World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis serius yang secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung, otak, ginjal, dan penyakit lainnya. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah bagian dari penyakit kardiovaskular (CVD) yang merupakan kondisi serius yang terjadi ketika tekanan darah dalam arteri meningkat akibat tingginya curah jantung atau resistensi perifer.
Stres dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat dan kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Gunawan dalam, Prasetyorini & Prawesti, 2012)
Dalam perspektif psikologi kesehatan, hipertensi tidak hanya dipahami sebagai gangguan medis semata, tetapi juga sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial atau yang dikenal dengan pendekatan biopsikososial.
Hipertensi termasuk salah satu penyakit kronis yang sering kali asimptomatik (tidak bergejala), tetapi berdampak besar terhadap kesehatan jangka panjang karena bisa menyebabkan stroke, gagal ginjal, dan serangan jantung.
Faktor psikologis yang dapat mempengaruhi hipertensi
Stres kronis
Reaktivitas sistem saraf simpatik
Emosi negatif (marah, permusuhan, ruminasi, depresi)
Koping yang tidak adaptif seperti John Henryism
Hipertensi yang tidak diobati dapat memengaruhi fungsi kognitif, menghasilkan masalah dalam pembelajaran, ingatan, perhatian, penalaran abstrak, fleksibilitas mental, dan keterampilan kognitif lainnya (Brown, Sollers, Thayer, Zonderman, & Waldstein, 2009).
Masalah-masalah ini sangat signifikan pada kaum muda yang mengalami hipertensi (Waldstein et al., 1996). Mengingat risiko dan cakupan hipertensi, diagnosis dan pengobatan dini menjadi sangat penting!
Sakit pada bagian kepala
Leher terasa kaku
Pandangan jadi kabur karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung, dan ginjal
Sering kelelahan bahkan mual
(Lebih lagi) Sebagian besar hipertensi ini tidak memiliki gejala!
Sekitar 5% hipertensi disebabkan oleh kegagalan ginjal dalam mengatur tekanan darah. Namun, hampir 90 persen hipertensi penyebabnya tidak diketahui.
Faktor Hipertensi yang telah teridentifikasi
Kecenderungan emosional atau tempramen dalam masa kanak-kanak dapat mendorong kenaikan berat badan di masa remaja yang dapat berdampak pada sistem kardiovaskular
Reaktivitas tekanan darah pada masa kanak-kanak dan remaja memprediksi perkembangan hipertensi di kemudian hari
Jenis kelamin:
a. Sebelum usia 45 tahun, laki-laki lebih berpotensi daripada perempuan
b. Usia 55 - 64 tahun, laki-laki dan perempuan di AS mengadapi peluang yang sama untuk hipertensi
c. Setelah usia 65 tahun, perempuan lebih berpotensi memiliki hipertensi
Status Sosial Ekonomi atau SES yang rendah
Kebiasaan merokok
Lingkungan keluarga yang penuh kemarahan kronis dapat meningkatkan risiko hipertensi, sementara pengembangan keterampilan sosial sejak dini justru dapat melindungi anak dari penyakit kardiovaskular. Faktor sosial ekonomi rendah sejak masa kanak-kanak, migrasi dari desa ke kota, serta tanggung jawab ganda pada perempuan terutama yang bekerja semakin memperparah risiko tersebut.
Pencegahan Hipertensi
Mengatasi Obesitas/ Menurunkan Kelebihan Berat Badan
Prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang- orang gemuk lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan sesorang yang badannya normal
Mengurangi asupan garam didalam tubuh
Batasi asupan garam sampai dengan kurang dari lima gram (satu sendok teh) per hari pada saat memasak.
Ciptakan Keadaan Rileks
Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akan menurunkan tekanan darah.
Melakukan Olahraga teratur
Berolahraga seperti senam aerobic atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak empat sampai lima kali dalam seminggu dapat memperbaiki metabolisme tubuh yang mengontrol tekanan darah
Berhenti merokok
Zat kimia beracun seperti nikotin dan karbonmonoksida yang dihisap dapat meningkatkan tekanan darah