Masjid Mantingan merupakan salah satu masjid yang bersejarah di Indonesia, khususnya di Jepara, Jawa Tengah. Masjid ini terletak di desa Mantingan dan berjarak lebih kurang 5 km dari pusat kota Jepara. Masjid Mantingan ini didirikan pada tahun 1559 M sebagai penghormatan Ratu Kalinyamat kepada sang Suami, Sultan Hadlirin. Keunikkan dan keistimewaan Masjid Mantingan ini terletak pada aristekturnya, yaitu perpaduan arsitektur budaya Hindu-Budha, Jawa, dan Tionghoa yang dapat dilihat dari ornamen relief yang menempel di dinding masjid serta pada gerbang pintu masuk Masjid dan makam yang berada disebelahnya. Berdasarkan penelitian yang ditulis oleh Eko RoyArdian Putra yang berjudul “Makna Simbolis pada Ragam Hias Masjid Mantingan di Jepara” (2008), dinding Masjid Mantingan dihiasi dengan berbagai ornamen ukiran jenis relief dari batu karang putih. Ragam hias dalam relief ini berciri ornamental zaman madya. Ragam hias Mantingan ini mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu dan Cina dengan hiasannya berupa tumbuh-tumbuhan, bungan teratai, dan hewan. Namun semua gaya tersebut telah disesuaikan dengan budaya islam. Selain itu dijumpai pula bentuk bangunan yang memiliki pengaruh Hindu pada pintu masuk Masjid yang menyerupai bentuk candi bentar. Tidak hanya itu, bentuk Candi Bentar juga disematkan pada pintu masuk makam yang terdiri dari tiga teras, antara lain: teras pertama yang dibatasi dengan gapura candi bentar, terletak paling bawah merupakan pemakaman bagi masyarakat umum, teras kedua yang juga masih dibatasi dengan candi bentar, digunkan untuk pemakaman orang-orang yang statusnya lebih tinggi, teras ketiga teras paling atas yang ditandai dengan gaputa paduraksa, adalah pemakaman yang digunkakan untuk orang –orang dengan status sosial tertinggi, terutama yang berada di dalam cungkup. Selain itu Menurut Ambarsy dan Hasan Muarif dalam Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan History Islam Indonesia (2001) menuliskan bahwa bangunan Masjid merupakan hasil rancang bangun yang disesuaikan dengan alam dan budaya masyarakat setempat.
Dalam proses pembangunan Masjid, Ratu Kalinyamat meminta bantuan kepada guru spiritual sekaligus ayah angkat dari sang suami, Sultan Hadlirin ketika menimba ilmu di China. Ia adalah Chi Hui Gwan, atau lebih dikenal dengan sebutan Patih Sungging Badarduwung. Patih inilah yang menjadi arsitek Masjid Mantingan, hingga pada corak onamen relief yang menempel di dindingnya. Tidak hanya itu, Patih Sungging Badarduwung juga merupakan orang yang pertama mengajarkan tentang seni ukir yang masih tetap lestari hingga masa kini.
Sumber : https://www.tirto.id, https://kebudayaan.kemendikbud.go.id/, Sumber Pribadi
Dilansir dari berbagai sumber, Benteng Portugis ini dibangun pada tahun 1632 di masa kepemimpinan Kerajaan Mataram yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Benteng ini sendiri merupakan hasil kerjasama antara Mataram dengan Portugis untuk menaklukkan VOC dari tanah Jawa, karena Mataram menyadari kalau mereka kala itu tidak memiliki prajurit laut, terang Subekti Syahlan, pemerhati dan pengamat budaya Kabupaten Jepara. Benteng Portugis ini dulunya berada di wilayah Kec. Keling, namun karena pemekaran wilayah pada tahun 2008 / 2009, maka secara adminstratif sekarang berada di Desa Banyumanis, Kec. Donorojo, Kabupaten Jepara.
