Core Value BerAKHLAK ASN merupakan titik awal dalam penguatan budaya kerja ASN. Sebagai salah satu akronim dalam BerAKHLAK, Adaptif memiliki panduan perilaku yaitu cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas, dan bertindak proaktif. Untuk itu fokus utama sekarang adalah bagaimana mempercepat ASN dari comfort zone masuk ke learning zone, dimana ASN adalah investasi SDM dalam pembangunan (Alex Denni, Deputi SDMA).
Sumber : Youtube channel Asdep Manajemen Karier dan Talenta
Adaptif merupakan salah satu karakter penting yang dibutuhkan oleh individu maupun organisasi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, karena :
Perubahan lingkungan strategis ini menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan, baik pada lingkup global, regional maupun nasional.
Isu pembangunan ekonomi dan indutri yang mendorong kompetisi antar negara, kerusakan lingkungan, serta permasalahan keamanan dan perdamaian dunia merupakan variabel penting dalam memahami perubahan lingkungan strategis.
Dengan demikian cara sektor publik dalam menyelenggarakan fungsinya juga memerlukan kemampuan adaptasi yang memadai.
Daya saing menjadi salah satu ukuran kinerja sebuah negara dalam kompetisi global.
Sehingga kompetisi menjadi salah satu karakteristik penting dalam konteks perubahan lingkungan strategis, yang mendorong dan memaksa negara untuk berperilaku seperti dunia usaha, bersaing untuk menghasilkan kinerja terbaik.
Kompetisi untuk menjadi yang terbaik juga terjadi di lingkup nasional, di mana pemerintah daerah seolah-olah berkompetisi dengan daerah lainnya untuk mencapai atau menjadi yang terbaik.
Seluruh bentuk kompetisi di atas akan memaksa dan mendorong pemerintah baik di tingkat nasional maupun daerah dengan motor birokrasinya untuk terus bersaing dan beradaptasi dalam menghadapi setiap perubahan lingkungan yang terjadi.
Teknologi menjadi salah satu pendorong perubahan terpenting, yang mengubah cara kerja birokrasi.
Kondisi ini akan memaksa kita untuk beradaptasi dengan segala bentuk pengambilalihan mekanisme kerja oleh mesin.
Adaptasi tidak berhenti di kemampuan menggunakan, tetapi juga antisipasi dari konsekuensi yang mungkin timbul dari pelaksanaan cara-cara baru dalam bekerja dengan teknologi.
Pemerintah seyogyanya mengadaptasi perubahan ini dengan memastikan kompatibilitas metode komunikasi publik dengan perilaku komunikasi dan sehingga dapat mendorong percepatan pelayanan publik berbasis digital.
Birokrasi pun dipaksa untuk turut mengubah cara kerjanya untuk mengimbangi yang menjadi tuntutan perubahan, salah satunya dengan mendistribusikan sebbagian peran negara kepada masyarakat.
Literatur terkait New Public Management dan New Public Service menjadi rujukan penting bagaimana perubahan praktek administrasi publik yang lebih memperhatikan peran dan kebutuhan masyarakat sebagai upaya sebuah pemerintaanh untuk melakukan adaptasi dalam menjalankan fungsinya.
Rumusan tantangan perubahan lingkungan juga diperkenalkan dengan rumusan karakteristik VUCA, yaitu Volatility, Uncertaninty, Complexity dan Ambiguity, yang tentunya harus dihadapi dengan kemampuan adaptasi yang handal.
Adaptif adalah karakteristik alami yang dimiliki makhluk hidup untuk bertahan hidup dan menghadapi segala perubahan lingkungan atau ancaman yang timbul.
Adaptasi merupakan kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri).
Kebutuhan kemampuan beradaptasi ini juga berlaku juga bagi individu dan organisasi dalam menjalankan fungsinya.
Banyak persoalan pelayanan publik tidak dapat diselesaikan secara tuntas, bukan karena persoalan kemampuan adaptabilitasnya yang rendah, tetapi justru karena persoalan-persoalan kelembagaan dan kebijakan yang tidak memberi ruang yang cukup untuk beradaptasi.
