Air Terjun Tumpak sewu ini berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Air terjun ini juga merupakan salah satu air terjun terindah di Indonesia, seperti halnya tulisan ”Serpihan Surga Itu Memang Ada” yang berada di papan pintu masuk loket Air Terjun ini, Di tempat ini wisatawan tidak hanya melihat satu atau dua air terjun saja, namun banyak sekali air terjun yang bertumpuk – tumpuk, dan itu sebabnya air terjun ini diberi nama “Air Terjun Tumpak Sewu. Air terjun ini memiliki formasi yang unik, yaitu memiliki aliran air yang melebar seperti tirai sehingga dikategorikan ke dalam tipe air terjun Tiered.
Air terjun yang memiliki ketinggian mencapai 120 meter dan diresmikan tanggal 13 Maret 2015 ini berada di dalam lembah yang curam memanjang dengan elevasi 500 mdpl dan terbentuk dari aliran sungai Glidih yang berhulu di Gunung Semeru. Selain itu kadang terdapat Wisatawan asing yang menjulukinya sebagai Niagara Waterfall Van Java. Bagi wisatawan yang ingin melihat keindahan Tumpak Sewu dengan memicu adrenalin, mereka bisa turun kebawah dengan melewati track yang cukup curam sepanjang 800 meter, namun bagi mereka yang tidak berani turun, bisa menikmatinya dari gardu pandang permanen berupa bangunan seluas 30 meter persegi yang mampu menampung sekitar 50 orang pengunjung yang disebut sebagai Bukit Panorama.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 10.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 10.000,-
Sumber : m.industri.co.id, www.investor.id, www.javatravel.net
Rumah yang berada di kawasan Bouwplan kesatu (I), atau tepatnya di sudut persimpangan antara Jalan Diponegoro dan Jalan dr. Soetomo ini diperkirakan didirikan pada tahun 1910-an. Seperti informasi yang tertulis di buku ‘Stadsgemeente Malang 1914-1934’ rumah ini merupakan rumah dinas Wali Kota Malang pertama yang bernama H. I. Bussemaker. Berdasarkan informasi, H. I. Bussemaker menjabat sebagai Wali Kota mulai tanggal 1 Juli 1919 dan mulai menempati rumah dinas tersebut hingga masa akhir tugasnya pada tanggal 8 Maret 1929. Setelah itu beliau pindah ke Kota Surabaya dan dilantik menjadi Wali Kota (1926 – 1932) dan Wali Kota Malang selanjutnya dilanjutkan oleh Ir. Voorneman (1929 – 1933) yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Magelang. Sayangnya bangunan yang bergaya arsitektur Hindia Belanda ini tak terdata lagi riwayatnya saat pendudukan Jepang di Malang pada tanggal 8 Maret 1942.
Sumber : www.terakota.id, Sumber Pribadi
Gereja Immanuel dan Gereja Ebed ini sangat erat kaitannya. Gereja GPIB Immanuel ini didirikan pada tanggal 30 Juli 1861 dan resmi digunakan pada tanggal 31 Oktober 1861, sedangkan Gereja Ebed didirikan kisaran awal tahun 1900-an. Gereja Immanuel ini berarsitektur Gothic, yang merupakan ciri khas gereja – gereja abad 19. Menurut Agung, struktur bangunan Gereja Immanuel tidak berubah dalam usia 158 tahun. Gereja Immanuel memiliki keunikan-keunikan, diantaranya adanya Alkitab Protestan cetakan tahun 1618 dan 1715 Masehi yang mengunakan bahasa Belanda kuno, selain itu terdapat pula keunikan lain yang berupa jam dan lonceng yang masih asli sejak gereja selesai dibangun dan resmi difungsikan, dan tidak hanya itu, di pucuk menara Gereja ini terdapat ornamen ayam jago yang terbuat dari besi dan karena itulah sebabnya gereja ini disebut juga sebagai Gereja Jago. Gereja tersebut sendiri memiliki dua lantai, lantai yang pertama difungsikan sebagai tempat peribadatan, perpustakaan, dan konsistori, dan lantai kedua difungsikan sebagai ruang serbaguna untuk kegiatan kesekretariatan Gereja. Bentuk Gereja Immanuel ini tidak sebanding dengan Gereja Ebed yang kala itu hanya terbuat dari gedeg / anyaman bambu dan berukuran kecil. Lokasi gereja ini berada di Jalan Pattimura. Cerita pendirian Gereja Ebed ini adalah untuk kaum bumiputera / pribumi, sebab pihak jemaat Gereja Protestan Belanda (GPIB Immanuel) tidak ingin satu Gereja dengan kaum pribumi sebab keberadaannya di Gereja Immanuel tersebut dikhawatirkan mengancam kerahasiaan politik pemerintahan, perdagangan, dan pertahana Belanda kala itu. Namun demikian, pihak Belanda tidak serta merta melepas para jemaatnya begitu saja, mereka masih mengawasi kegiatan gereja karena dikhawatirkan adanya pergerakan untuk pemberontakkan kepada Belanda. Dan selain itu, gereja yang mengalami renovasi pada tahun 1930-an memiliki keunikan tersendiri yang hingga kini masih dipertahankan, yaitu menggunakan barang-barang peninggalan sejarah yang berupa kursi-kursi Belanda dan Portugis yang terkandung makna filosofi.
