Pulau kecil yang berada di sebelah barat laut Pulau Lombok atau sering disebut oleh warga Mataram dengan sebutan Lombok bagian utara ini merupakan pulau favorit bagi para wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Bagaimana tidak, pulau kecil ini sungguh sangat memanjakan mata karena eksotisme pantainya yang menakjubkan. Apabila kita menyeberang dari Pulau lombok, kita tempuh hanya 30 menit saja untuk mencapainya. Namun dibalik eksotisme pantainya, Gili Trawangan memiliki cerita sejarah yang menarik yang belum tentu semua orang mengetahuinya. Gili Trawangan ini dulu terbentuk dari gunung api purba yang berada dibawah laut yang mengangkat dasar laut ke permukaan pada umur Oligo-Miosen dan menjadi peristiwa sejarah terbentuknya Gunung Rinjani pada umur Plio-Pleistosen. Selain itu, konon Gili Trawangan ini dulunya juga merupakan Pulau yang tak berpenghuni, karena itu pulau ini pernah menjadi tempat pembuangan. Pada buku sejarah Lombok yang ditulis oleh Lalu Djelelnge menjelaskan bahwa pada Perang Sakra tahun 1826 beberapa pasukan yang tertangkap ditahan dan dipenjara di Cakranegara, Mataram, dan sisanya dibuang ke Gili Grawangan. Selanjutnya pada tahun 1855 terjadi juga Perang Manjeli dan beberapa lelaki desa Manjeli juga dibuang ke Gili Trawangan seperti yang tertulis di buku Sejarah nusa Tenggara Barat yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Selain itu pada masa G30S PKI, orang – orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI diculik dan dibuang ke pulau tersebut. Kemudian pada tahun 1980, Gili Trawangan juga sempat didiami oleh kawanan rusa yang membuat tempat tersebut sering digunakan untuk berburu.
Dan akhirya pada tahun 1990 eksotisme pantai yang terdapat di Gili Trawangan ini mulai dikenal dan dikagumi oleh wisatawan dan ditetapkan sebagai TWA (Taman Wisata Alam) pada tahun 1993, hingga di tahun 2009 Pulau Gili Trawangan beralih menjadi Kawasan Suaka Alam dan kini menjelma menjadi tempat berlibur dan party yang paling terkenal di Lombok. Dan perlu diketahui apabila kita berlibur ke pulau ini kita tidak akan menemukan kendaraan bermotor, namun kita akan menemui alat transportasi tradisional dengan harga sewa yang sangat terjangkau yaitu sepeda dan dokar dengan tujuan untuk menjaga kelestarian eksotisme pulau tersebut.
Sumber : www.infonusaidn.com, www.adhasusanto.com, www.nativeindonesia.com, Sumber Pribadi
Desa Sukerare merupakan desa yang terkenal mahir dalam menenun. Nama dsa ini berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “Suke” yang artinya tidak ada unsur paksaan darimanapun & atas kemauan sendiri, sedangkan “Rare” artinya ingin menyendiri dan berkiprah dari azaz berdikari. Desa Sukerare ini berada di Lombok Tengah dan jika berangkat dari Kota Mataram, maka jarak yang kita tempuh sedkitar 25 km atau 30 menit perjalanan. Desa Sukerare ini merupakan salah satu desa di Lombok yang masih memegang erat adat istiadatnya selain Desa Sade. Adat istiadat yang dipegang Desa Sukerare ini tercermin dari bagaimana cara melestarikan budaya lokalnya, salah satunya adalah dengan cara menenun. Di Desa Sukerare ini, menenun merupakan kegiatan sehari – hari warga desa, sebab hal tersebut seperti sudah mendarah daging bagi kaum perempuannya. Tidak hanya itu, menenun ini juga merupakan syarat wajib bagi perempuan untuk menikah. Hal itu disebabkan apabila gadis-gadis desa pandai menenun, minimal mereka akan betah membantu ibu atau nenek mereka untuk duduk berjam-jam menenun benang menjadi kain, yang kemudian akan dijual sebagai oleh-oleh kerajinan khas Lombok agar kerajinan tenun songket khas Desa Sukarare Lombok tersebut tetap eksis.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Donation
Weekend
Dewasa : Donation
Sumber : www.traveldetik.com, www.sukerarelomboktengahkab.go.id, www.firstlomboktour.com, Sumber Pribadi
Indonesia memiliki banyak sekali pulau yang masih mempertahankan budaya lokal atau adat istiadat, dan salah satunya adalah Pulau Lombok. Pulau yang terkenal dengan Gunung Rinjani ini memiliki suku asli yang bernama suku Sasak, dimana mereka banyak bermukim di daerah desa Sade. Desa Sade ini berada di Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di desa ini, rumah adat, baju adat, bahasa, kebiasaan dan lain sebagainya semuanya masih seperti zaman dulu, masih kental dengan segala budaya dan tradisinya.Yang unik dari desa Sade ini adalah rumah adat-nya. Rumah adat Desa Sade Lombok sangat sederhana dan dalam pembangunannya masih menggunakan bahan yang didapat oleh warganya dari alam. Dinding dan lantai rumah adat ini terbuat dari tanah liat atau gerabah, sedangkan atapnya terbuat dari daun alang-alang yang sudah kering. Tak hanya itu, keunikan lainnya ialah cara penduduk desa setempat membersihkan lantai rumahnya, mereka membersihkan lantai rumah adat-nya adalah dengan cara menggunakan kotoran kerbau dan anehnya kotoran kerbau ini tidak berbau sebab kotoran kerbau yang masih baru tersebut dicampurkan dengan tanah liat lalu digosokkan ke lantai dan hal tersebut dilakukan oleh warga setempat lebih kurang sebulan sekali.