Sebuah inovasi yang baik biasanya dihasilkan dari sebuah kreativitas.
Kreativitas juga dipandang sebagai sebuah sikap (an attitude), yaitu kemampuan untuk menerima perubahan dan hal-hal baru, kesediaan menerima ide baru, fleksibel dalam memandang suatu hal dan sikap mencari perbaikan.
Dimensi Kreativitas :
Fluency (kefasihan/kelancaran), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak ide atau gagasan baru karena kapasitas/wawasan yang dimilikinya.
Flexibility (fleksibilitas), yaitu kemampuan untuk menghasilkan banyak kombinasi dari ide- ide yang berbeda
Elaboration (elaborasi), yaitu kemampuan untuk bekerja secara detail dengan kedalaman dan komprehensif.
Originality (orisinalitas), yaitu adanya sifat keunikan, novelty, kebaruan dari ide atau gagasan yang dimunculkan.
Organisasi adaptif esensinya adalah organisasi yang terus melakukan perubahan, mengikuti perubahan lingkungan strategisnya.
Fondasi organisasi adaptif dibentuk dari tiga unsur dasar yaitu :
Lanskap (landscape) : memahami adanya kebutuhan organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan strategis yang berubah secara konstan
Pembelajaran (learning) : perencanaan beradaptasi, penciptaan budaya adaptif, dan struktur adaptasi
Kepemimpinan (leadership) : yang menjalankan peran penting dalam membentuk adaptive organization.
9 Elemen Budaya Adaptif
Purpose : organisasi beradaptasi karena memiliki tujuan yang hendak dicapai.
Cultural values : organisasi pemerintah mengemban nilai-nilai budaya organisasional yang sesuai dengan karakteristik tugas dan fungsinya.
Vision : menjelaskan apa yang hendak dituju yang tergambar dalam kerangka pikir dan diterjemahkan dalam kerangka kerja yang digunakan dalam organisasi.
Corporate values : nilai-nilai korporat juga menjadi fondasi penting dalam membangun budaya adaptif dalam organisasi.
Coporate strategy : visi dan values menjadi landasan untuk dibangunnya strategistrategi yang lebih operasional untuk menjalankan tugas dan fungsi organisasi secara terstruktur, efisien dan efektif.
Structure : tanpa dukungan struktur, akan sulit budaya adaptif dapat berkembang dan tumbuh di sebuah organisasi.
Problem solving : budaya adaptif ditujukan untuk menyelesaikan persoalan yang timbul dalam organisasi, bukan sekedar untuk mengadaptasi perubahan,
Partnership working : partnership memiliki peran penguatan budaya adaptif, karena dengan partnership maka organisasi dapat belajar, bermitra dan saling menguatkan dalam penerapan budaya adaptif.
Rules : menjadi salah satu framework budaya adaptif yang penting dan tidak bisa dihindari, sebagai bagian dari formalitas lingkungan internal maupun eksternal organisasi.
Organisasi birokrasi cenderung mekanistik bercirikan yang otoritas atau kewenangan yang tersentralisasi atau diselenggarakan oleh kelompok kecil dalam level elit organisasi. Sebaliknya organisasi yang adaptif akan lebih cenderung menyebarkan fungsi kewenangan ke berbagai lini organisasi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan sentralisasi dan desentralisasi :
Perubahan dan ketidakpastian lingkungan yang lebih besar biasanya dikaitkan dengan desentraliasasi;
Jumlah sentralisasi atau desentralisasi harus sesuai dengan strategi pencapaian tujuan organisasi; dan
Pada masa krisis atau saat diujung tanduk, wewenang dapat dipegang dengan sentralisasi pada jabatan di level elit.