Sumber : www.radarmalang.jawapos.com, www.travel.tempo.co, Sumber Pribadi
Keunikan kota Malang adalah mempunyai dua alun – alun yang memiliki ceitanya sendiri – sendiri. Yang pertama adalah alun – alun kotak atau merdeka karena terletak di jalan Merdeka. Alun – alun merdeka ini didirikan pada tahun 1882 yang kala itu masih berupa tanah lapang yang harapannya bisa difungsikan untuk kepentingan Hindia Belanda, namun kenyataannya banyak orang pribumi yang memanfaatkannya untuk berkumpul dan berdagang di kawasan tersebut yang menyebabkan Belanda merasa bahwa tanah lapang tersebut sudah tidak kondusif untuk kepentingan Belanda, dan oleh sebab itulah Belanda mengalihkan pusat pemerintahnnya di Balai Kota yang terdapat alun – alun bunder di depannya. Kawasan Balai Kota dan alun-alun bunder ini masuk ke dalam rencana tata kota / Bouwplant kedua (II) dalam pengembangan wilayah Malang. Alun-alun bunder ini dulunya diberi nama alun-alun JP. Coen karena pendirinya adalah Jan Pieterszoon Coen dari Belanda. Kawasan alun – alun bunder Malang ini merupakan kawasan yang cukup sakral dalam momentum kemerdekaan RI. Kesakralan ini bermula saat terjadinya pembumihangusan Malang atau saat terjadi Agresi Militer Belanda pada tahun 1947. Kala itu tugu Malang dulunya tidak ada, namun yang ada hanyalah taman bundar / alun-alun bundar dengan air mancur di tengahnya yang merupakan pelengkap dari bangunan balai kota yang didirikan oleh Belanda agar bisa menjadi taman kota bagi masyarakat Eropa kala itu dengan mengedepankan sisi kemewahan dan kewibawaan. Tugu Malang yang berada ditengah – tengah alun-alun bunder ini didirikan atas permintaan rakyat sebagai simbol kemerdekaan yang kemudian tugu tersebut diresmikan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1953. Tugu yang berada di dalam alun-alun bunder ini memiliki empat bagian, yang pertama adalah bambu runcing yang berada dibagian atas sebagai simbol perjuangan rakyat, kedua berupa relief yang bergambar lima pulau di Indonesia, ketiga adalah bagian penopang yang berbentuk padma (mirip struktur candi), dan yang keempat yang merupakan struktur dasar bangunan yang berupa kolam teratai.
Sumber : www.jatim.idntimes.com, www.kemalangaja.com, www.surabaya.kompas.com, m.merdeka.com, www.kompasiana.com, Sumber Pribadi
Dikawasan Kajoetangan ini terdapat perempatan yang fenomenal yang bernama perempatann Rajabally. Perempatan ini menjadi fenomenal karena merupakan jalan penghubung antara Jalan Kahuripan dengan Jalan Semeru. Di perempatan ini terdapat bangunan kembar yang berada disisi selatan dan utara ibarat gerbang selamat datang. Bangunan disisi selatan dulunya digunakan sebagai toko emas Juwelier Tan dan bangunan disisi utara digunakan sebagai toko buku Boekhandel Slutter-C.C.T van Dorp Co. dan kemudian berganti menjadi toko penukaran mata uang asing dengan nama Rajabally Money Changer yang pada akhirnya dijadikan nama perempatan tsb. Cikal bakal bangunan kembar tersebut berawal dari ide seorang arsitek yang bernama Karel Bos. Karel Bos mendapatkan ide untuk membuat gedung kembar ini pada tahun 1936 yang terinspirasi dari dirinya sendiri karena barusaja memiliki anak kembar. Pada akhirnya bagunan kembar tersebut dibangun dengan gaya arsitektur aliran Nieuwe Bouwen yang mngutamakan aspek funsional secara menyeluruh dengan cara menggabungkan ruang publik dan keamanan militer sebagai acuannya dengan pertimbangan mengadaptasi iklim setempat serta ketersediaan bahan dan tekologi yang ada serta fisik bangunan yang menjulang tinggi dan memiliki atap yang berfungi untuk mengamati kondisi sekitar.