Selain keunikan dari rumah adat-nya, desa Sade ini juga memiliki tarian tradisional yang khas yang bernama tari Peresean. Tari ini dilakukan oleh dua pria saling berhadapan sambil membawa rotan sebagai penjalin (pemukul) dan tameng berbentuk segi empat atau ende yang terbuat dari kulit kerbau. Tari ini dulunya berfungsi sebagai seleksi prajurit dan pengawal raja kala itu. Hingga kini tari tersebut masih dilestarikan oleh warga desa sebagai budaya tradisional yang wajib dijaga dan diteruskan oleh anak cucu agar menjadi kearifan lokal suku Sasak yang tidak hilang begitu saja, pungkas Umak Akum (Pak Umak) pelestari budaya desa suku Sasak. Dan hal tersebut terbukti dengan menjadikannya tari Peseran ini sebagai tarian selamat datang sebagai upaya penyambutan wisawatan lokal maupun mancanegara.
Sumber : https://osc.medcom.id, https://indonesia.go.id, Sumber Pribadi
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Donation
Weekend
Dewasa : Donation
Sumber : https://osc.medcom.id, https://indonesia.go.id, Sumber Pribadi
Pura Lingsar ini merupakan alkuturasi antara nilai ajaran Hindu dari Bali dan ajaran Islam dari suku sasak. Pura yang dibangun sejak tahun 1741 dan masih merupakan kekuasaan dari Raja darah daging keramat Ketut Karangasem ini memiliki luas mencapai 26 hektar Meski nilai kedua ajaran ini hidup berdampingan, tidak pernah sedikitpun terjadi gencetan diantara mereka, dan justru menunjukkan keharmonisan antara ajaran Hindu dan Islam. Salah satu contohnya dalam pemilihan hewan yang dikurbankan adalah kerbau, sebab jika sapi dan babi akan bertentangan antar kedua ajaran tersebut. Di Pura ini suasananya masih terasa religius & tenang. Oleh sebab itu, apabila wisatawan berkunjung ke Pura Lingsar ini, mereka wajib mengenakan selendang berwarna putih atau kuning sebagai simbol penghormatan tanda keperawanan pura.
Di dalam Pura kita akan melihat empang yang memiliki luas 6.230 meter persegi dan dibangun untuk menghormati Dewa Wisnu, yang bernama Telaga Ageng. Didalamnya terdapat hal unik, yaitu beberapa koin yang menghiasi lapisan bawah empang tersebut. Koin – koin ini sengaja dilemparkan oleh para wisatawan yang berkunjung karena dipercaya untuk mendapatkan kemudahan rezeki dari Tuhan. Selain itu, konon di dalam air tersebut juga terdapat ikan yang berukuran +/- satu meter yang hanya bisa dipanggil oleh pawangnya dengan memberikan dua butir telur ayam sebagai makanan kesukaannya. Tidak hanya itu, disekitar area Telaga Ageng tersebut juga terdapat tujuh pancuran yang berasal dari sumber kaki gunung Rinjani yang juga dipercaya untuk membuat awet muda kepada siapa saja yang membasuh wajahnya.
Selain itu, di Pura ini setiap tahunnya juga masih digunakan sebagai tempat ibadah dan upacara ritual adat, seperti yang masih bisa kita lihat yaitu ritual Perang Topat, perang antara Hindu dan Islam dengan menggunakan topat atau ketupat yang dilemparkan ke sesama temannya. Perang ini sendiri memiliki arti rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan oleh Tuhan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan Pura Lingsar ini.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Donation
Weekend
Dewasa : Donation
Sumber : www.lombokbaratkab.go.id, www.lombokinsider.com, www.lombokoriginal.com, Sumber Pribadi
Batu bolong di artikel kali ini adalah berada di Lombok atau lebih tepatnya berada di area Geopark Rinjani, di dusun Batu Bolong Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat NTB. Batu bolong di Lombok ini memiliki pesona eksotisme yang sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, diatas batu bolong ini terdapat sebuah Pura yang berusia ratusan tahun. Apabila kita bercerita tentang batu bolong dan Pura yang berada diatasnya, maka kita akan merujuk pada kisah seorang tokoh pemuka agama Hindu dari Pulau Jawa yang bernama Dyang Hyang Dwijendra. Beliau mendirikan pura tersebut kisaran tahun 1533 dengan tujuan untuk melakukan penyebaran Hindu dari Jawa menuju Bali, dan terakhir menuju Lombok. Dari segi fungsinya, Pura ini digunakan untuk melakukan peribadatan atau persembahyangan Agama Hindu. Lebih dari itu, tidak banyak literasi yang menceritakan tentang bangunan (Pura) atau batu bolong yang disebabkan abrasi dari air laut tersebut. Namun ada tiga pesona sebagai daya tarik tersendiri dari lokasi ini, diantaranya :
1. Pantai
Batu bolong ini terletak di Pantai senggigi yang sudah terkenal dengan pemandangan yang eksotis dan berdecak kagum bagi siapa pun yang mengunjunginya.
2. Batu andesit
Batu ini berwarna hitam dan masuk ke dalam kategori batuan andesit. Batuan andesit memang kerap kali ditemukan di sebuah kawasan perbatasan lautan.
3. Pura
Pura yang berusia ratusan tahun ini masih berdiri kokoh di tepian laut yang tentu memiliki tata letak yang mampu menghasilkan view yang sangat luar biasa indahnya.
Untuk HTM adalah sbb:
Weekday
Dewasa : Donation
Weekend
Dewasa : Donation
Sumber : ntb.idntimes.com, www.nativeindonesia.com, www.suara.com, Sumber Pribadi