Penerapan budaya adaptif akan mendorong pada pembentukan budaya organisasi berkinerja tinggi, dengan bercirikan antara lain :
Organisasi yang memiliki tujuan yang jelas dan tidak ambigu,
Terbangun suasana kepercayaan berbagi tanggung jawab untuk kesuksesan masa depan.
Terdapat perilaku yang menunjukkan tanggung Jawab psikologis, saling menghormati, menghargai pandangan dan pendapat satu sama lain, serta bekerja dalam tim.
ASN yang bekerja ekstra dengan memberikan ide, pemikiran, stimulus yang tidak diminta satu sama lain, dan di mana minat mereka pada pelanggan mereka menawarkan sesuatu yang lebih dari yang diharapkan.
Unsur pemimpin yang memberikan tantangan kepada ASN, yang memberikan kesempatan untuk pengembangan pribadi melalui pengalaman baru, dan yang memperlakukan semua orang dengan adil dan pengertian.
Sebuah organisasi yang didorong menuju kesuksesan organisasi dan pribadi secara intelektual, finansial, sosial dan emosional
Budaya adaptif dalam pemerintahan merupakan budaya organisasi di mana ASN memiliki kemampuan menerima perubahan, termasuk penyelarasan organisasi yang berkelanjutan dengan lingkungannya, juga perbaikan proses internal yang berkesinambungan.
5 (lima) disiplin agar organisasi dapat terus memiliki pengetahuan yang mutakhir :
Pegawainya harus terus mengasah pengetahuannya hingga ke tingkat mahir (personal mastery);
Pegawainya harus terus berkomunikasi hingga memiliki persepsi yang sama atau gelombang yang sama terhadap suatu visi atau cita-cita yang akan dicapai bersama (shared vision);
Pegawainya memiliki mental model yang mencerminkan realitas yang organisasi ingin wujudkan (mental model);
Pegawainya perlu selalu sinergis dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mewujudkan visinya (team learning); dan
Pegawainya harus selalu berpikir sistemik, tidak kaca mata kuda, atau bermental silo (systems thinking).
Ciri-ciri penerapan budaya adaptif dalam lembaga pemerintahan :
Dapat mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan;
Mendorong jiwa kewirausahaan;
Memanfaatkan peluang-peluang yang berubah-ubah;
Memperhatikan kepentingan yang diperlukan antara instansi, mitra, masyarakat, dsb.
Terkait dengan kinerja instansi.
Ciri-ciri orang (ASN) yang memiliki kemampuan atau karakter adaptif :
Eksperimen orang yang beradaptasi;
Melihat peluang di mana orang lain melihat kegagalan;
Memiliki sumberdaya;
Selalu berpikir ke depan;
Tidak mudah mengeluh;
Orang yang mudah beradaptasi tidak menyalahkan;
Tidak mencari popularitas;
Memiliki rasa ingin tahu;
1) Beradaptasi;
2) memperhatikan sistem;
3) Membuka pikiran; dan
4) Memahami apa yang sedang diperjuangkan.
Salah satu praktik perilaku adaptif adalah dalam hal menyikapi lingkungan yang bercirikan ancaman VUCA, dengan menngunakan VUCA Prime, yaitu Vision, Understanding, Clarity, Agility :
Hadapi Volatility dengan Vision :
Terima dan rangkul perubahan sebagai bagian dari lingkungan kerja Anda yang konstan dan tidak dapat diprediksi; dan
Buat pernyataan yang kuat dan menarik tentang tujuan dan nilai tim, dan kembangkan visi bersama yang jelas tentang masa depan.
Hadapi Uncertainty dengan Understanding
Berhenti sejenak untuk mendengarkan dan melihat sekeliling;
Jadikan investasi, analisis dan interpretasi bisnis, dan competitive intelligence (CI) sebagai prioritas, sehingga Anda tidak ketinggalan;
Tinjau dan evaluasi kinerja Anda; dan
Lakukan simulasi dan eksperimen dengan situasi, sehingga melatih Anda untuk bereaksi terhadap ancaman serupa di masa depan.
