LEGENDA
MBOK AYU GENDRUK SARI
DAN SUSIONO
Oleh
Abdul Muid
Babad Asal-Usul Dusun Blimbing dan Desa Parerejo
Pada zaman dahulu kala, ketika hutan-hutan di tanah Jawa masih lebat dan belum banyak dijamah manusia, terbentang sebuah wilayah sunyi di bawah kaki Gunung Arjuno. Wilayah itu berada di kawasan yang sekarang termasuk Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Pepohonan besar menjulang tinggi, akar-akarnya mencengkeram tanah yang subur, dan kabut tipis sering turun pada pagi hari menyelimuti lembah-lembah yang tenang. Sungai-sungai kecil mengalir jernih di antara bebatuan, menjadi sumber kehidupan bagi berbagai makhluk di hutan itu.
Pada masa itu manusia masih hidup berpindah-pindah. Mereka mencari tanah yang subur, air yang cukup, dan tempat yang aman untuk membangun kehidupan. Hutan dianggap sebagai tempat yang sakral, karena diyakini dihuni oleh berbagai kekuatan alam dan makhluk gaib yang menjaga keseimbangan alam.
Di masa itulah hiduplah sepasang suami istri yang kelak dikenang sebagai pembuka wilayah tersebut. Sang istri bernama Mbok Ayu Gendruk Sari, seorang perempuan yang dikenal karena kebijaksanaan dan keberaniannya. Ia bukan hanya rajin bekerja, tetapi juga memiliki kepekaan batin yang tinggi terhadap tanda-tanda alam. Banyak orang percaya bahwa ia mampu merasakan kehendak alam dan menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Di sampingnya selalu berdiri suaminya, seorang lelaki gagah bernama Susiono. Tubuhnya tegap, wajahnya tegas, dan sikapnya penuh keberanian. Ia dikenal sebagai lelaki pekerja keras yang tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan. Ada satu hal yang selalu membuatnya mudah dikenali oleh siapa saja: sebuah topi polka yang selalu ia kenakan di kepalanya.
Topi polka itu bukan sekadar penutup kepala. Menurut cerita para sesepuh, topi itu adalah pemberian seorang guru tua yang pernah mengajarkan Susiono tentang keberanian dan keteguhan hati. Sang guru berpesan bahwa selama Susiono menjaga niat baiknya untuk menolong sesama, topi itu akan menjadi pengingat agar ia tetap teguh menghadapi kehidupan.
Suatu hari Mbok Ayu Gendruk Sari merasakan bahwa mereka harus mencari tanah baru untuk kehidupan yang lebih luas. Tempat tinggal mereka saat itu mulai ramai, sementara banyak orang membutuhkan lahan untuk bercocok tanam dan membangun kehidupan.
Dengan niat baik, Mbok Ayu mengajak Susiono melakukan perjalanan mencari wilayah baru yang dapat dijadikan pemukiman bagi banyak orang. Mereka membawa perbekalan sederhana dan berjalan menyusuri hutan-hutan yang luas.
Perjalanan mereka tidaklah mudah. Mereka melewati sungai, rawa, dan lembah. Terkadang mereka harus bermalam di bawah pohon besar dengan hanya ditemani suara jangkrik dan angin malam.
Setelah berhari-hari berjalan, mereka tiba di sebuah kawasan hutan yang sangat lebat di lereng Gunung Arjuno. Udara di tempat itu terasa sejuk dan tanahnya tampak subur. Berbagai tanaman liar tumbuh dengan lebat, menandakan bahwa tanah itu kaya akan kehidupan.
Mbok Ayu Gendruk Sari memandang sekeliling dengan tenang. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan hembusan angin yang lembut di antara pepohonan.
“Tempat ini memiliki tanda baik,” katanya kepada Susiono. “Kelak di sinilah manusia dapat hidup dengan damai.”
Mendengar kata-kata itu, Susiono mengangguk mantap. Ia segera mulai bekerja. Dengan parang di tangannya, ia menebas semak-semak dan membersihkan ranting-ranting yang menghalangi jalan. Topi polkanya bergerak mengikuti setiap ayunan tangannya.
Hari demi hari mereka bekerja membabat hutan. Pohon-pohon kecil ditebang, semak-semak dibersihkan, dan perlahan terbentuklah sebuah tanah lapang di tengah rimbunnya hutan.
