Berikut beberapa jenis permainan tradisional daerah Selayar:
1. A’gasing
2. A’tojeng
3. A’lija
4. A’kontau
1. A’gasing
Gasing merupakan sejenis permainan tradisional daerah Selayar yang biasa dimainkan selepas musim hujan. Permainan gasing dipertandingkan antar kampong. Pemenangnya yaitu yang memiliki gasing yang lebih lama berputar. Gasing dibuat dari kayu bebaru, kemuning, merbau, rambai, durian atau kundang. Kayu tersebut akan diukir sehingga menjadi bentuk gasing.
Tali gasing dibuat dari rotan tapi sekarang tali gasing dibuat dari tali nilon dan tali rapia. Panjang tali gasing biasanya bergantung kepada panjang tangan seseorang. Biasanya 1 meter panjangnya. Minyak kelapa digunakan untuk melicinkan pergerakan gasing.
Cara bermain gasing adalah dengan melilitkan tali ke gasing. Terdapat du acara untuk melilit tali yaitu dengan cara melilit di lengan atau melilit di jari kelingking.
2. A’tojeng
A’tojeng dalam Bahasa Selayar berarti Berayun. Adapun ayunan yang dimaksud di sini adalah ayunan raksasa/besar. Bahan yang digunakan adalah kayu, bambu, akar pandita sejenis tumbuhan merambat yang digunakan untuk mengikat setiap ruas pada tiang-tiang setiap ruas, dan tak lupa tali penyangga. Tinggi tiang penyangga sekitar 5 hingga 9 meter.
A’tojeng pada tahun 1960-an merupakan ungakapan rasa gembira raja dan pasukannya setelah pulang dari medan perang. Untuk memainkan permainan ini, biasanya dinaiki oleh satu atau dua orang wanita dan ada pula dua orang dewasa yang bertugas untuk mengayun yang biasa disebut dengan pengambang. Tugas pengambang hanya menarik ayunan sesuai batas yang ditentukan dan jika melebihi batas yang ditentukan maka pengambang akan diberi hukuman, baik dengan bernyanyi atau menghentikan permainan. Dahulu permainan ini hanya untuk raja dan keturunannya, namun sekarang a’tojeng ditampilkan setiap bulan muharram, acara maulid, ketika panen tiba-tiba atau mandi bersama-sama.
A’tojeng juga bermakna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan juga sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap raja-raja terdahulu. Biasanya a’tojeng pun ditampilkan sambil membacakan pantun khas Selayar dengan pemain menggunakan baju khas Selayar yang dikenal dengan sebutan baju labbu.
3. A’lija
Cara bermainnya dengan menggambar kotak-kotak di latar. Bemainnya di lapangan yang terang agar mudah menggambar kotak-kotaknya. Ada Sembilan kotak yang terdiri dari tiga buah kotak horizontal, lalu disambung tiga kotak horizontal, setelah itu tambah satu kotak di atasnya dan terakhir dua kotak di horizontal. Satu persatu pemain melompati kotak tersebut dari awal hingga terakhir. Melompatnya harus menggunakan satu kaki, jika kaki terjatuh maka harus menaruh batu di salah satu kotak terakhir sebagai tanda untuk mengawali giliran.
4. A’kongtau
Kongtau merupakan seni bela diri di Selayar sama seperti manca padang. Kongtau merupakan seni bela diri yang dilakukan oleh dua orang untuk melakukan pertahanan diri tanpa menggunakna senjata dan diiringi musik tradisional yakni gong dan gendang. Kesenian ini sudah ada di Selayar sejak tahun 1970-an yang dibawa oleh penjajah. Menurut Muh. Najir selaku guru kongtau di Bitombang ada 4 gerakan:
1) Jurus
2) Gerakan yang membentuk persegi 4
3) Berlawanan
4) Rahasia
Menurut Muh. Najir sebelum memulai ia hendak menentukan hari baik pada awal belajar seni bela diri kongtau itu sesuai dengan pesan gurunya.
Seperti halnya Manca Pa’dang, Kongtau pun sering ditampilkan pada pesta pernikahan ataupun penyambutan tamu, bulan haji dan habis lebaran idul fitri.
A'gasing
A'tojeng
A'lija
A'kontau