Hadapi Complexity dengan Clarity
Berkomunikasi secara jelas dengan tim Anda; dan
Kembangkan tim dan dorong kolaborasi.
langkah membangun tim efektif :
1) tetapkan kepemimpinan;
2) bangun hubungan dengan pegawai Anda;
3) bangun hubungan di antara pegawai Anda;
4) menumbuhkan kerjasama-kolaborasi tim; dan
5) tetapkan aturan dasar untuk tim.
Hadapi Ambiguity dengan Agility
Dorong fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan ketangkasan;
Pekerjakan dan promosikan orang-orang yang berhasil di lingkungan VUCA;
Dorong karyawan Anda untuk berpikir dan bekerja di luar area fungsional mereka;
Hindari memimpin dengan mendikte atau mengendalikan mereka;
Kembangkan “budaya ide”. Ini jenis budaya yang energik dan dapat mengubah tim dan organisasi menjadi lebih kreatif dan gesit.
Organisasi adaptif yaitu organisasi yang memiliki kemampuan untuk merespon perubahan lingkungan dan mengikuti harapan stakeholder dengan cepat dan fleksibel.
Budaya adaptif adalah budaya organisasi di mana karyawan menerima perubahan, termasuk organisasi penyelamatan yang memelihara lingkungan dan perbaikan proses internal yang berkelanjutan.
Tipe budaya organisasi :
Budaya adaptif (adaptive culture) : bersifat fleksibel dan eksternal sehingga dapat memuaskan permintaan pelanggan dengan memusatkan perhatian utama pada lingkungan eksternal.
Budaya misi (mission culture) : bersifat stabil dan eksternal sehingga menekankan organisasi dengan tujuan-tujuan yang jelas dan versi-versinya.
Budaya klan (clan culture) : bersifat fleksibel dan internal sehingga menekankan bahwa para anggotanya harus memainkan peran mereka dengan tingkat efisiensi yang tinggi dan mereka juga harus menunjukkan rasa pertanggungjawaban yang kuat.
Budaya birokratik (bureaucratic culture) : bersifat stabil dan internal sehingga organisasi memiliki tingkat konsistensi yang tinggi akan segala aktivitas aktivitasnya.
Perilaku adaptif juga berlaku dan dituntut terjadi pada individu. Individu atau sumber daya manusia (SDM) yang adaptif dan terampil kian dibutuhkan dunia kerja ataupun industri yang juga semakin kompetitif.
Kemampuan mentransformasikan teknologi menjadi produk nyata dengan nilai ekonomi tinggi menjadi salah satu syarat SDM unggul yang adaptif.
Program pembangunan SDM diarahkan untuk generasi bertalenta yang berkarakter dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Sumber daya manusia Indonesia harus disiapkan untuk mampu bersaing, cepat beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan teknologi informasi yang mendisrupsi segala bidang.
Preskripsi (petunjuk/ketentuan) membangun organisasi adaptif :
Membuat tim yang diarahkan sendiri;
Menjembatani silo (kecenderungan mental ketika beberapa departemen/bagian/unit/sektor tertentu tidak bersedia atau cenderung tertutup untuk berbagi informasi dengan departemen/bagian/unit/sektor lain dalam organisasi yang sama) melalui keterlibatan karyawan; dan
Menciptakan tempat dimana karyawan dapat berlatih berpikir adaptif.
Konsep dan strategi membangun organisasi adaptif :
Landscape : upaya untuk mengetahui kapan seharusnya organisasi berubah, seorang eksekutif atau pemimpin bisnis harus melakukan survey pada jangkauan, bentangan yang ada pada pandangan bisnis mereka.
Learning : upaya pembelajaran terus-menerus (knowledge management); dan
Leadership : kepemimpinan tidak hanya sebagai penujuk arah namun pembimbing menuju keberhasilan dalam melawan kompleksitas dan menciptakan sebuah organisasi yang ulet (resilient organization).
Pemerintahan adaptif bergantung pada jaringan yang menghubungkan individu, organisasi, dan lembaga di berbagai tingkat organisasi.