Saat itu Benteng Portugis memiliki lokasi yang sangat strategis sebagai markas tentara Portugis dalam memantau kawasan sekaligus menghalau kapal-kapal niaga VOC yang bersandar di pantai pesisir Jawa. Sebagai buktinya di sekeliling benteng yang menghadap ke arah laut terdapat tempat untuk meletakkan meriam yang konon katanya memiliki jarak tembak hingga tiga kilometer. Memasuki tahun 1640-an kekuatan Portugis di Benteng itu mulai melemah bersama dengan kekuatan Portugis yang ada di Malaka yang posisinya mulai terusir oleh kekuatan VOC. Sejak saat itulah Benteng tersebut mulai terbengkalai dan banyak orang Portugis yang melarikan diri ke maluku maupun pulang ke Portugis.
Suasana yang didapat oleh pengunjung jika berkunjung ke Benteng ini adalah benar - benar suasana Benteng yang berfungsi sebagai menara pantau untuk mengawasi musuh yang masuk ke Jepara melalui pesisir Jawa dengan gaya militernya yang sangat kuat. Namun yang disayangkan dari Benteng ini adalah kondisi benteng sekarang hanya tinggal reruntuhan saja dan kondisinya sudah tidak utuh lagi. Kondisi Benteng memang ditemukan sudah dalam kondisi seperti itu, entah karena rusak sebab dimakan usia atau rusak karena tersekan serangan musuh pada saat itu. Lokasi benteng yang asli berada diatas bukit, bukan yang berada di depan, terang Nasir, staf pemeriksaan tiket masuk Wisata Benteng Portugis, sedangkan bangunan yang berada di depan adalah bangunan baru yang dibangun pada tahun 2000-an.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 10.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 12.000,-
Sumber : https://www.merdeka.com/, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/, Sumber Pribadi
Selain Beteng Portugis, Jepara juga memiliki Benteng VOC atau Fort Japara XVI dan lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Lodji Gunung. Benteng tersebut berada di Bukit Donorojo, Jepara, atau lebih tepatnya berada ditengah kota bersebelahan dengan SCJ (Sentra Culinary Jepara). Berdasarkan dari beberapa penelitan dari www.researchgate.net, Benteng yang dibuat pada pertengahan abad 16 - 17 dulunya di manfaatkanlah oleh VOC sebagai langkah awal dalam melakukan ekspansi kolonialisme dengan menggunakan cara seperti militer dan politik adu domba serta tak lain untuk melindungi kepentingan bisnisnya dengan cara mengintegrasikan sistem bisnis VOC lain yang telah berada di Nusantara. Selain itu, terdapat alasan lain yang menyebabkan VOC memutuskan untuk membangun benteng di Jepara dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan VOC yaitu karena lokasi benteng tersebut tepat di tegah kota Jepara yang jika dilihat dari atas dapat langsung melihat satu kota Jepara, selain itu pelabuhan Jepara merupakan pelabuhan militer di jaman Kerajaan Demak yang dikembangkan masa pemerintahan Ratu Kalinyamat dan tetap berfungsi sebagai pelabuhan untuk mengekspor beras meski Jepara telah dikuasai oleh kerajaan Mataram Islam. Bukan hanya itu, benteng – benteng tersebut juga berfungsi sebagai pertahanan dari pelaut – pelaut Nusantara maupun pelaut – pelaut Eropa lainnya yang berkeinginan menduduki wilayah Jepara, serta dijadikan tempat tinggal bagi masyarakat Eropa di wilayah Jepara.
