Blas (Bercak Belah Ketupat)
yang disebabkan oleh
Cendawan Pyricularia oryzae
(atau Magnaporthe oryzae)
Blas (Bercak Belah Ketupat)
yang disebabkan oleh
Cendawan Pyricularia oryzae
(atau Magnaporthe oryzae)
Penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae (atau Magnaporthe oryzae) merupakan salah satu penyakit utama yang menyerang tanaman padi di berbagai ekosistem, baik padi sawah maupun padi gogo. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyerang seluruh fase pertumbuhan tanaman.
Gejala Spesifik Tanaman Padi yang Terserang Penyakit Blas
1. Blas Daun (Leaf Blast)
Biasanya terjadi pada fase vegetatif (pertumbuhan awal).
Bentuk Bercak: Muncul bercak berbentuk oval atau belah ketupat yang khas (lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya).
Warna Bercak: Bagian pusat bercak berwarna abu-abu atau keputihan (menandakan jaringan mati), sedangkan bagian tepi berwarna cokelat atau cokelat kemerahan.
Perkembangan: Dalam kondisi lembap, bercak akan cepat meluas dan menyatu, menyebabkan seluruh helai daun mengering dan tampak seperti terbakar (gejala "blast").
2. Blas Leher (Neck Blast)
Terjadi pada fase generatif, tepatnya saat tanaman mulai keluar malai. Ini adalah fase yang paling merusak secara ekonomi.
Pembusukan Leher: Adanya bercak cokelat kehitaman pada leher malai (pangkal malai).
Malai Patah: Karena jaringan pada leher malai membusuk dan mengering, malai menjadi tidak kuat menopang berat bulir dan akhirnya patah.
Gabah Hampa: Proses pengisian gabah terhenti total, sehingga malai menjadi hampa dan berwarna putih kusam (mirip gejala beluk pada penggerek batang, namun ditandai dengan pembusukan pada pangkal malai).
3. Blas Buku (Node Blast)
Menyerang ruas-ruas batang tanaman padi.
Warna Hitam pada Ruas: Ruas batang yang terinfeksi akan berwarna cokelat tua hingga hitam.
Batang Patah: Batang menjadi sangat rapuh dan mudah patah tepat pada bagian buku yang terinfeksi tersebut.
4. Blas Kerah Daun (Collar Blast)
Menyerang bagian persambungan antara helai daun dan pelepah daun.
Gejala: Muncul warna kecokelatan pada kerah daun yang dapat menyebabkan helai daun terkulai atau lepas dari pelepahnya.
Periode Emas Pengendalian
Strategi perlindungan tanaman yang berfokus pada pencegahan infeksi cendawan Pyricularia oryzae. Penyakit ini memiliki dua fase serangan: Blas Daun pada fase vegetatif dan Blas Leher (Patah Leher) pada fase generatif. Pengendalian pada fase generatif bersifat mutlak karena menentukan hasil panen secara langsung. Secara lebih spesifik, periode ini terbagi menjadi tiga tahapan utama:
1. Masa Pra-Tanam dan Persemaian (Masa Pre-Emptif)
Langkah awal untuk memutus rantai penularan cendawan yang bersifat terbawa benih (seed-borne) dan sisa tanaman.
Waktu: Sebelum sebar benih hingga bibit berumur 15 Hari Setelah Sebar (HSS).
Tindakan: Perlakuan benih (seed treatment) dengan fungisida sistemik atau agens hayati seperti Pseudomonas fluorescens. Pemilihan varietas tahan yang sesuai dengan biotipe di wilayah setempat.
Tujuan: Melindungi tanaman sejak dini dari infeksi primer yang berasal dari benih.
Alasan: Serangan blas pada persemaian dapat menyebabkan bibit kering dan mati sebelum sempat dipindahkan ke lapangan.
2. Fase Vegetatif Aktif (Anakan Maksimum)
Periode ini adalah masa emas untuk mengendalikan Blas Daun agar tidak menjadi sumber inokulum (sumber penularan) bagi fase generatif.
Waktu: 25–40 Hari Setelah Tanam (HST).
Tindakan: Pengamatan pada daun bawah. Jika ditemukan bercak berbentuk belah ketupat, segera lakukan aplikasi fungisida. (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat) Hindari pemupukan Nitrogen (Urea) yang berlebihan.
Tujuan: Menekan populasi spora di lapangan agar tidak terbang mengenai leher malai saat padi bunting.
Alasan: Kelebihan Nitrogen menyebabkan jaringan daun menjadi lebih lunak dan rentan ditembus oleh penetrasi cendawan melalui spora yang terbawa angin.
3. Fase Generatif (Paling Krusial: Akhir Bunting dan Awal Keluar Malai) ☀️
Inilah "Periode Emas Utama" untuk mencegah penyakit Patah Leher. Jika terlewat, risiko gagal panen meningkat drastis.
Waktu: Dilakukan dua kali, yaitu pada saat Padi Bunting Tua (sebelum malai keluar) dan saat Malai Keluar 5–10%.
Tindakan: Aplikasi fungisida secara preventif (pencegahan) tanpa menunggu gejala muncul, terutama jika cuaca lembap, sering kabut, atau intensitas hujan malam hari tinggi.