Sumber : m.merdeka.com, www.terakota.id
Eng An Kiong merupakan nama suci sebuah klenteng yang berada di Kota Malang dan memiliki arti Istana keselamatan dalam keabadian Tuhan. Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, klenteng ini juga sering dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mendengar cerita dan melihat sejarah dari bangunan tersebut. Klenteng ini dibangun oleh seorang Letnan Kwee sam hway (Yauw ting kong) yang kala itu bertugas di wilayah Malang selatan pada masa perang jawa dimulai yaitu pada tahun 1825. Dulunya klenteng ini hanya berupa bangunan kecil yang hanya berbentuk segi empat dan didalamnya terdapat patung dewa bumi bernama Fu Tek Cen Sen yang didatangkan langsung dari Tiongkok dengan berlayar sekitar 2 – 3 bulan lamanya.
Bangunan tahun 1825 yang bercorak warna merah dan kuning sebagai simbol kehidupan, kekayaan, dan hoki ini hingga sekarang masih berdiri kokoh dengan kayu yang masih original. Selain itu, sekeliling bangunan utama tersebut kini telah dibagun dan diperluas berupa bangunan untuk peribadatan tiga agama yaitu pemeluk agama Ji (Khonghucu), Tao (Tao), Sik (Budha) dengan menyatukan bentuk pada bangunan utamanya, pungkas Heri (Ketua Yayasan Kelenteng Eng An Kiong Kota Malang). Meski kini sudah banyak dewa – dewa baru disekelilingnya dari tiga agama tersebut, patung dewa bumi ini masih ditempatkan di ruangan utama dari klenteng ini sebagai dewa tertua yang mampu menghadirkan ketenangan hati.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Gratis
Weekend
Dewasa :Gratis
Sumber : www.kompasiana.com, tugumalang.id, Heri (Interview), Sumber Pribadi
Monumen / Patung yang berada di tengah jalan dan berfungsi sebagai separator di kawasan Kajoetangan Malang adalah sosok penyair muda ternama Chairil Anwar. Sejarah berdirinya monumen itu adalah berawal dari Sidang Pleno Kelima Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tanggal 25 Februari hingga 6 Maret 1947 yang diadakan di Gedung Societiet Concordia (saat ini Sarinah Malang). KNIP sendiri merupakan cikal bakal adanya DPR, karena KNIP merupakan Badan Pembantu Presiden yang beranggotakan tokoh masyarakat dari berbagai golongan. Patung Chairil Anwar di Indonesia hanya ada dua, pertama ada di dalam gedung di Monas dan yang kedua ada di Malang dan diletakkan di tengah jalan sehingga dapat dilihat oleh siapa saja yang melintas. Dalam rapat sidang KNIP inilah Chairil Anwar memberikan semangat kepada semua pihak untuk segera merampungkan sidang dengan sebuah puisi yang berjudul “Aku” Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang...” dan hal itu dianggap sebagai suatu karya yang positif oleh salah satu Penyelidik Militer Khusus Kesatuan Chu-Gakko yang bernama Achmad Hudan Dardiri, dan beliau akhirnya memiliki gagasan untuk membuat monumen atau patung Chairil Anwar dengan puisi “Aku” dibawahnya sebagai semboyan penyemangat perjuangan yang dapat dibaca oleh seluruh Masyarakat Kota Malang. Dua tahun setelah rapat KNIP yaitu tepatnya pada tanggal 28 April 1949, Chairil Anwar meninggal dunia. Dan akhirnya pada tanggal 28 April 1955 monumen tersebut di resmikan oleh Wali Kota Malang keenam M. Sardjono Wirjohardjono.