Yang menarik dan unik dari benteng ini adalah desain taman yang di desain mirip dengan taman - taman di Eropa, sehingga ketika pengunjung masuk akan merasa berada di taman rekreasi bagi masyarakat Eropa kala itu, serta lokasinya yang sangat strategis, yaitu berada disisi utara Alon - alon dan Masjid Agung Jepara, namun tetapa saja pintu masuknya berada di Jl. Pahlawan, Jepara.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Gratis
Weekend
Dewasa : Gratis
Sumber : https://www.researchgate.net, https://www.daftar.co, Sumber Pribadi
Museum Raden Ajeng (R.A.) Kartini dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Jepara. Museum ini memliki lokasi yang sangat strategis, yaitu tepat disisi utara alun-alun Jepara. Museum R.A. Kartini ini didirikan pada 30 Maret 1975 yang tak lain bertujuan untuk mengenang jasa dari tokoh kebangkitan perempuan pribumi nusantara. Seperti yang dikatakan oleh Mas Faiz selaku Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Jepara yang bertugas di Museum ini, mengatakan sebenarnya Museum R.A. Kartini ada dua, yakni di Jepara dan di Rembang. Namun kali ini sang penulis hanyalah akan mengulas tentang museum yang ada di Jepara sebagai kota kelahiran R.A. Kartini. Berdasarkan informasi dari Mas Faiz, di Museum R.A. Kartini ini menyimpan koleksi tentang barang-barang dan koleksi foto-foto R.A. Kartini hingga koleksi Jepara kuno. Museum ini terbagi menjadi tiga ruang, yakni pertama adalah ruang Kartini yang berisikan koleksi benda – benda dan koleksi foto – foto R.A. Kartini dimasa mudanya. Kedua, ruang Jepara Kuno yang berisikan penemuan barang - barang antik yang ada di Jepara, mulai dari tulang ikan paus yang ditemukan di Karimun Jawa hingga kerajinan – kerajin kuno yang berasal dari Jepara. Ketiga, ruang Daroesalam yang berisikan tentang koleksi barang-barang dan foto-foto saudara Kartini, terutama kakaknya RMP Sosrokartono yang memiliki kemampuan menguasai 26 bahasa asing serta kemampuan dibidang pengobatan melalui media air putih. Lebih dari itu, Mas Faiz juga membantu untuk menterjemahkan cerita pada koleksi foto – foto yang ada di dalamnya hingga membuat sebuah ceritta yang menarik terkait sejarah dari tokoh R.A. Kartini. Seperti contoh cerita bahwa R.A. Kartini berasal dari rahim seorang Ibu yang berasal dari Ulama Besar di Jepara, namun karena Ayahnya Kartini adalah seorang Bupati Jepara dan ingin melanggengkan tahta kepemimpinan kepada keturunannya, maka Ayahnya harus menikah lagi yang kedua dengan golongan bangsawan kala itu dan istilah yang disematkan kepada istri keduanya adalah Garwo Padmi, sedangkan istri pertamanya memiliki istilah Garwo Ampil dan yang membuat mirisnya dari cerita itu adalah anak keturunan dari istri pertama / Garwo Ampil tidak boleh memanggil ibu kandungnya sebagai sebutan Ibu, melainkan “Si Mbok” yang kala itu panggilan tersebut diibaratkan sebagai pembantu rumah tangga.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp 10.000,-
Weekend
Dewasa : Rp 10.000,-
Sumber : https://museumkartini.id, https://museumindonesia.com, https://jepara.go.id, Sumber Pribadi
Ketika berbicara Jepara, tentu kita tidak boleh hanya bercerita tentang Raden Ajeng Kartini saja, namun ada kisah yang tak kalah seru, yaitu kisah Perjuangan Ratu Kalinyamat yang erat hubungannya dengan Pertapaan Sonder di kawasan Desa Tulakan, Kec. Keling. Ratu Kalinyamat dulunya adalah seorang Ratu yang dilahirkan pada era Kerajaan Demak. Ratu Kalinyamat sendiri merupakan Putri kedua dari Sultan Trenggono yang memiliki suami seorang saudagar Tiongkok yang bernama asli Win-Tang. Di karenakan Win-Tang merupakan pendatang yang hadir ke Jepara dan menyebarkan Islam, maka dia diberi gelar Sultan Hadlirin. Singkat cerita, setelah Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat menikah, Kerajaan Demak dipimpin oleh Sunan Prawoto yang merupakan kakak dari Ratu Kalinyamat. Cerita Pertapaan Sonder ini bermula dari cerita saudara sepupu dari Ratu Kalinyamat yang bernama Arya Penangsang yang berkeinginan untuk membalaskan dendam kepada Sunan Prawoto yang saat itu menjabat sebagai Raja Demak III atas kematian ayahnya yang bernama Raden Kikin atau Pangeran Surowiyoto saat memperebutkan tahta Kerajaan Demak.
