Wereng Hijau
(Nephotettix virescens)
dan Penyakit Tungro,
yang disebabkan oleh
Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV)
dan
Rice Tungro Spherical Virus (RTSV)
Wereng Hijau
(Nephotettix virescens)
dan Penyakit Tungro,
yang disebabkan oleh
Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV)
dan
Rice Tungro Spherical Virus (RTSV)
Hama wereng hijau (Nephotettix virescens) dan penyakit Tungro merupakan pasangan yang tidak terpisahkan dalam perlindungan tanaman padi. Wereng hijau bertindak sebagai vektor (pembawa) yang menularkan dua jenis virus sekaligus, yaitu Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Karena penyakit Tungro disebabkan oleh virus, maka tidak dapat disembuhkan dengan pestisida.
Betina
Jantan
Gejala Spesifik Tanaman Padi yang Terserang Penyakit Tungro dan Keberadaan Wereng Hijau
1. Gejala Visual Penyakit Tungro
Gejala biasanya muncul 6–15 hari setelah terjadi penularan oleh wereng hijau.
Perubahan Warna Daun: Daun muda berubah warna menjadi kuning oranye atau kuning jingga, dimulai dari ujung daun tua menuju ke pangkal.
Pertumbuhan Kerdil: Tanaman yang terinfeksi akan mengalami hambatan pertumbuhan yang nyata sehingga tampak jauh lebih pendek dibandingkan tanaman sehat di sekitarnya.
Pengurangan Jumlah Anakan: Tanaman tidak mampu membentuk anakan secara optimal, sehingga rumpun terlihat sangat jarang.
Gejala pada Malai: Jika serangan terjadi di fase lanjut, malai yang dihasilkan akan pendek, tidak keluar sempurna (terperangkap dalam pelepah), dan gabah yang dihasilkan seringkali memiliki bercak cokelat atau hampa.
Pola Serangan di Lapangan: Di sawah, serangan Tungro biasanya tidak merata melainkan berkelompok (spotty) sesuai dengan sebaran populasi wereng hijau.
2. Karakteristik Wereng Hijau (Nephotettix virescens)
Ciri Fisik: Serangga dewasa berwarna hijau terang. Wereng jantan memiliki noktah (titik) hitam yang jelas pada sayap depan dan bagian ujung sayap yang berwarna hitam, sedangkan betina biasanya berwarna hijau polos.
Habitat: Wereng hijau lebih menyukai bagian daun dan pelepah bagian atas tanaman padi, berbeda dengan wereng cokelat yang lebih banyak berada di pangkal batang dekat permukaan air.
Perilaku: Wereng ini sangat aktif terbang dan tertarik pada cahaya lampu di malam hari.
Periode Emas Pengendalian
Strategi pengendalian terpadu yang berfokus pada perlindungan tanaman di usia dini. Karena Tungro disebabkan oleh virus yang ditularkan oleh hama Wereng Hijau (Nephotettix virescens), maka kunci utamanya adalah mencegah penularan virus sebelum tanaman melewati fase kritisnya. Secara lebih spesifik, periode ini terbagi menjadi tiga tahapan utama:
1. Masa Persemaian (0–20 Hari Setelah Sebar) ☀️
Periode emas paling krusial. Infeksi Tungro pada fase persemaian akan berakibat fatal karena tanaman akan mengalami pengerdilan yang ekstrem dan biasanya tidak mampu menghasilkan malai sama sekali.
Waktu: Sejak benih ditabur hingga bibit siap pindah tanam atau sejak benih ditanam langsung.
Tindakan: Penggunaan varietas tahan (seperti Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, atau varietas terbaru yang sesuai zonasi), penutupan persemaian dengan kain kasa (kelambu) untuk menghalangi wereng hijau, serta aplikasi insektisida sistemik pada bibit sebelum pindah tanam. (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Tujuan: Menjamin bibit yang pindah ke lahan utama 100% sehat dan bebas dari virus Tungro.
Alasan: Bibit muda adalah sasaran empuk wereng hijau; satu ekor wereng yang membawa virus cukup untuk menginfeksi satu rumpun bibit.
2. Awal Masa Vegetatif (0–45 Hari Setelah Tanam)
Periode ini adalah jendela waktu dimana tanaman masih sangat rentan terhadap virus, namun gejalanya seringkali baru muncul beberapa minggu setelah infeksi (masa inkubasi).
Waktu: 1 hingga 6 minggu setelah tanam (HST).
Tindakan: Pengamatan intensif terhadap keberadaan wereng hijau dan gejala awal tanaman yang menguning/kerdil. Jika ditemukan populasi wereng hijau (ambang kendali: 2 ekor per rumpun pada daerah endemis), segera lakukan pengendalian vektor dengan insektisida yang efektif. (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Tujuan: Memutus rantai penularan dari satu tanaman ke tanaman lainnya oleh wereng hijau.
Alasan: Tanaman yang terinfeksi sebelum umur 45 HST akan mengalami penurunan hasil hingga 70–90%. Setelah melewati 60 HST, tanaman biasanya lebih toleran dan dampak kerusakan virus tidak sesignifikan pada fase awal.
