhan yang Tak Berwujud dalam Setiap Jengkal Arsitektur dan Napas Budaya Nusantara."
"Di balik hiruk-pikuk dunia materi, leluhur kita telah lama bersandar pada Sang Maha Kosong. Buku ini menyingkap bahwa Taya bukanlah ketiadaan, melainkan sumber dari segala keberadaan. Sebuah perjalanan pulang untuk menemukan nalar tauhid purba yang melampaui imajinasi, di mana 'Kosong' adalah puncak dari segala kemuliaan."
"Tauhid bukanlah barang impor. Jauh sebelum pengaruh luar menyentuh pesisir Nusantara, cahaya Kapitayan telah menyinari batin leluhur kita. Temukan bagaimana para Wali Songo menjembatani kearifan lokal ini menuju Islam dengan penuh harmoni, membuktikan bahwa bangsa ini memiliki akar spiritualitas yang Adiluhung sejak awal mula."
Segera Terbit !
Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB)
adalah sebuah wadah kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak—masyarakat, pemerintah, lembaga swadaya, dunia usaha, dan akademisi—dalam upaya mengurangi risiko bencana melalui perencanaan, edukasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan.
Pengertian FPRB
FPRB merupakan forum atau platform yang dibentuk untuk:
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana
Menguatkan koordinasi antar pemangku kepentingan
Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam penanggulangan bencana
Forum ini biasanya hadir di tingkat desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga nasional.
Mengurangi dampak bencana (korban jiwa, kerugian ekonomi, kerusakan lingkungan)
Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana
Membangun budaya sadar bencana
Mendorong kebijakan berbasis mitigasi risiko
FPRB memiliki beberapa peran penting, antara lain:
Pelatihan kebencanaan (simulasi gempa, banjir, dll)
Penyuluhan kepada masyarakat dan sekolah
Menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah
Menghubungkan berbagai lembaga terkait
Identifikasi wilayah rawan bencana
Penyusunan peta risiko dan rencana evakuasi
Mendorong pemerintah membuat regulasi yang ramah mitigasi bencana
Simulasi evakuasi bencana di desa
Pelatihan relawan siaga bencana
Penanaman pohon untuk mencegah longsor
Kampanye sekolah/madrasah aman bencana
Penyusunan rencana kontinjensi desa
Biasanya terdiri dari:
Tokoh masyarakat dan agama
Relawan dan pemuda (termasuk remaja masjid)
Aparat desa/kelurahan
Guru dan tenaga pendidikan
Organisasi sosial dan kemanusiaan
Bagi Anda yang aktif di masjid, FPRB bisa menjadi:
Program nyata remaja masjid dalam pengabdian sosial
Media dakwah berbasis aksi (amal nyata)
Sarana membangun kepedulian dan solidaritas
Misalnya:
Membentuk Relawan Siaga Bencana Masjid
Menjadikan masjid sebagai posko darurat saat bencana
Mengadakan pelatihan tanggap bencana berbasis masjid
FPRB bukan hanya forum formal, tetapi gerakan bersama untuk menyelamatkan kehidupan. Dalam perspektif keagamaan, upaya ini sejalan dengan nilai menjaga kehidupan (hifdzun nafs) sebagai bagian dari tujuan syariat.