Tujuan: Memberikan perlindungan total pada leher malai agar tidak terinfeksi cendawan.
Peringatan: Jika leher malai sudah terlihat busuk/patah (gejala Patah Leher), maka tindakan penyemprotan sudah tidak berguna lagi karena nutrisi ke bulir padi sudah terhenti total.
Mengapa Pengendalian Harus Bersifat Preventif?
Cendawan blas mematikan jaringan pembuluh di leher malai dengan sangat cepat. Begitu gejala patah leher terlihat luas di hamparan, maka bulir padi akan menjadi hampa (puso) dan tidak ada cara untuk mengobatinya kembali.
Strategi Utama:
Perhatikan Suhu dan Kelembapan. Cendawan blas sangat menyukai suhu malam yang dingin (sekitar 22–25oC) dengan kelembapan tinggi atau embun yang lama menempel di daun. Pada kondisi ini, perlindungan kimiawi atau hayati harus segera diperketat.
Panduan Pengendalian
1. Pengendalian Fisik
Menggunakan faktor fisik untuk menekan inokulum awal cendawan pada benih.
Penerapan:
Perlakuan Panas (Hot Water Treatment): Merendam benih padi dalam air panas bersuhu 50o–52o C selama 15 menit sebelum pengecambahan.
Tujuan:
Mematikan spora cendawan Pyricularia yang terbawa di permukaan atau di dalam kulit benih (seed-borne) guna mencegah infeksi dini di persemaian.
2. Pengendalian Mekanik
Tindakan fisik secara langsung untuk menghilangkan sumber infeksi di lapangan.
Penerapan:
Sanitasi Lahan: Mengumpulkan dan memusnahkan (dengan pengomposan atau penguburan) sisa-sisa jerami dari tanaman yang terinfeksi pada musim sebelumnya.
Eradikasi: Mencabut dan membuang tanaman yang menunjukkan gejala serangan berat agar tidak menularkan spora ke tanaman di sekitarnya.
Tujuan:
Mengurangi kepadatan spora (inokulum) cendawan di lingkungan pertanaman.
3. Pengendalian Kultur Teknis
Modifikasi budidaya untuk menciptakan lingkungan yang kurang mendukung pertumbuhan cendawan.
Penerapan:
Pemupukan Berimbang: Menghindari penggunaan pupuk Nitrogen (Urea) secara berlebihan. Disarankan menambahkan pupuk Kalium (K) dan Silika (Si) untuk memperkuat dinding sel tanaman.
Sistem Jajar Legowo: Menggunakan pola tanam (misal Jarwo 2:1) untuk mengurangi kelembapan mikro di sekitar tanaman dan meningkatkan penetrasi sinar matahari.
Manajemen Pengairan: Menghindari penggenangan terus-menerus (intermitten) dan menjaga agar lahan tidak kekeringan ekstrem yang dapat menyebabkan tanaman stres dan lebih rentan.
Tujuan:
Menciptakan kondisi mikroklimat yang tidak lembap dan meningkatkan ketahanan struktural jaringan tanaman.
4. Pengendalian dengan Varietas Tahan
Komponen utama yang paling ekonomis untuk mencegah ledakan penyakit.
Penerapan:
Penanaman varietas yang memiliki ketahanan terhadap ras blas yang ada, seperti Inpari 32, Inpari 48 Blas, Inpari 49, atau Inpago 8, atau varietas lokal yang teruji toleran di wilayah Kabupaten Sigi.
Tujuan:
Menggunakan mekanisme genetik tanaman untuk menghambat penetrasi dan kolonisasi cendawan di dalam jaringan daun.
5. Pengendalian Hayati (Biologis)
Memanfaatkan mikroorganisme antagonis untuk menekan perkembangan patogen.
Penerapan:
Aplikasi Trichoderma spp.: Digunakan sebagai perlakuan benih atau dicampur dengan pupuk organik saat pengolahan lahan.
Aplikasi Bakteri Antagonis: Penggunaan Pseudomonas fluorescens atau Bacillus subtilis yang disemprotkan pada fase vegetatif dan menjelang keluar malai.
Tujuan:
Melindungi tanaman melalui mekanisme kompetisi ruang, nutrisi, dan induksi ketahanan sistemik tanaman.
6. Pengendalian dengan Peraturan (Legal)
Langkah pencegahan melalui pengawasan distribusi bahan tanaman.
Penerapan:
Pengawasan Mutu Benih: Memastikan benih yang beredar di tingkat petani telah tersertifikasi dan berasal dari blok perbanyakan yang bebas dari serangan blas leher yang berat.
Tujuan:
Mencegah penyebaran ras cendawan penyebab blas baru yang lebih virulen dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
7. Pengendalian Kimiawi (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Pilihan terakhir yang dilakukan jika metode lain tidak memadai dan kondisi lingkungan sangat mendukung (hujan terus-menerus dan kelembapan tinggi). Penyemprotan dilakukan dua kali, yaitu pada saat padi bunting (mencegah infeksi leher malai) dan saat padi mulai berbunga/keluar malai.
Tujuan:
Memberikan perlindungan kimiawi pada bagian leher malai yang merupakan titik paling kritis terhadap serangan cendawan blas.