LEGENDA YANG HILANG
Di lereng kehidupan yang sederhana, di sebuah sudut wilayah Blimbing, Desa Parerejo, hiduplah masyarakat yang menggantungkan harapan pada tanah dan langit. Pagi mereka dibuka dengan embun, siang mereka diisi kerja, dan malam mereka ditutup dengan doa-doa lirih.
Di tengah desa itu, berdiri sebuah rumah sederhana. Tak besar, tak pula mewah, namun memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Rumah itu dihuni oleh sepasang suami istri.
Mereka hidup dalam kesederhanaan, tetapi hati mereka lapang. Warga mengenal mereka sebagai pribadi yang lembut tutur katanya, ringan tangan membantu sesama, dan tidak pernah terdengar menyakiti siapa pun.
Tak banyak yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Namun dari merekalah, kelak lahir sebuah nama yang akan terus dikenang:
Mbah Kemuning.
Pasangan itu menjalani hidup dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Mereka menanam, merawat, dan memanen secukupnya. Tidak berlebihan, tidak pula kekurangan.
Mereka percaya bahwa alam bukan untuk dikuasai, melainkan untuk dijaga.
Di sekitar rumahnya, tumbuh pohon-pohon yang rindang. Angin berembus pelan, burung-burung berkicau tanpa rasa takut. Seakan alam pun merasa damai berada di dekat mereka.
Warga sering berkata,
"Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal, tapi sumber ketenangan."
Namun, sebagaimana kehidupan, ketenangan itu tak selamanya abadi.
Suatu tahun, musim berubah tanpa aba-aba. Hujan tak kunjung turun, tanah mengering, dan tanaman mulai layu satu per satu.
Ladang-ladang kehilangan harapan.
Masyarakat mulai merasakan kesulitan. Persediaan menipis, dan kecemasan perlahan tumbuh di hati banyak orang.
Dalam keadaan seperti itu, beredar kabar bahwa pasangan di rumah teduh itu masih memiliki simpanan bahan makanan.
Kabar itu awalnya berbisik.
Namun lama-lama menjadi percakapan.
Dan akhirnya sampai ke telinga orang-orang yang hatinya gelap oleh keserakahan.
Pada suatu malam yang sunyi, beberapa orang datang diam-diam menuju rumah itu.
Langkah mereka hati-hati, namun niat mereka penuh kegelisahan.
Mereka bukan datang untuk bersilaturahmi.
Mereka datang untuk merampas.
Angin malam berembus lebih dingin dari biasanya. Seolah alam sendiri merasakan bahwa sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
Saat mereka hendak mendekat, pintu rumah itu terbuka perlahan.
Seorang laki-laki keluar dengan langkah tenang.
Dialah yang kelak dikenal sebagai Mbah Kemuning.
Tanpa teriakan, tanpa ancaman, ia hanya berdiri.
Di tangannya, tergenggam sebuah pecut.
Tatapannya tenang, namun penuh kewibawaan.
Kemudian, ia mengayunkan pecut itu ke udara.
“Ctarrr!”
Suara itu bukan sekadar bunyi. Ia menggema seperti petir yang menyambar langit malam. Menggetarkan tanah, menembus dada, dan mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya.
Para perampok terdiam.
Keberanian yang mereka bawa mendadak luruh.
Sekali lagi pecut itu diayunkan.
“Ctarrr!”
Lebih keras. Lebih dalam.
Bukan hanya telinga yang mendengar, tetapi jiwa yang merasakan.
Tanpa aba-aba, mereka lari. Terbirit-birit. Tanpa berani menoleh.
Malam kembali sunyi.
Namun peristiwa itu tak akan pernah dilupakan.
Sejak malam itu, warga mulai memandang sosok tersebut dengan cara yang berbeda.
Ia bukan hanya seorang kepala keluarga.
Ia adalah penjaga.
