Tempat ini perupakan kawasan pantai yang berada di Desa Bangsring, Kec. Wongsorejo. Perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa Grand Watudodol ini berhasil menyabet predikat Asean Clean Tourism City tahun 2018 di Thailand. Hal ini disebabkan karena tempat ini merupakan salah satu destinasi di kawasan Asean yang bermutu tinggi. Selain itu, lokasi Grand Watudodol juga merupakan tempat atau spot terbaik untuk menikmati sunrise di Banyuwangi, sebab posisinya yang menghadap langsung ke selat Bali. Grand Watudodol sendiri tidak lepas dari cerita dibalik Watu Dodol yang lokasinya berada ditengah jalan antara jalur utama Situbodo & Banyuwangi. Batu yang menjulang tinggi keatas dengan ketinggian lebih kurang 10 meter ini memiliki cerita dengan banyak versi, salah satunya yaitu legenda Ki Buyut Jaksa yang menjadi cikal bakal tradisi Puter Kayun (tradisi masyarakat Osing sebagai wujud syukur dan menghormati leluhur dengan napak tilas mengendarai dokar dari Kelurahan Boyolangu (dulu namanya Gunung Singangu) menuju Watu Dodol. Selain itu, dikawasan ini kita juga bisa menemukan empat destinasi sejarah yang terkait dengan cikal bakal Blambangan (Banyuwangi) kala itu, diantaranya yaitu :
Batu Besar
Batu itulah yang disebut sebagai Watu Dodol. Banyak sekali cerita rakyat yang menjelaskan bahwa batu tersebut telah dipecah hingga menarikya dengan kapal, namun tidak ada yang satupun yang berhasil memindahkannya, bahkan kapal yang menariknya dikabarkan hingga terbelah menjadi dua. Oleh sebab itu hal tersebutlah yang menjadikannya dipercayai bahwa batu itu merupakan batu yang dijaga oleh sosok gaib karena konon batu itu merupakan pintu gerbang dari kerajaan yang sering dilalui oleh Ratu Pantai Selatan. Ada juga yang mempercayai bahwa batu itu sebelumnya ada dipinggir pantai namun tiba – tiba saja pada suatu malam batu tersebut berpindah ke tengah jalan.
Patung Gandrung
Patung Gandrung berada persis disamping Watudodol atau lebih tepatnya disebelah timur Watudodol. Konon patung ini terkadang bisabergerak sendiri seperti menari atau bahkan mungkin ekspresinya bisa berubah-ubah. Banyak sekali tayangan TV atau Youtube yang mengulas tentang patung yang memiliki roh gaib tersebut.
Bungker Peninggalan Jepang
Diatas bukit Watu Dodol akan kita jumpai juga bungker peninggalan Jepang. Dulunya bungker ini berfungsi sebagai benteng pertahanan Jepang pada perang Dunia II, namun kini bungker tersebut sudah tidak digunakan lagi, pungkas Yeti Chotimah (Pemerhati Sejarah Banyuwangi).
Sumur Air Tawar
Jika kita turun ke area laut dibawah Patung Gandrung, kita akan melihat sumur air tawar. Air tawar tersbut keluar dari bebetuan yang ada disekelilingnya. Air tersebut konon dipercaya memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Air tawar itu hingga kini masih dipergunakan untuk upacara keagamaan terutama bagi umat hindu menjelang nyepi pada upacara melasti.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp. 5.000,-
Weekend
Dewasa : Rp. 5.000,-
Sumber : m.liputan6.com, www.yukbanyuwangi.com, Sumber Pribadi
Apabila kita berkunjung ke Pendopo Blambangan, tentu kita akan menemukan banyak destinasi yang bisa kita kunjungi, apa saja sih destinasi yang ada di Pendopo Blambangan ini? Yuk kita cari tahu . . .
Pendopo Utama
Meski bentuk awal Pendopo masih dipertahankan hingga kini, namun realitanya pendopo ini telah mengalami pemugaran sebanyak dua kali, dan telah diubah konsepnya menjadi ramah lingkungan oleh Bupati Abdullah Azwar Anas. Tindak tersebut tentu juga mengubah citra yang dulu terkesan angker dan angkuh dengan pagar – pagar tinggi yang seolah menjadi batas bagi penguasa dan rakyat kali itu.
Rumah Dinas Bupati Banyuwangi
Rumah Dinas Bupati Banyuwangi ini merupakan peninggalan zaman Belanda yang sudah direnovasi. Selain itu di terasnya juga terdapat jejeran kursi yang dipergunakan untuk menyambut tamu yang tentu tidak sembarang orang boleh memasukinya atau mendudukinya, namun jika wisatawan ingin berfoto masih dipersilahkan.
Taman & Gazebo
Taman dan gazebo ini merupakan area yang menjadi favorit bagi setiap wisatawan jika berkunjung kesini. Bagaimana tidak, area ini dikelilingi oleh banyak pepohonan yang menjulang dan rerumputam yang asri yang dapat membuat wisatawan merasa rileks menikmati kesejuk dengan duduk di gazebo yang disediakan. Selain itu, tempat ini juga sering digunakan oleh Bupati untuk mengadakan jamuan bagi para tamunya.
Musholla dengan arsitektur yang unik
Musholla yang dibangun oleh arsitek kenamaan Indonesia yaitu Andra Martin ini memiliki luas 8 x 9 meter dengan tumpukan kayu ulin dan rangka baja yang kuat dengan mengadaptasi gerakan sholat yang di implemantasikan ke dalam bentuk asimetris yang menggambarkan bentuk bangun ruang tiga dimensi. Selain itu, Musholla ini juga dikelilingi pepohonan rindang dan kolam ikan koi yang menambah kesan adem dan asri apabila berada di dalam Mosholla tersebut.