Sumber : www.kanal.web.id, www.beritajatim.com, www.ngalam.id, www.wearemania.net
Gereja Katolik Hati Kudus atau akrab disebut Gereja Kajoetangan didirikan tahun 1905 dengan gaya arsitektur Neogothic dan menara yang menjulang setinggi 33 meter. Gereja ini dibangun oleh arsitek yang bernama Marius J. Hulswit yang merupakan arsitek kawakan Hindia Belanda pada tahun 1862 – 1921. Gereja yang berarsitektur Neogothic ini merupakan Gereja yang paling tertua di Kota Malang. Gereja ini diberkati oleh Mgr.Clemente van der Pas yang notabene merupakan Misionaris Katolik di daerah misi. Gereja yang terdapat patung Hati Kudus Yesus diantara kedua menaranya itu juga meiliki prasasti marmer yang dipasang pada 16 Maret 1907 dalam bahasa Belanda yang artinya:
“Gereja ini dipersembahkan kepada Hati Kudus Yesus, Didirikan berkat kemurahan Hati Yang Mulia Monseiguneur Edmundus Sybrandus Luypen, Dirancang oleh arsitek Marius J. Hulswit dalam masa penggembalaan yang terhormat Rm. G.D.A. Jonckbloet dan Rm. F.B. Meurs pada tahun 1905. Dilaksanakan oleh pemborong C. Vis pada tanggal 7 Januari 1906 diberkati oleh Yang Mulia Monseigneur Edmundus Sybrandus Luypen, Uskup Tituler dari Orope,Vikaris Apostolik dari Batavi”.
Sumber : m.merdeka.com, www.ngalam.id
Gedung Sarinah ini dulunya merupakan Rumah Dinas Bupat Malang yang bernama Raden Toemenggung Notodiningrat pada tahun 1820 – 1839. Setelah Raden Toemenggung Notodiningrat wafat, bangunan ini berhasil dikuasai Belanda dan pusat pemerintahan Bupati selanjutnya beralih ke gedung kantor Bupati yang berada di Jalan H. Agus Salim (hingga saat ini). Saat bagunan Sarinah dikuasai oleh Belanda, mereka menjadikannya sebagai gedung pesta yang bernama Societiet Concordia hingga pada periode kemerdekaan RI. Pada tahun 1947 atau saat Agresi Militer Belanda gedung Sarinah ini sempat dibumihanguskan oleh kaum pribumi Malang kala itu sebagai taktik / strategi gerilya bersamaan dengan alun – alun bunder agar Belanda tidak masuk lagi ke Malang. Dan pada tanggal 25 Februari – 5 Maret 1947 gedung ini digunakan untuk rapat KNIP yang merupakan cikal bakal DPR di Indonesia dan cikal bakal adanya monumen Chairil Anwar di Jalan Basuki Rahmat. Kini Bangunan itu telah digunakan sebagai pusat perbelanjaan di Kota Malang sejak tahun 1970 hingga saat ini.
Sumber : www.tugumalang.id,m.merdeka.com, www.wearemania.net
Pasar ini merupakan pasar yang cukup legendaris hingga kini. Pasar Splendid ini dulunya adalah tempat berkumpulnya para pedagang. Disaat para pedagang yang berkumpul dikawasan itu mulai banyak, mulailah pasar itu terbentuk dengan sendirinya pada tahun 1960-an. Nama pasar splendid ini sendiri diambil dari nama salah satu penginapan yang bernama Splendid Inn yang berada di ujung jalan yang mengarah ke Balai Kota. Splendid Inn sendiri dulunya merupakan penginapan yang dibangun pada tahun 1928 bersamaan dengan Bouwplant dua (II) yang diperuntukkan unutk pejabat / petinggi Belanda yang berkunjung ke Malang kala itu. Kini pasar Splendid masih ramai dikunjungi oleh para wisatawan maupun pembeli lokal yang mungkin hanya sekedar ingin membeli bunga dan hewan maupun pernak perniknya yang cukup dibilang lengkap di Kota Malang. Tidak hanya itu, dibalik pasar Splendid atau tepatnya di bantaran sungai brantas mulai dibangun tempat nongkrong atau sekedar ngopi seperti di lokasi Forst Cafe yang tentu harapannya dapat memancing para pengantar wisatawan yang sedang berbelanja di pasar splendid.