Bukan hanya penjaga rumahnya, tetapi penjaga kedamaian desa.
Orang-orang mulai menyebutnya dengan penuh hormat:
Mbah Kemuning.
Namun, ia tetap hidup sederhana. Tidak pernah membanggakan dirinya. Tidak pernah merasa lebih dari orang lain.
Seolah ia ingin mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan untuk disombongkan, tetapi untuk menjaga.
Waktu berjalan.
Musim berganti.
Generasi pun berganti.
Rumah itu mungkin telah berubah. Sosok itu pun telah tiada.
Namun, masyarakat tidak pernah melupakan tempat itu.
Di lokasi yang diyakini sebagai jejaknya, warga menjaga dengan penuh hormat. Mereka tidak memperlakukan tempat itu sembarangan.
Bukan karena takut.
Tetapi karena tahu bahwa di sana ada sejarah, ada nilai, ada jejak kebaikan.
Dari kisah Mbah Kemuning, masyarakat mewariskan pitutur yang sederhana namun dalam:
Hormatilah peninggalan leluhur, karena di dalamnya tersimpan nilai kehidupan.
Jangan serakah dalam hidup, karena keserakahan hanya membawa kehancuran.
Gunakan kekuatan untuk melindungi, bukan menyakiti.
Hiduplah selaras dengan alam, karena alam adalah sahabat, bukan musuh.
Dan yang paling penting:
"Orang yang benar-benar kuat adalah mereka yang mampu menjaga kebaikan, meski dalam keadaan sulit."
Hingga kini, ketika malam turun dan angin berembus pelan di Blimbing Parerejo, sebagian orang berkata—
seakan masih terdengar gema pecut di kejauhan.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Melainkan sebagai pengingat.
Bahwa kebaikan selalu punya cara untuk menjaga dirinya.
Dan bahwa di tanah yang damai itu, pernah hidup seorang penjaga yang tidak mencari dikenal—
tetapi justru dikenang sepanjang zaman.
Kisah Mbah Kemuning bukan sekadar cerita masa lalu.
Ia adalah cermin.
Tentang bagaimana manusia seharusnya hidup:
dengan hati yang bersih, sikap yang rendah, dan rasa hormat terhadap warisan yang adi luhung.
Karena sejatinya, yang membuat sebuah tempat menjadi mulia bukanlah bangunannya—
melainkan nilai yang hidup di dalamnya.
Abdul Muid lahir di Jember pada tahun 1968. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Kaliwining I Rambipuji, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Kaliwining dan Madrasah Aliyah Negeri Kaliwates, Jember. Pendidikan tingginya diselesaikan di IAIN Sunan Ampel Jember, yang kini dikenal sebagai Universitas Islam Negeri KHAS Jember.
Dalam perjalanan hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi yang mendedikasikan waktu dan ilmunya untuk kemaslahatan umat, dengan prinsip hidup: “Berusaha menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.”
Ia pernah mengabdi sebagai guru, mudin, marbot masjid, perangkat desa, serta aktif sebagai pendamping masyarakat. Sejak muda, ia telah terlibat dalam berbagai organisasi seperti Pramuka, PMI, Remaja Masjid, Karang Taruna, dan Nahdlatul Ulama.
Karya-karyanya meliputi biografi tokoh, panduan keagamaan, serta buku motivasi. Baginya, menulis dan belajar adalah bagian dari ibadah yang terus menghidupkan hati dan pikiran.
Kini, ia tinggal bersama istri tercinta, Neng Firo, dan dikaruniai lima orang anak: Ilman, Iqbal, Aditya (wafat saat bayi), Wildan, dan Hanum.
Karya-karya:
Napak Tilas Perjuangan Kyai Haji Muhammad Nur dari Pekalongan (2025)
Bersama Pendidik Cerdas: Digital Parenting (2025)
Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam dan Keluarga (2025)
Alineaku: Ibuku Duniaku (2025)