Di tempat itu mereka mendirikan pondok sederhana dari bambu dan daun rumbia sebagai tempat berteduh.
Namun membuka hutan bukanlah pekerjaan yang mudah. Pada suatu malam ketika bulan purnama bersinar terang, angin tiba-tiba berputar di antara pepohonan dengan suara yang menggetarkan.
Suara itu seperti bisikan yang datang dari dunia lain. Bayangan samar terlihat bergerak di antara kabut malam. Orang-orang tua percaya bahwa itu adalah penjaga gaib hutan yang tidak senang wilayahnya diganggu manusia.
Susiono bersiap menghadapi apa pun yang muncul. Namun Mbok Ayu Gendruk Sari menahannya.
Ia percaya bahwa kekuatan alam tidak harus dilawan dengan kekerasan. Dengan tenang ia menyiapkan sesaji berupa bunga, air, dan dupa.
Mbok Ayu kemudian memanjatkan doa dengan khidmat, memohon izin kepada para penjaga alam agar manusia diperbolehkan membuka lahan dan hidup berdampingan dengan hutan tanpa merusak keseimbangannya.
Setelah doa itu selesai, angin yang berputar perlahan mereda. Suasana hutan kembali tenang seperti semula. Sejak saat itu gangguan aneh tidak lagi muncul.
Lambat laun kabar tentang tanah baru yang subur itu mulai terdengar oleh orang-orang dari berbagai tempat. Beberapa keluarga datang untuk bergabung dengan Mbok Ayu Gendruk Sari dan Susiono.
Dengan semangat gotong royong, mereka bersama-sama membuka lahan yang lebih luas. Mereka membangun rumah-rumah sederhana, membuat ladang, dan menanam padi serta berbagai tanaman pangan.
Di dekat pemukiman itu tumbuh sebuah pohon belimbing yang cukup besar. Pohon itu sering menjadi tempat berteduh bagi para warga ketika beristirahat setelah bekerja di ladang.
Pada suatu hari, ada seorang lelaki tua yang sedang duduk di bawah pohon tersebut. Ia sedang nginang dan nyusur, kebiasaan orang laki-laki zaman dahulu yang mengunyah sirih sambil berbincang santai.
Ketika ia sedang asyik mengunyah sirih, datanglah seorang musafir dari daerah lain yang baru pertama kali melewati wilayah itu.
Musafir itu lalu bertanya dengan sopan,
“Pak, apa nama dusun ini?”
Namun lelaki yang sedang nginang itu salah menangkap pertanyaan. Ia mengira orang itu menanyakan buah apa yang ada di depannya.
Karena tepat di hadapannya terdapat buah dari pohon tersebut, ia pun spontan menjawab, “Blimbing.”
Padahal yang ditanyakan oleh musafir itu adalah nama dusun, bukan nama buah. Namun karena jawaban itu sudah terucap, orang-orang yang mendengar percakapan itu kemudian menyebut wilayah tersebut dengan nama Blimbing.
Sejak saat itulah dusun yang tumbuh dari hutan yang dibuka oleh Mbok Ayu Gendruk Sari dan Susiono dikenal dengan nama Dusun Blimbing.
Seiring berjalannya waktu, pemukiman itu berkembang semakin luas dan menjadi bagian dari wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Parerejo.
Masyarakat setempat percaya bahwa kisah perjuangan Mbok Ayu Gendruk Sari dan Susiono merupakan babad asal-usul Dusun Blimbing dan Desa Parerejo yang diwariskan secara turun-temurun.
Sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur pembuka desa, masyarakat juga meyakini adanya petilasan yang berkaitan dengan kisah tersebut.
Salah satunya dipercaya berada di Pemakaman Umum Blimbing, yang oleh masyarakat dianggap sebagai tempat yang memiliki hubungan dengan para pendahulu desa.
Selain itu terdapat pula sebuah sumber air yang dikenal sebagai Pemandian Sadeng di Paretinap, yang menurut cerita masyarakat berkaitan dengan perjalanan dan kehidupan Mbok Ayu Gendruk Sari serta Susiono pada masa dahulu.