Cerita berlanjut ketika Arya Penangsang behasil membunuh Sunan Prawoto melalui utusannya yang bernama Soreng Rangkud. Ratu Kalinyaman yang merupakan sang adik dari Suanan Prawoto bersikeras untuk menyelidikinya, dan alhasil sang Ratu mengetahui bahwa dalang pembunuhan Sunan Prowaoto adalah Arya penangsang yang mendapatkan dukungan dari Sunan Kudus. Sontak saja, sang Ratu dan suaminya mempertanyakan tentang hal tersebut kepada Sunan Kudus yang merupakan guru dari Sultan Haldirin, namun penjelasan Sunan Kudus justru menekankan bahwa Sunan Prawoto memiliki hutang pati karena telah membunuh ayahnya Arya Penangsang, dan itu merupakan karma dari Sunan Prawoto atas perbuatnnya. Dikarenakan jawaban Sunan Kudus yang justru membela Arya Penangsang, Sang Ratu pun kesal dan ingin segera kembali ke Jepara bersama suaminya, namun ditengah perjalanan rombongan Sang Ratu dihadang oleh Arya Penangsang dan pasukannya sehingga terjadilah peperangan singkat yang menyebabkan tewasnya Suami sang Ratu yang bernama Sultan Hadlirin dalam peperangan tersebut. Disaat itulah Sang Ratu menjadi Janda dan akhirnya dia bertapa di Pertapaan Sonder untuk berdoa dan meminta keadilan kepada Tuhan agar dapat membalaskan kematian Suaminya yang dibunuh oleh Arya Penangsang. Hingga suatu ketika Doanya dikabulkan, bahwa Arya Penangsang akhirnya tewas di tangan Sultan Hadiwijaya.
Pertapaan Sonder yang masih terjaga kondisinya dengan baik hingga saat ini, banyak sekali didatangi oleh para pengunjung dari dalam maupun luar kota Jepara. Hal ini disebabkan karena lokasi Pertapaan Sonder Ratu kalinyamat memiliki udara yang cukup sejuk karena dikelilingi oleh pohon - pohon rindang seperti dua pohon beringin sebagai pintu masuk menuju lokasi bertapa Ratu Kalinyamat. Jika menurut renteten cerita sejarah yang ada, pertapaan ini merupakan cikal bakal perjuangan Ratu Kalinyamat dimulai, sebagai wujud emansipasi wanita kala itu. Dan perlu diketahui bahwa di masa kekuasaan Sultan Hadlirin, Ratu Kalinyamat turut membantu menyebarkan seni ukir yang diajarkan oleh Ayah Tiri Sultan Hadlirin yang berasal dari Cina dan dipadukan oleh Ratu kalinyamat dengan ukiran-ukiran dari Majapahit, yang hingga kini menjadikan Jepara sebagai Kota Ukir Dunia. Jadi, dari pertapaan tersebut muncullah sosok yang dikenal sebagai salah satu pahlawan wanita dari Kota Jepara sebelum R.A. Kartini. Sekarang tempat pertapaan Ratu Kalinyamat yang berupa batu lempeng sudah dipendam dan diberi batu nissan serta ditutup menggunakan tirai berwarna putih dan kuning yang diharapkan tetap terjaga kesakralannya serta tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Gratis / hanya parkir
Weekend
Dewasa : Gratis / hanya parkir
Sumber : https://jateng.idntimes.com/, https://www.viva.co.id/
https://travel.okezone.com/, Muchlisin (Juru Kunci), Sumber Pribadi