Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng adalah salah satu situs bersejarah paling terkenal di Indonesia. Dataran ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, karena dikenal dengan pesona alamnya yang indah di Pulau Jawa yang dikelilingi oleh hijau pegunungan dan hamparan awan. Hal itu membuat Dieng memiliki udara dingin yang segar. Selain alamnya yang elok, Dieng juga menyimpan banyak objek wisata geologi dan sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Fungsi utama wilayah Dataran Tinggi Dieng saat ini selain sebagai dataran pertanian dan perkebunan, juga merupakan daerah yang sedang dikembangkan dari sektor pariwisata dan pusat industri listrik tenaga panas atau geotermal. Poteni pariwisata di Dataran Tinggi Dieng cukup menonjol baik dalam lingkup regional, nasional, maupun internasional. Mengingat potensi kepariwisataan pada kawasan tersebut berupa perpaduan dari beberapa keajaiban alam dan peninggalan sejarah.
Selain itu, keunikan dataran tinggi Dieng ini adalah dalam konteks budaya, masyarakat dataran tinggi Dieng mempunyai keunikan pada sebagian besar anak- anak mereka. Fenomena yang terjadi pada anak- anak di dataran tinggi Dieng telah terjadi secara turuntemurun yang melekat pada masyarakat dataran tinggi Dieng. Fenomena yang terjadi pada masyarakat dataran tinggi Dieng adalah adanya anak berambut gimbel yang merupakan legenda hidup masyarakat Dieng. Fenomena ini menghadirkan budaya yang dinamakan “Ruwatan Rambut Gimbal”. Ruwat rambut gembel adalah tradisi yang dilakukan bagi anak yang memiliki rambut gembel yang dilakukan di daerah Dieng. Tradisi turun temurun ini dipercaya akan membawa keselamatan pada anak. Para orangtua yang memiliki anak berambut gimbal akan mengadakan ruwat rambut gembel atau mengikutsertakan anak mereka dalam ruwat rambut gembel secara masal. Budaya Ruwatan yang mereka lakukan sampai saat ini menunjukkan bahwa masyarakat Dieng masih memegang teguh tradisi-tradisi yang berasal nenek moyang mereka, meski seiring perkembangan zaman proses dan tata caranya mengalami pergeseran, namun esensi dari ruwatan tersebut tetap sama. Proses ruwatan secara massal diawali dengan arak-arakan yang diiringi oleh berbagai tarian dan musik tradisional. Arak-arakan itu bermula dari suatu desa menuju kompleks candi Arjuna. Setelah sampai candi Arjuna, anak-anak berambut gembel akan dijamasi atau dimandikan. Pencukuran dilakukan di depan candi Arjuna dan dilakukan oleh sesepuh desa dengan iringan doa-doa, musik, dan shalawatan. Setelah dicukur, sesuatu yang diminta anak (bebono) akan diberikan kepada anak. Masyarakat Dieng merasa senang dan bersyukur saat anak mereka yang memiliki rambut gembel sudah diruwat.
Sumber : Dieng Plateau Theater (Dinas Pariwisata Wonosobo), diengplateau.com