Kisah tempe di Dusun Blimbing, Desa Parerejo, bukanlah cerita baru. Ia telah hadir sejak zaman dahulu, jauh sebelum bangsa ini merdeka. Dari penuturan para sesepuh, diketahui bahwa industri rumahan tempe di kampung ini telah berlangsung selama puluhan tahun, bahkan diduga telah ada sejak awal abad ke-20.
Salah satu narasumber penting, Mbah Romlah, menceritakan bahwa pada masa penjajahan Belanda, ia dan suaminya—
Wak Mawi seorang veteran pejuang kemerdekaan tahun 1945—memproduksi tempe yang kemudian dijual oleh istrinya ke markas Belanda. Tapi di balik aktivitas itu, mereka juga menyelipkan misi lain: mengamati pergerakan Belanda dan mengirimkan informasi kepada para gerilyawan di daerah Supit Urang, yang meliputi Parerejo, Gajahrejo, dan Capang. Bahkan, sebagian dari hasil jualan tempe itu digunakan untuk menyediakan logistik makanan bagi para pejuang.
Cerita serupa juga datang dari Haji Hakam Sodiq, yang biasa dipanggil Pak Haji Kamso. Ia menuturkan bahwa sejak kecil, ia sudah melihat sang kakek menjual tempe. Kalimat yang melekat di benaknya adalah:
"Wiwit aku isih Joko cilik, mbahku wis dodol tempe."
Ungkapan itu menyiratkan bahwa industri tempe telah menjadi tradisi turun-temurun, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Kampung Tempe Blimbing" bukan sekadar catatan sejarah. Ini adalah rekaman kehidupan tentang dusun kecil di kaki Pegunungan Arjuno yang hidup dari tempe. Lewat tangan-tangan sederhana dan tungku dapur yang terus menyala, masyarakat Parerejo membangun kekuatan ekonomi lokal, menopang gerilya di masa penjajahan, dan mewariskan nilai kerja keras antar generasi.
Buku ini mengangkat nama-nama yang jarang tercatat, kisah perjuangan yang hampir terlupa, serta harapan yang tumbuh dari aroma kedelai rebus. Sebuah persembahan untuk kampung yang menghidupi dan mendidik lewat ketekunan dan gotong royong.
silahkan dikoleksi bukunya
MINAT HUBUNGI : abdulmuid2023@gmail.com