Hingga kini legenda ini masih sering diceritakan oleh para sesepuh kepada generasi muda sebagai pengingat akan sejarah desa.
Legenda tersebut mengajarkan bahwa sebuah desa tidak lahir begitu saja. Ia dibangun dengan keberanian, kebijaksanaan, kerja keras, serta semangat gotong royong.
Selama masyarakat tetap menjaga nilai-nilai tersebut dan menghormati alam di lereng Gunung Arjuno, maka semangat Mbok Ayu Gendruk Sari dan Susiono akan selalu hidup dalam sejarah Dusun Blimbing dan Desa Parerejo.
DARI MENARA
HATI SEORANG MUADZIN
Sekilas Tentang Blimbing dan Masjid Al Awwabin
Dusun Blimbing di Parerejo, Pasuruan, bukanlah daerah yang sering disebut di media massa. Namun di sanalah terletak satu titik penting dalam kehidupan spiritual masyarakatnya: Masjid Al Awwabin. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga jantung dari kehidupan sosial dan keagamaan warga.
Blimbing adalah dusun dengan suasana tenang, penduduknya ramah dan hidup sederhana. Mayoritas warganya hidup dari usaha rumahan seperti membuat tempe, beternak, atau bertani. Di tengah kesibukan itu, masjid menjadi pusat penyatu—tempat semua kalangan bertemu, menyapa, dan mencari ketenangan batin.
Masjid Al Awwabin mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Pada masa muda Mbah Mun, masjid ini belum memiliki fasilitas seperti sekarang. Dulu bangunannya kecil, dindingnya sederhana, dan belum ada pengeras suara untuk azan. Namun fungsinya sudah sangat vital bagi masyarakat sekitar.
Di masjid inilah Mbah Munawi menjalani sebagian besar hidupnya. Ia bukan pengurus resmi, bukan pula tokoh besar yang duduk di depan. Tapi perannya sebagai muadzin tetap, yang tak pernah absen, menjadikannya sangat dihormati. Suara azannya adalah tanda waktu bagi warga.
Masjid Al Awwabin menjadi saksi bisu perjuangan spiritual Mbah Mun dan generasi terdahulu. Ia berdiri bukan hanya karena batu bata, tapi juga karena doa dan kerja keras banyak orang. Maka dari itu, mengenang Mbah Mun adalah juga mengenang perjalanan masjid ini.
Kini, masjid itu terus hidup dan berkembang. Tapi di antara semua kemajuan itu, nama dan suara Mbah Mun tetap melekat dalam ingatan banyak orang—sebagai bagian dari denyut ruhani dusun bahkan desa ini.
Menjaga Warisan Hati Mbah Mun
Dalam buku ini, kita diingatkan kembali bahwa kisah Mbah Mun adalah cermin dari nilai-nilai yang sangat berharga dalam kehidupan: kesabaran, ketekunan, dan keistiqomahan. Warisan seperti ini tidak bisa diukur dengan materi, tapi dengan dampak yang dirasakan dalam hati dan kehidupan banyak orang.
Kisah Mbah Mun mengajak kita untuk melihat bahwa kebaikan tidak harus besar dan heboh. Kadang, hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati tulus justru meninggalkan bekas yang paling dalam dan abadi.
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kita semua membutuhkan teladan yang mengajarkan arti kesabaran dan keikhlasan. Mbah Mun memberikan contoh bagaimana melayani dengan hati, menjaga tradisi, dan tetap rendah hati.
Mari kita jaga warisan ini dengan meneruskannya dalam perilaku sehari-hari—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun komunitas agama. Dengan begitu, suara azan dan doa yang pernah dikumandangkan Mbah Mun terus bergema, tidak hanya di masjid, tapi di seluruh lapisan kehidupan.
Semoga buku ini menjadi pengingat dan inspirasi bagi siapa saja yang membacanya, terutama generasi muda yang memegang masa depan bangsa. Mari kita terus belajar dari Mbah Mun, dan menjadikan keteladanannya sebagai cahaya di setiap langkah.
Terima kasih telah membaca kisah sederhana namun bermakna ini. Semoga Allah SWT memberkati dan menjaga kita semua dalam jalan kebaikan dan keistiqomahan.
Dapatkan bukunya Hubungi : abdulmuid2023@gmail.com