3. Pra-Tanam dan Sanitasi (Manajemen Sumber Inokulum)
Periode ini difokuskan pada pemutusan siklus hidup virus dan vektor di lingkungan sekitar sebelum musim tanam baru dimulai.
Waktu: Masa bera (setelah panen) hingga pengolahan tanah.
Tindakan: Eradikasi atau pemusnahan total tanaman "singgang" (padi yang tumbuh dari sisa panen) dan gulma famili Gramineae. Selain itu, pengaturan waktu tanam agar serempak dalam satu hamparan luas.
Tujuan: Menghilangkan tempat berlindung bagi virus Tungro dan wereng hijau selama masa jeda tanam.
Alasan: Singgang adalah reservoir (tempat penyimpanan) utama virus Tungro. Jika singgang tidak dimusnahkan, wereng hijau akan membawa virus dari singgang tersebut ke persemaian baru yang berdekatan.
Mengapa Setelah Terjadi Gejala Meluas Pengendalian Sulit?
Penyakit Tungro disebabkan oleh virus, dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan tanaman yang sudah terinfeksi virus. Tindakan penyemprotan setelah lahan berubah menjadi kuning hanya bertujuan untuk membunuh vektornya agar tidak menyebar lebih luas, namun tanaman yang sudah terserang tidak akan kembali normal.
Strategi Utama:
Lakukan Tanam Serempak. Selisih waktu tanam yang lebih dari 4 minggu dalam satu hamparan akan menyediakan "jembatan makanan" bagi wereng hijau dan virus untuk terus berpindah dari tanaman tua ke tanaman muda.
Musuh alami
Panduan Pengendalian
1. Pengendalian Fisik
Menggunakan manipulasi lingkungan fisik untuk mengurangi populasi vektor di lapangan.
Penerapan:
Pemasangan Lampu Perangkap (Light Trap): Memasang lampu di pinggir lahan untuk memantau dan menangkap wereng hijau dewasa yang aktif pada malam hari.
Tujuan:
Mengurangi kepadatan populasi imago wereng hijau sebelum mereka sempat menularkan virus ke tanaman yang sehat, serta sebagai indikator awal adanya migrasi wereng.
2. Pengendalian Mekanik
Tindakan fisik secara langsung untuk menghilangkan sumber infeksi (virus) dari lahan.
Penerapan:
Eradikasi Selektif (Roguing): Mencabut tanaman yang menunjukkan gejala Tungro (kerdil, daun berwarna kuning oranye) sesegera mungkin, lalu membenamkannya ke dalam tanah atau memusnahkannya.
Tujuan:
Menghilangkan sumber inokulum virus agar wereng hijau yang sehat tidak mengambil virus dari tanaman sakit dan menyebarkannya ke tanaman sehat di sekitarnya.
3. Pengendalian Kultur Teknis
Modifikasi cara bercocok tanam untuk memutus rantai penularan virus dan siklus hidup vektor.
Penerapan:
Jajar Legowo: Meningkatkan sirkulasi udara dan cahaya matahari untuk mengurangi kelembapan yang disukai wereng.
Sanitasi Lahan: Membersihkan singgang (tunas padi sisa panen) dan rumput-rumputan (Echinochloa spp.) yang menjadi inang alternatif virus maupun wereng.
Tujuan:
Memutus ketersediaan "jembatan hijau" (pakan dan virus) bagi wereng hijau diantara musim tanam.
4. Pengendalian dengan Varietas Tahan
Strategi yang paling efektif dalam menekan epidemi Tungro secara luas.
Penerapan:
Menanam varietas yang tahan terhadap wereng hijau atau tahan terhadap virus Tungro, seperti Inpari 7, Inpari 8, Inpari 9, Inpari 36 Lanrang, atau Inpari 37 Lanrang, atau varietas lokal yang teruji toleran di wilayah Kabupaten Sigi.
Tujuan:
Menghambat perkembangan populasi vektor pada tanaman dan mencegah replikasi virus di dalam jaringan tanaman.
5. Pengendalian Hayati (Biologis)
Memanfaatkan peran musuh alami untuk menjaga populasi wereng hijau dibawah ambang ekonomi.
Penerapan:
Pelestarian Predator: Melindungi laba-laba penenun, kepik Cyrtorhinus lividipennis (pemangsa telur wereng), dan capung jarum.
Agens Hayati: Aplikasi cendawan entomopatogen seperti Beauveria bassiana atau Metarhizium anisopliae pada sore hari saat kelembapan tinggi.
Tujuan:
Menciptakan kontrol alami yang stabil sehingga ledakan populasi wereng hijau dapat dicegah tanpa intervensi kimiawi.
6. Pengendalian dengan Peraturan (Legal)
Dukungan kebijakan untuk memastikan langkah pengendalian dilakukan secara kolektif oleh seluruh petani.
7. Pengendalian Kimiawi (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Langkah terakhir yang sangat spesifik ditujukan untuk mengendalikan vektor wereng hijau.
Tujuan:
Menekan populasi vektor secara cepat pada saat kritis untuk mencegah penyebaran virus yang lebih luas ke seluruh hamparan.