Dari Buku "Sejarah GPIB Tamansari Salatiga: Menuju Jemaat Misioner 1956 – 2010” (2013), dapat dicatat sejarah panjang GPBI Tamansari, bahkan jauh sebelum keberadaan GPIB Tamansari. Dalam buku tersebut digambarkan:
Pada masa pemerintahan Hidian Belanda, Kota Salatiga meskipun kecil, keadaan sekitarnya indah dan berhawa sejuk, sehingga dipilih sebagai tempat pemukiman dan dikenal sebagai “De Schoonste Stad Van Midden Java” (Kota Terbersih di Jawa Tengah). Tidak hanya kota pemukiman, kota ini juga dikenal sebagai tempat istirahat. Di pusat kota inilah terdapat gereja yang dibangun pemerintah Hindia Belanda dengan nama De Inische Kerk (Gereja Hindia) atau De Protestante Kerk in Indonesia (Gereja Protestan di Indonesia).
De Indische Kerk merupakan gereja yang berkedudukan di negeri Belanda yang kemudian masuk ke Indonesia untuk melayani orang-orang Kristen asal negeri Belanda, orang asing lainnya, serta sebagian orang Indonesia. Dalam perkembangannya gereja tersebut sampai di Salatiga dan melayani, antara lain pegawai pemerintah Hinda – Belanda, pegawai perkebunan dan tantara Belanda.
De Indische Kerk berlokasi di pusat Kota Salatiga. Di depan gereja terdapat sebuah tugu yang dilewati kendaraan-kendaraan dari Salatiga menuju Semarang melalui jalan Toentangscheweg (Jalan Tuntang, sekarang jalan Diponegoro), dari Solo menuju Semarang melalui Soloscheweg (Jalan Solo, sekarang bernama jalan Sudirman) dan menuju Beringin melalui Bringinscheweg (Jalan Bringin, sekarang disebut jalan Pattimura). Jadi tugu tersebut terletak di simpang tiga. Setelah itu dibuat jalan menuju pemandiang Kalitaman yang diberi nama Wilhelminalaan (sekarang jalan Pemuda), simpang tiga tersebut berubah menjadi simpang empat.
Tugu tersebut merupakan titik pusat kota pada waktu itu dan di sebelah timur tugu terletak gedung De Indische Kerk, dan di sebelah barat terletak kediaman asisten residen (kemudian menjadi tempat tinggal burgemeester / walikota). Untukmemperindah kota dibangun sebuah taman yang dikenal dengan sebutan Taman Sari, di sebelah selatan gedung De Indische Kerk berseberangan dengan rumah kediaman asisten residen. Taman Sari tersebut ditanami beraneka ragamkembang dan di dalamnya terdapat beberapa air mancur dan sebuah kebun binatang mini. Daerah ini pada masa lampau dikenal dengan sebutan Tamansari. Dari nama itulah berasal nama yang digunakan oleh GPIB Jemaat Tamansari. Disebelah selatan Taman Sari dibangun hotel Berg en Dal (Gunung dan Lembah) dan di sebelah utara Taman Sari dibangun hotel Kalitaman. Hotel Berg en Dal sudah tidak ada lagi, sedangkan hotel Kalitaman sekarang telah diubah bentuk gedungnya dan beralih fungsi menjadi kantor Bank Jawa Tengah, kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kotamadya Salatiga. Di sebelah timur hotel Kalitaman, dibangun sebuah gedung tempat rekreasi untuk orang-orang Eropa yang diberi nama ”Sociteit Harmonie,” dan sekarang menjadi Gedung Pertemuan Daerah (GPD). Selain itu dibangun pula kantor asisten residen di komplek rumah kediamannya dan didirikan ”Algemeene Volksch Bank (Bank Rakyat Umum) serta Post Telefoon Telegram Kantoor (sekarang kantor Pos, Telpon dan Telegram) dan sebuah sekolah (sederetan dengan PLN sekarang). Tugu sebagai titik sentral kota Salatiga ketika itu, ditambah bangunan- bangunan danTaman Sari di sekitarnya kemudian berkembang menjadi pusat kota Salatiga.
Secara detail, perkembangan GPIB Tamansari Salatiga dapat dibaca pada Buku “GPIB Tamansari Salatiga: Menuju Jemaat Misioner 1956 – 2010” di bawah ini.
Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10016585#/query/bbd776fe-a78f-4f89-8a87-70b7639e6132
Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10016585#/query/b6c5504e-1f71-4f58-a717-af1c3dddc669
Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl/?query=search=*=TM-10016585#/query/3be8b6e1-da86-4a0e-a6fa-46179292db03