SEFT pada Pasien Hipertensi yang Mengalami Stress
SEFT pada Pasien Hipertensi yang Mengalami Stress
Penelitian yang dilakukan oleh Fatmasari et al. (2019) mengenai penggunaan SEFT untuk Menurunkan Stres pada Pasien Hipertensi
Salah satu penyebab peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi adalah stres. Stres dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Gunawan dalam, Prasetyorini & Prawesti, 2012).
Satu sesi SEFT dilakukan selama kurang lebih 15 menit dalam satu hari. Tahap pelaksanaan SEFT pada pasien hipertensi yang mengalami stres:
Pengukuran Pre-test (Sebelum intervensi SEFT)
Menggunakan skala stres sebanyak 28 item untuk mengukur tingkat stres awal berdasarkan empat dimensi, yakni gejala fisik, intelektual, emosional, dan interpersonal.
The set up
Terapis membantu subjek untuk membuka pengalaman tidak menyenangkan dan keluhan yang dirasakan..
Subjek diminta untuk mengulang kalimat set up words sebanyak tiga kali sambil menekan sore spot.
Mengetuk ringan 2 jari pada bagian karate chop
Tujuannya adalah untuk menstimulasi pusat aliran darah agar otot yang tadinya tegang jadi mengendur.
The tune in
Merasakan sakit yang dialami lalu mengarahkan pikiran ke tempat sakit.
Hati dan mulut mengatakan " saya ikhlas, saya pasrah... Ya Allah..."
Tapping
Dilakukan bersama tahap tune in
Subjek diminta untuk mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik energi meridian, sambil terus mengucapkan tune in.
Tapping akan mengurangi gelombang otak frekuensi yang berkaitan dengan neurotransmitter stres atau menguatkan yang terkait dengan relaksasi, serta menghasilkan perubahan fisiologis.
18 titik kunci dari the major energy medians dalam Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT)
Setelah Pemberian Intervensi SEFT
Untuk menilai efektivitas pemberian SEFT pada pasien hipertensi yang mengalami stres, dilakukan pengukuran dengan desain one group pretest-posttest design. Metodenya adalah sebagai berikut:
Pemberian Instrumen Skala Stres (Posttest)
Instrumen skala stres yang digunakan adalah milik Hardjana (1994) yang mencakup 4 aspek, yakni gejala fisik, emosional, intelektual, dan interpersonal.
Tujuannya adalah melihat perbedaan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.
Wawancara
Menggali informasi kualitatif mengenai kondisi subjek, dampak, emosi yang dirasakan setelah menjalani menerapkan SEFT.
Observasi
Pengamatan dilakukan secara langsung saat proses wawancara dan selama pelaksanaan intervensi
Lembar Kerja (Home Work)
Subjek diberikan tugas rumah yang bertujuan untuk memantau kegiatan yang dilakukan selama masa intervensi di luar sesi, sekaligus memastikan bahwa subjek menerapkan teknik SEFT secara rutin.
Lembar Evaluasi
Setelah seluruh rangkaian intervensi selesai, subjek diminta untuk mengisi lembar evaluasi yang memuat penialain terhadap keseluruhan pelaksanaan intervensi.
Hasil Intervensi Pemberian SEFT pada Pasien Hipertensi yang Stress
Penelitian yang dilakukan oleh Fatmasari et al. (2019) mengenai penggunaan SEFT untuk Menurunkan Stres pada Pasien Hipertensi
Rata-rata skor stress menurun dari 82,20 menjadi 56,20
Tekanan darah pasien menurun signifikan, dari 150/90 menjadi 130/80mmHg
Pasien melaporkan perubahan positif seperti tidur yang lebih nyenyak, pikiran lebih tenang, tidak mudah marah, dan merasa lebih sehat secara keseluruhan.
Kesimpulannya, pemberian SEFT mampu menurunkan salah satu faktor penyebab hipertensi yang secara tidak langsung mengurangi tekanan darah dari hipertensi itu sendiri.