Tingkilan merupakan salah satu jenis kesenian musik oleh masyarakat Kutai di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Musik ini lahir seiring dengan masuknya Islam ke Kutai dan sedikit banyak memiliki kesamaan bunyi dengan kesenian rumpun Melayu lainnya. Tingkilan lantas menyebar melalui proses akulturasi dengan kebudayaan setempat, membuat musik ini kini terbagi menjadi tiga jenis (Hulu Mahakam, Tengah, dan Pantai) yang memiliki karakternya masing-masing. Kata tingkilan itu sendiri berarti menyindir lewat pantun dan musik. Makna ini masih bertahan, walaupun struktur musiknya itu sendiri telah mengalami berbagai bentuk perubahan.
Alat musik yang digunakan dalam tingkilan, antara lain:
Gambus, gambus merupakan alat musik petik seperti mandolin. Alat musik ini berasal dari Timur Tengah. Pengaruh dari Timur Tengah dibawa oleh orang-orang melayu yang banyak bermukim di pesisir Kalimantan Timur. Kebanyakan orang-orang melayu beragama Islam.
Ketipung, ketipung merupakan kendang kecil. Sebagaimana gambus, alat musik ketipung mendapat pengaruh kuat dari budaya timur tengah.
Kendang, kendang merupakan fondasi dari ensamble gamelan yang dipakai untuk mengiringi bebrapa kesenian, misalnya Tari Ganjur. Kendang merupakan produk budaya Jawa yang dipakai untuk mengiringi seni musik Tingkilan di Kutai Kartanegara. Ketika gambus mulai dipetik, maka kendang akan mengiringi alunan suara gambus. Kendang ini juga berfungsi untuk mengatur tempo dalam Tingkilan.
Biola, biola pada dasarnya biola merupakan produk budaya Eropa. Masuknya biola diperkirakan terjadi ketika Pemerintahan Hindia Belanda berkuasa di Nusantara. Lewat akulturasi budaya, akhirnya biola masuk sebagai salah satu instrument dalam Tingkilan.