Forum Kolaborasi Kajian Isu Gizi (FOKUZ) merupakan forum diskusi yang dilaksanakan oleh pengurus Formazi FKM Unhas. Melalui pengumpulan data dan observasi wilayah terkait kebijakan Program Makan Bergizi Gratis untuk melaksanakan diskusi dan kolaborasi antara mahasiswa dan pihak/instansi yang berwenang.
Press Release Forum Kolaborasi Kajian Isu Gizi (FOKUZ)
FOKUZ – Forum Mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Formazi FKM Unhas) Periode 2024-2025 telah melaksanakan salah satu program kerja dari Divisi Kajian Isu Kegizian yaitu Forum Kolaborasi Kajian Isu Gizi (FOKUZ). FOKUZ merupakan program kerja yang mengkaji dan mengawal isu terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan saat ini dengan sasaran 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) serta siswa mulai dari jenjang pendidikan TK hingga SMA. Hasil kajian sementara yang telah dibuat selanjutnya disampaikan dalam forum diskusi dengan melibatkan penanggap dari 2 himpunan yaitu Perhimpunan Mahasiswa Gizi (PERMAZI) Universitas Tadulako dan Himpunan Mahasiswa Gizi (HIMAZI) Universitas Binawan. Forum diskusi yang dilaksanakan menjadi wadah untuk berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai bagaimana pelaksanaan program MBG saat ini.
Forum diskusi FOKUZ telah dilaksanakan secara hybrid pada hari Jum’at, 14 November 2025 di ruangan K-105 FKM Unhas dan via zoom meeting. Adapun tema dari forum diskusi ini yaitu “Makan Bergizi Gratis: Implementasi dan Efektivitas dalam Menangani Masalah Gizi di Indonesia” yang dipandu oleh Naila Syakirah selaku Master of Ceremony dan Andi Khusnul Khatimah sebagai moderator. Pelaksanaan kegiatan ini didukung dengan adanya penanggap dari PERMAZI Universitas Tadulako dan HIMAZI Universitas Binawan yang mengikuti kegiatan ini melalui via zoom meeting. Adapun hal-hal yang dibahas dan didiskusikan dalam forum ini yaitu latar belakang permasalahan gizi di Indonesia yang selanjutnya mengerucut pada hadirnya program MBG, dampak, serta tantangan operasional program MBG. Total keseluruhan peserta yang menghadiri kegiatan ini yaitu sebanyak 21 orang.
Kegiatan diawali dengan pemaparan dari anggota Divisi KIK terkait pandangannya mengenai program MBG, dilanjutkan oleh pemaparan dari PERMAZI Universitas Tadulako dan HIMAZI Universitas Binawan. Setelah melalukan pemaparan selanjutnya dilakukan sesi diskusi bersama yang membahas terkait program MBG, dampak negatif dan positif, dan bagaimana pengimplementasiannya dilapangan terkhususnya di wilayah masing-masing. Selama kegiatan berlangsung, para peserta secara aktif terlibat dalam menjawab pertanyaan dari peserta maupun bertanya pada peserta lainnya. Forum ini menjadi sarana interaksi antara Himpunan Mahasiswa (HIMA) yang satu dengan hima yang lainnya. Beberapa dari mereka memaparkan terkait manfaat program MBG dan juga menyampaikan terkait permasalahan yang lagi hangat mengenai program MBG.
Hasil akhir diskusi ini diperoleh pemahaman terkait pandangan program MBG di beberapa wilayah diluar Sulawesi Selatan melalui diskusi antar hima. PERMAZI Universitas Tadulako dan HIMAGIZI Universitas Binawan telah cukup menyampaikan pendapat mereka tentang manfaat MBG dan juga sharing terkait isu-isu yang telah hangat di kota mereka mengenai program ini.
Press Release Forum Kolaborasi Kajian Isu Gizi (FOKUZ) II
FOKUZ – Forum Mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (Formazi FKM Unhas) Periode 2024-2025 telah melaksanakan salah satu kegiatan dari program kerja dari Divisi Kajian Isu Kegizian yaitu Forum Diskusi II FOKUZ. FOKUZ merupakan program kerja yang mengkaji dan mengawal isu terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan saat ini dengan sasaran 3B (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) serta siswa mulai dari jenjang pendidikan TK hingga SMA.