Rumah Adat Osing
Rumah adat osing ini tentu dibuat dengan tujuan untuk mengenalkan tamu yang berkunjung supaya mengetahui bentuk khas rumah adat suku asli Banyuwangi tersebut agar bisa terus lestari
Bunker Guest House
Bunker guest house rancangan arsitek Adi Purnomo ini berkonsep Green House. Guest house ini memiliki enam kamar utama, ruang makan, dan dapur. Guest house yang berkonsep green house ini terdapat dua buah, yang pertama adalah disisi barat bangunan utama pendopo yang difungsikan sebagai tempat menginap para tamu peting, dan yang kedua yaitu disisi timur bangunan utama pendopo dan difungsikan sebagai tempat rapat, kantor, atau sekretariat kegiatan. Meski berada dalam timbunan tanah, kamar – kamar tersebut selalu dijaga kebersihannya dan diberi cerobong batu dengan tutup kaca yang langsung mengarah ke atas agar tidak terasa lembab ataupun gelap.
Sumur Sritanjung
Legenda Sumur Sritanjung inilah yang menjadi asal – usul nama Banyuwangi, yang mana mengisahkan seorang istri yang setia meski telah difitnah sedemikian rupa. Konon sumur yang berada di dalam Pendopo Sabha Blambangan ini seringkali berbau harum atau wangi dan dipercaya membawa banyak manfaat, salah satunya yaitu air sumurnya bisa membuat wajah awet muda jika dibasuhkan ke wajah, ujar Rahmat dan Bagus (Satpol PP) yang bertugas saat itu.
Untuk HTM adalah sbb:
Free (Izin dengan Penjagaan Satpol PP)
Sumber : www.kumparan.com, www.banyuwangibagus.com, www.yukbanyuwangi.co.id, Sumber Pribadi
Air terjun Wagir ini terdapat di Banyuwangi, tepatnya terletak di Kampung Anyar, Desa Taman Suruh, Glagah. Apabila berkunjung ke air terjun ini, kamu akan melihat pemandangan yang menakjubkan. Bagaimana tidak, air terjun ini bersumber langsung dari sumber mata air dan langsung terjun bebas ke bawah dan bukan dari aliran sungai, jadi airnya sungguh bening dan jernih. Konon di air terjun jagir ini memiliki cerita yang tak kalah serunya denagn destinasi – destinasi lain di Kota banyuwangi. Air terjun jagir ini memiliki cerita bahwa nama air terjun ini diambil dari air yang keluar dari akar pohon jagir yang hanya tumbuh dikawasan tersebut. Selain itu dalam kacamata gaib, terdapat makhluk dari bangsa jin yang mendiami kawasan ini seperti ular besar yang tingginya melebihi pohon kelapa, sosok hitam menyerupai anak kecil, adanya sosok dua gadis yang cantik jelita, hingga perkampungan gaib yang berada di dinding tebing air terjun ini. Namun apapun misteri yang terkandung dalam keindahan wisata air terjun ini, sudah sepatutnya kita sebagai pengunjung wajib untuk menghormati tempat yang dikunjungi sebagai bentuk tatakrama saat berada dilokasi guna menghindari hal – hal yang tidak diinginkan.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp. 5000,-
Weekend
Dewasa : Rp. 5.000,-
Sumber : www.koranmemo.com, www.nativeindonesia.com, www.jurnalmedan.com, Sumber Pribadi
De Djawatan merupakan Hutan pohon trembesi yang memiliki luas 9 hektar. De Djawatan ini merupakan aset Perhutani yang mulai dibangun sebagai lokasi wisata pada tahun 2017, namun baru resmi dibuka pada Juni 2018. Nama De Djawatan ini diambil untuk mengingatkan masyarakat tentang kejayaan Perum Perhutani kala itu karena Perhutani dulu namanya Djawatan Kehutanan. Orang mengenal djawatan adalah perusahaan pemerintah yang bergerak dibidang sosial, artinya tidak melulu profit oriented, ucap Bagus selaku Manajer De Djawatan. Hutan De Djawatan ini bagi wisatawan sering disebut sebagai Hutan Lord of The Rings di Banyuwangi, sebab hutan ini hampir mirip dengan hutan yang ada di film The Lord of The Rings. Hutan ini memiliki dua versi cerita, pertama adalah versi TNI dan kedua dalah versi Perhutani. Menurut versi TNI, tempat ini dulunya merupakan arsenal atau gudang senjata milik Belanda, namun hingga sekarang masih belum ada bukti konkrit tentang informasi tersebut. Hanya saja ada petanya TNI yang menunjukkan De Djawatan itu adalah army tank atau asrama tentara. Sedangkan menurut versi Perhutani, tempat itu dulunya difungsikan sebagai Tempat Penimbunan Kayu (TPK) sebelum kayu tersebut dikirimkan ke tangan pembeli. Di depan pintu gerbang hutan terdapat pula rel kereta yang menunjukkan bahwa dulunya hutan De Djawatan ini pernah dilewati jalur kereta api sebagai alat transportasi untuk membawa kayu.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Rp. 7.500,-
Weekend
Dewasa : Rp. 7.500,-
Sumber : www.traveldetik.com, www.exploreijen.com, www.banyuwangibagus.com, www.banyuwangitourism.com, Sumber Pribadi