Anak yang Membawa Cahaya
Di sebuah sudut pagi,
sebelum matahari sempat mengibarkan warna,
ada seorang anak kecil
yang tertawa pelan pada angin,
seakan sedang berbisik pada dunia
bahwa ia datang bukan untuk kalah,
melainkan untuk menunjukkan
bahwa kekuatan punya banyak rupa.
Ia berjalan dengan langkah
yang tak selalu lurus,
kadang gemetar, kadang terhenti,
namun setiap jejaknya
adalah cerita yang tak dimiliki siapa pun.
Dunia mungkin menatapnya
seperti teka-teki yang tak terselesaikan,
tapi dalam hatinya,
ia adalah jawaban paling jujur
tentang apa itu keberanian.
Tangannya menggenggam mimpi
dengan cara yang berbeda,
ada yang menggenggam lewat suara,
ada yang menggenggam lewat mata,
ada yang menggenggam lewat hati
yang tak menyerah pada batas.
Dan betapa indahnya—
bahwa ia tetap bermimpi
walau dunia sering bertanya
mengapa mimpinya tak sama
seperti mimpi anak-anak lain.
Ia tidak butuh kasihan,
ia tidak meminta belas,
yang ia mau hanya ruang
untuk tumbuh sesuai bentuknya sendiri
ruang yang tak menuntutnya menjadi normal,
karena normal hanyalah kata
yang lupa bahwa manusia itu beragam.
Lihatlah senyumnya
yang muncul setelah seribu upaya,
senyum yang membuat pagi
merasa malu karena kalah terang.
Lihatlah caranya mencintai hal kecil
seekor kupu-kupu yang lewat,
sebuah suara yang lembut,
atau cahaya lampu yang berpendar
seperti bintang yang turun
untuk menemaninya.
Anak itu,
yang sering dianggap berbeda,
sebenarnya adalah pelajaran
bahwa kehidupan bisa lebih hangat
bila kita berhenti menuntut keseragaman.
Ia mengajari dunia
bahwa langkah lambat pun tetap maju,
bahwa komunikasi yang tak bersuara
tetap bisa terdengar,
bahwa cinta tidak pernah butuh definisi
untuk bisa dirasakan.
Dan di suatu hari nanti,
ketika ia tumbuh menjadi dirinya
bukan versi siapa pun,
bukan harapan orang lain,
melainkan makhluk utuh
yang ditempa oleh kesabaran,
oleh usaha yang tak terlihat,
oleh air mata dan tawa
yang sama-sama tulus
dunia akan mengangguk mengerti:
bahwa ia adalah hadiah.
Anak disabilitas,
dengan segala keunikan yang melekat,
bukanlah kekurangan,
melainkan cara Tuhan
mengajarkan kita memperluas mata,
memperhalus hati,
dan menghormati perjalanan
yang tidak selalu kita pahami.
Ia adalah cahaya
yang mungkin kecil di awal,
tapi mampu tumbuh
menjadi lentera besar
bagi siapa pun yang mau melihatnya
dengan kasih,
bukan kasihan
dengan hormat,
bukan iba.
Dan dunia,
bila mau mendengar,
akan tahu bahwa anak itu
tidak datang untuk membebani,
melainkan untuk memperindah kehidupan
dengan caranya sendiri.
AIR
Kau sangat polos
Jernih warnamu..tenang sifatmu..segar rasamu
Setiap tetesmu harapan bagiku
Suara percikanmu mendamaikan hati menyejukkan suasana
Seceguk gelas kemurnianmu menghidupkan semangatku..
Segayung siramanmu menghidupkan kebangkitanku
Tak bisa aku membayangkan bila tanpamu...
Hidup akan menjerit, kehausan meradang kalbu..
Urat-urat tanah pecah, kering, layu
Dunia pasti akan membisu..sunyi..hampa
Air tetaplah kau bertahan dengan kepedulianmu
Tetaplah mengalir sepanjang waktu
Kau sangat..sangat.. dan sangat dibutuhkan
Untuk menghidupkan dunia ini
Kopi
Pagi-pagi buka mata,
langsung cari aroma surga.
Bukan bau parfum, bukan bunga,
tapi wangi kopi yang bikin jiwa jumpalitan ceria.
Kopi hitam di cangkir kecil,
rasanya pahit… tapi nagih kaya mantan yang sulit berpindah faksi.
Belum disesap, sudah ge-er duluan,
“Tenang, aku kuat kok,” katanya padahal
sedikit tumpah saja sudah panik luar biasa.
Kadang aku tambah gula,
biar manis kayak cerita cinta.
Eh tapi kok ya kalau kebanyakan,
rasanya jadi kayak hidup:
manis di awal, ribet di belakang.
Ada kopi susu yang lembut banget,
kayak nyapa, “Hei… hari ini santai aja yuk?”
Tapi kalau diminum tiga gelas,
langsung deg-degan tanpa alasan,
kayak ketemu calon mertua.
Kopi sachet juga tak kalah keren
murah meriah, tapi berjasa besar.
Dia hadir saat tanggal tua,
ketika dompet mulai puasa,
dan ATM cuma bisa bilang:
“Coba lagi bulan depan, ya.”
Oh kopi…
kau memang bikin aku begadang,
tapi juga bikin tugas selesai.
Kau bikin jantung kencang,
tapi juga bikin semangat memantul-mantul
seperti bola karet murahan.
Jadi, meski kita hubungan toxic,
meski dokter sering bilang,
“Kurangin kafein, Pak/Bu…”
aku tetap kembali padamu,
karena tanpa kopi,
aku cuma manusia setengah sadar
yang kerja pakai mode ‘nyala-mati-nyala-mati’.
Kopi tersayang,
jangan pernah jauh-jauh ya…
Jika kau pergi,
aku tak bisa membayangkan pagi
mungkin aku baru bangun
waktu sudah Isya.
Kopi, Kau Memang Bikin Pusing… Tapi Aku Rindu