Forum diskusi II ini merupakan forum lanjutan dari forum diskusi sebelumnya yang telah membahas mengenai operasional MBG bersama 2 Himpunan Mahasiswa Gizi dari Universitas Tadulako dan Universitas Binawan. Forum diskusi II mengangkat tema “Makan Bergizi Gratis: Implementasi dan Efektivitas dalam Menangani Masalah Gizi di Indonesia”. Diskusi ini melibatkan pihak dari Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) yang diwakili oleh Nurhalisah S.Gz dan pihak Program Studi Ilmu Gizi FKM Unhas yang diwakili oleh Dr. Abdul Salam., S.KM., M.Kes.
Hasil kajian Forum Diskusi 2 yang dilaksanakan pada 1 Desember 2025 membahas perkembangan dan tantangan implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Makassar. Program ini merupakan bagian dari visi nasional dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, dengan tujuan meningkatkan asupan gizi, kesehatan, serta kualitas pembelajaran peserta didik. Hasil observasi di wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi, terutama di sekitar Puskesmas Maradekaya, menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG di tingkat sekolah dasar telah diterima dengan baik oleh siswa. Namun, di tingkat taman kanak-kanak sempat terjadi penolakan karena rasa makanan yang terlalu asin dan penyajian yang kurang menarik, meskipun setelah evaluasi oleh SPPG penerimaan siswa meningkat secara signifikan.
Diskusi menyoroti tantangan operasional, terutama terkait keterbatasan tenaga pelaksana yang belum seluruhnya memiliki latar belakang gizi. Pelatihan yang diberikan juga dinilai masih bersifat dasar dan belum berkelanjutan, sehingga mempengaruhi mutu implementasi program. Pihak sekolah swasta menilai bahwa MBG lebih tepat diarahkan kepada sekolah dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah, sementara isu keamanan pangan turut menjadi perhatian karena penerapan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) belum berjalan optimal, sehingga risiko kontaminasi masih perlu diwaspadai.
KPPG Sulawesi Selatan menjelaskan bahwa MBG berada dalam ekosistem besar yang melibatkan sekolah, pemerintah daerah, dinas kesehatan, kementerian terkait, serta penyedia bahan baku seperti koperasi dan Bulog. Hingga 1 Desember 2025, terdapat 67 SPPG aktif di Kota Makassar dengan jumlah penerima manfaat mencapai 147.876 orang. Tantangan yang masih dihadapi termasuk belum tersedianya Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) pada beberapa unit produksi serta penanganan isu viral seperti keluhan rasa atau dugaan kontaminasi makanan. Koordinasi penyelesaian masalah dilakukan berjenjang, dimulai dari SPPG hingga ke KPPG bila diperlukan.
Pengelolaan sisa makanan juga menjadi perhatian penting, di mana SPPG bekerja sama dengan komunitas pengelola sampah, peternakan lokal, dan bank sampah untuk memanfaatkan food waste sebagai pakan ternak. Untuk wilayah 3T, pemerintah disebut telah menyusun skema infrastruktur dan logistik guna memastikan distribusi makanan tetap dapat berjalan, meskipun implementasinya masih bertahap. Pendataan alergi makanan dilakukan sebelum operasional, sehingga menu dapat disesuaikan bagi siswa dengan kondisi khusus. Sementara itu, penolakan orang tua terhadap konsumsi MBG ditangani melalui pendekatan komunikasi dan koordinasi antar pihak sekolah dan SPPG.
Pihak akademisi dari Prodi Ilmu Gizi FKM Unhas menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga pada kualitas pengawasan, keamanan pangan, dan keberlanjutan dukungan anggaran. Penguatan edukasi mengenai higiene dapur dan sanitasi juga dinilai penting untuk memastikan makanan tetap aman hingga ke tangan siswa. Secara keseluruhan, forum ini menegaskan bahwa MBG memiliki potensi besar dalam mendukung perbaikan gizi, meningkatkan kehadiran sekolah, dan memperkuat kualitas pendidikan, namun keberhasilan program sangat bergantung pada kualitas SDM, penerapan keamanan pangan, koordinasi lintas sektor, serta kesiapan infrastruktur terutama pada wilayah dengan akses terbatas.
Setelah rangkaian pelatihan selesai, dilanjutkan dengan agenda penutupan keseluruhan program kerja Forum Kajian Isu Gizi (FOKUZ) pada pukul 16.30 WITA secara online room zoom cloud meeting. Acara penutupan ini turut dihadiri oleh Ketua Departemen Ilmu Gizi FKM Unhas, Presiden BEM FKM Unhas, Maperwa FKM Unhas, dan Hakim Ketua MM FKM Unhas.