Pemerintahan adaptif juga menyediakan pendekatan kolaboratif fleksibel berbasis pembelajaran untuk mengelola ekosistem yang disebut sebagai "pengelolaan bersama adaptif".
Sistem pemerintahan adaptif sering mengatur diri sendiri sebagai jejaring sosial dengan tim dan kelompok aktor yang memanfaatkan berbagai sistem pengetahuan dan pengalaman untuk pengembangan pemahaman kebijakan bersama.
Indikator-indikator pemerintah adaptif :
Pengembangan sumber daya manusia adaptif;
Penguatan organisasi adaptif; dan
Pembaharuan institusional adaptif.
Tata kelola adaptif : mengacu pada evolusi aturan dan norma yang mempromosikan kepuasan kebutuhan dan preferensi manusia yang mendasari perubahan yang diberikan dalam pemahaman, tujuan, dan konteks sosial, ekonomi dan lingkungan.
B. Pemerintah dalam Pusaran Perubahan yang Dinamis (Dynamic Governance)
Pencapaian atau kinerja organisasi saat ini bukanlah jaminan untuk kelangsungan hidup di masa depan, lingkungan yang terus berubah dan penuh ketidakpastian.
Organisasi pemerintah tidak dijamin mampu menghadapi seluruh perubahan yang terjadi sangat cepat dan dinamis di sekitarnya, kecuali dirinya pun harus ikut serta bergerak dinamis.
Kata kunci yang digunakan adalah organisasi pemerintah adalah organisasi pemerintah yang selalu belajar (learning organization), inovasi, dan perubahan itu sendiri.
Dua modal utama untuk mengembangkan kemampuan tata kelola yang dinamis, yaitu orang- orang yang memiliki kemampuan, dan proses yang lincah.
Tata kelola yang dinamis akan mencapai relevansi saat ini dan masa depan dan efektivitas melalui kebijakan yang terus beradaptasi dengan perubahan di lingkungan.
Terdapat tiga kemampuan kognitif proses pembelajaran fundamental untuk pemerintahan dinamis yaitu :
Berpikir ke depan (think ahead) : untuk memahami bagaimana masa depan akan mempengaruhi negara dan menerapkan kebijakan untuk memungkinkan orang-orang mereka mengatasi potensi ancaman dan mengambil memanfaatkan peluang baru yang tersedia.
Berpikir lagi (think again) : untuk memikirkan kembali kebijakan dan program yang ada untuk menilai apakah masih relevan dengan agenda nasional dan kebutuhan jangka panjang masyarakat
Berpikir lintas (think across) : pemerintah perlu berpikir lintas mengenai batas-batas negara dan domain tradisional dalam pencarian ide-ide dan praktikyang menarik menarik yang dapat disesuaikan dan dikontekstualkan dengan lingkungan domestik mereka.
Ketahanan (ketanggunghan) berarti kapasitas untuk bertahan dalam jangka panjang kinerja yang biasa-biasa saja dan buruk juga memiliki bahaya yang sama bagi ketahanan organisasi.
Dimensi pembangunan organisasi yang tangguh :
Kecerdasan organisasi : organisasi menjadi cerdas ketika mereka berhasil mengakomodasi banyak suara dan pemikiran yang beragam.
Sumber Daya : organisasi memiliki banyak akal ketika mereka berhasil mengurangi perubahan atau bahkan lebih baik, menggunakan kelangkaan sumber daya untuk terobosan inovatif.
Desain : organisasi dirancang dengan kokoh ketika karakteristik strukturalnya mendukung ketahanan dan menghindari jebakan sistemik.
Adaptasi : organisasi adaptif dan fit ketika mereka melatih perubahan.
Budaya : organisasi mengekspresikan ketahanan dalam budaya ketika mereka memiliki sisi nilai-nilai yang tidak memungkinkan organisasi untuk menyerah atau menyerah tetapi malah mengundang anggotanya untuk bangkit menghadapi tantangan.