Soumber : www.travellingyuk.com, www.ngalam.id, www.wearemania.net
Yup, Gunung Bromo selalu menjadi idaman para wisatawan, namun perlu diketahui bahwa sebenarnya pintu masuk Gunung Bromo tidak hanya satu lho melainkan ada 4 (empat) pintu masuk, yang pertama yaitu lewat jalur Probolinggo, kemudian lewat jalur Tosari (Pasuruan), selanjutnya lewat jalur Tumpang, Malang dan yang terakhir lewat jalur Lumajang. Nah udah tau kan sekarang sobat? Masing² jalur ini memiliki ciri khasnya sendiri² dan tentu akan membawa suasana hati yang berbeda pula. Salah satu contoh jalur Tumpang - Malang, sobat akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang luar biasa menakjubkan, mulai dari pematang sawah, hamparan pegunungan, hingga destinasi air terjun yg cantik-cantik. Jika sobat berwisata ke Gunung Bromo, sobat akan menuju ke beberapa destinasi, antara lain penanjakkan utk melihat sunrise, widodaren, kawah Bromo, pasir berbisik, dan bukit Teletubbies. Nah sobat, buat kalian yang belum pernah ke Bromo segera berkunjung ke Bromo yaa karena ekspektasi kalian akan berbeda jauh dengan realita yang benar² akan membuat kalian takjub akan keindahan ciptaan-Nya.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 30.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 35.000,-
Sumber : Sumber Pribadi
Gereja Idjen terletak di poros jalan ijen kota Malang. Gereja ini memiliki sejarah yang cukup panjang terhadap perkembangan kota Malang sendiri, oleh sebab itu bangunan gereja ini dimasukkan menjadi Bangunan Cagar Budaya kota Malang. Gereja Idjen ini memiliki peran penting terhadap landscape kota Malang yang menjadi salah satu kota destinasi wisata di Indonesia khususnya di Jawa Timur. Gereja Idjen ini memiliki keistimewaan tersendiri dari sisi arsitekturnya, dan yang lebih menariknya adalah gereja ini dibangun menggunakan rangka baja dalam kurun waktu 8 bulan saja di tahun 1934. Di gereja ini tidak semua wisatawan boleh masuk terkecuali membuat perjanjian terlebih dahulu dengan pihak gereja, hal tersebut dilakukan guna menjaga bentuk bangunan gereja agar tetap terjaga dengan baik sebagai bangunan heritage kota Malang.
Sumber : Irawan P. (Interview), Sumber Pribadi
Makam Sukun merupakan makam kristen yang berada di Kec. Sukun. Makam ini dulunya merupakan makam Belanda yang didirikan pada tahun 1920. Banyak sekali tokoh² ternama di masa lampau yang dimakamkan di pemakaman ini. Dalam koridor wisata, makam ini pernah dijadikan tempat wisata yang diberi tema "Dark Tourism" namun setelah itu diganti dengan tema "Jelajah Koeboeran Londo". Terlepas dari kedua tema tersebut, yang perlu digaris bawahi adalah peninggalan sejarah berupa arsitektur bangunan, nisan, symbol, dan strata sosial yang masih dapat kita pelajari untuk suatu pembelajaran sejarah dimasa lampau. Makam sukun ini telah menjadi bangunan cagar budaya dari tahun 2018 dan oleh sebab itu tidak sedikit wisatawan yang sedang berkunjung ke Malang selalu menyempatkan mampir untuk berwisata sejarah ke makam ini , sebab wisata ini memberikan keunikan tersendiri yaitu berwisata makam bukan di pagi, siang, maupun sore hari, akan tetapi justru dilakukan di malam hari, seru kaaannn..! Nah sobat bagi kalian yang memiliki adrenalin tinggi dan masih suka menilik sejarah, jangan lupa ya mampir ke makam sukun ini.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Donasi
Weekend
Dewasa : Donasi
Sumber : linktr.ee/fktklh, Sumber Pribadi
Hawai Waterpark merupakan taman wisata air terbesar pertama di kota Malang dengan tema Hawai. Hawai Waterpark berlokasi di area Perumahan Graha Kencana tepatnya di Jl. Graha Kencana Raya ,Singosari, Malang. Hawai Waterpark menyuguhkan 10 macam wahana yang bisa dinikmati bersama keluarga, antara lain : Hawai Water House, Wakiki Beach, Waimea Steam River, Wafi Island, Rainbow Fall, Akaolu Pool, Ekolu Slide, Wailele Slide, Hula Hula Slide, Water Plaza.
Wahana yang menjadi unggulan di Hawai Waterpark ini yaitu Hawai Water House dan Wakiki Beach (Tsunami Pool). Di Tsunami Pool anda akan merasakan gelombang Tsunami buatan yang akan menerjang anda di area kolam tersebut. Tsunami Pool atau Waikiki Beach adalah wahana pertama yang ada di Indonesia dan hanya berada di kota Malang tepatnya di Hawai waterpark Malang. Tsunami Pool merupakan kolam ombak pertama di Indonesia yang dibuat sama persis seperti di Hawai, Amerika. Selain kalian menikmati deburan ombak di Wakiki Beach, kalian juga bisa menikmati video tround / panggung pertunjukan yang disediakan di atas Wakiki Beach.
Jadi, ayo segera ajak keluarga untuk menikmati serunya bermain air di Hawai Waterpark ini yaa . . .
Untuk HTM dan fasilitas Hawai Waterpark adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 75.000,-
Anak- anak : Rp 75.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 100.000,-
Anak- anak : Rp 100.000,-
*tinggi di atas 85cm
Source : https://hawaiwaterpark.com/
Museum Ganesya merupakan museum yang terbilang cukup baru di Kota Malang. Meski baru, museum yang dibuka pada pertengahan 2019 tersebut tidak kalah apik dalam menampilkan koleksi-koleksinya dibandingkan museum lain . Museum ini memiliki konsep yang modern dan mampu memberi warna berbeda dari yang lain, mengapa? sebab museum ini selalu memberikan tema yang berbeda-beda disetiap beberapa bulan sekali agar menciptakan suasana yang tidak membosankan bagi para pengunjungnya yang selalu berdatangan diakhir pekan. Secara lokasi, museum ini sangat mudah terjangkau karena letaknya menjadi satu dengan Hawai Waterpark, hanya berbeda lantai.. Museum ini memiliki koleksi tentang budaya masyarakat Indonesia hingga Asia, mulai dari kerajinan tanah liat, perak, hingga topeng dan alat musik gamelan yang bisa kita mainkan. Selain itu, secara tata letak koleksi-koleksinya cukup tertata dengan baik dan rapi serta didukung dengan lighting yang tepat. Nah bagi kalian yang ingin mengenal budaya nusantara, jangan ragu untuk mampir ke Museum Ganesya yang buka mulai pukul 14.00 - 22.00 WIB ini yaa.. Harga tiketnya murah lho! dan jika beruntung, kalian bisa sering mendapatkan diskon promo setiap bulannya, so jangan sampai ketinggalan ya gaes update promo Museum Ganesya setiap bulannya ;)
Sumber : museumganesya.com, Sumber Pribadi
Museum Musik Indonesia atau lebih dikenal dengan sebutan MMI merupakan salah satu museum diantara 22 museum yang ada di Malang Raya dan diresmikan pada tanggal 19 November 2016. MMI merupakan museum yang memiliki koleksi barang yang tidak sedikit lho.. mulai dari piringan hitam, kaset, CD, hingga pakaian para musikus kenamaan Indonesia semua ada di dalamnya. Jika kita menengok lebih dalam, musik merupakan suatu frekuensi kehidupan yang tak bisa kita lepaskan begitu saja, sebab ketika masih usia dini terkadang kita pun dihibur dengan musik yang dimainkan ataupun lagu yang dinyanyikan oleh orang tua kita sebagai perwujudan cinta orang tua kepada anaknya. Kembali ke bahasan semula. Begitu pula dengan MMI, didirikan berdasarkan kecintaan seseorang yang akrab dipanggil Hengki Herwanto terhadap musik. MMI sendiri merupakan tempat yang wajib dikunjungi oleh wisatawan dari segala usia yang sedang berlibur ke Malang, sebab di MMI Anda bisa bernostalgia dan membangun masa depan generasi penerus bangsa dengan menilik kearifan masa lalu yang perlu dipelajari agar menjadi referensi dimasa kini dalam membangun karakter penerus bangsa di masa mendatang. Ayo berikan pengetahuan kepada generasi penerus bangsa dengan mengunjungi Museum Musik Indonesia yang beralamatkan di jl.Nusakambangan 19 Kota Malang 65117 dengan htm hanya IDR 5K dan buka pada pukul 10.00-17.00 WIB, kecuali Senin (Tutup).
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 5.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 5.000,-
Sumber : Sumber Pribadi