Belalang Kembara (Locusta migratoria)
dan
Belalang Hijau
(Oxya spp.)
Belalang Kembara (Locusta migratoria)
dan
Belalang Hijau
(Oxya spp.)
Belalang (seperti Oxya spp. atau Locusta migratoria) merupakan hama pemakan daun yang bersifat polifag. Meski sering dianggap sebagai hama minor, belalang dapat menjadi ancaman serius jika populasinya meledak (outbreak), terutama pada musim kemarau atau di lahan yang berdekatan dengan padang rumput.
Locusta migratoria
Oxya spp.
Gejala-gejala Spesifik Tanaman Padi yang Terserang Hama Belalang
1. Gejala pada Daun (Kerusakan Utama)
Gigitan di Tepi Daun: Belalang memiliki tipe mulut menggigit-mengunyah. Gejala awal biasanya berupa gigitan tidak beraturan yang dimulai dari pinggir atau tepi helai daun.
Lubang-Lubang Besar: Berbeda dengan hama putih palsu yang meninggalkan lapisan transparan, belalang memakan seluruh jaringan daun hingga meninggalkan lubang-lubang besar dan kasar.
Gundul (Defoliasi): Pada tingkat serangan berat, belalang dapat menghabiskan seluruh helai daun dan hanya menyisakan tulang daun (ibu tulang daun). Hal ini akan sangat mengganggu proses fotosintesis tanaman.
2. Gejala pada Fase Pertumbuhan
Fase Persemaian/Vegetatif: Belalang dapat memakan habis bibit muda yang baru tumbuh. Jika titik tumbuh ikut termakan, tanaman akan mati dan gagal membentuk anakan.
Fase Generatif: Belalang terkadang memotong bagian pangkal malai atau tangkai bulir yang masih muda, menyebabkan malai patah atau gabah tidak terisi dengan sempurna.
3. Tanda Fisik di Lapangan
Keberadaan Hama: Belalang sangat mudah dikenali karena ukurannya yang relatif besar dan aktif meloncat jika tanaman disentuh.
Kotoran Belalang: Ditemukannya kotoran berbentuk butiran kecil berwarna gelap di atas permukaan daun atau di pangkal tanaman.
Kerusakan Tidak Merata: Serangan biasanya dimulai dari bagian pinggir petakan sawah yang berbatasan dengan pematang atau lahan bera, karena belalang menggunakan area tersebut sebagai tempat berlindung dan bertelur.
Periode Emas Pengendalian
Strategi pengendalian yang difokuskan pada saat hama berada dalam fase Nimfa (belalang muda yang belum bersayap). Pada fase ini, pergerakan belalang masih terbatas dan mereka cenderung berkelompok, sehingga tindakan pengendalian jauh lebih efektif dan efisien sebelum mereka menjadi dewasa yang sangat lincah. Secara lebih spesifik, periode ini terbagi menjadi tiga tahapan utama:
1. Masa Pra-Tanam dan Pengolahan Tanah (Destruksi Telur)
Langkah preventif untuk menghancurkan cikal bakal populasi belalang langsung dari sumbernya di dalam tanah.
Waktu: Saat pengolahan tanah (pembajakan) dan pembersihan pematang.
Tindakan: Pembongkaran tanah di sekitar pematang dan area bera, penggenangan sawah, serta sanitasi tanaman inang di pinggir lahan.
Tujuan: Memaparkan kantong telur belalang ke permukaan agar mati terkena sinar matahari atau dimakan predator (seperti semut dan burung).
Alasan: Belalang meletakkan telur di dalam tanah atau pangkal rumput dalam bentuk polong (kantong). Menghancurkan kantong telur di awal dapat menurunkan populasi hingga 70% sebelum musim tanam dimulai.
2. Fase Nimfa Instar 1–3 (Periode Emas Utama) ☀️
Inilah "Periode Emas" yang paling krusial. Pengendalian pada fase ini bertujuan untuk mencegah terjadinya ledakan populasi (outbreak).
Waktu: Biasanya terlihat pada umur 15–40 Hari Setelah Tanam (HST), saat belalang masih berukuran kecil dan belum memiliki sayap yang sempurna.
Tindakan: Aplikasi agens hayati seperti cendawan entomopatogen Metarhizium anisopliae atau Beauveria bassiana. Jika populasi melampaui ambang kendali, gunakan insektisida kimia. (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Tujuan: Mematikan belalang sebelum mereka memiliki kemampuan terbang jarak jauh.
Alasan: Nimfa instar awal belum bisa terbang dan biasanya hidup berkelompok di area tertentu (gregarious). Hal ini memudahkan petani melakukan penyemprotan yang terarah tanpa banyak bahan aktif yang terbuang.
3. Fase Vegetatif Akhir hingga Generatif (Manajemen Mobilitas)
Pada tahap ini, belalang biasanya sudah masuk fase dewasa (imago) dan mulai memiliki sayap yang kuat.
Waktu: 45 HST hingga menjelang panen.
Tindakan: Pemasangan jaring perangkap di pinggir lahan, penggunaan lampu perangkap (light trap) pada malam hari untuk jenis tertentu, serta menjaga keberadaan musuh alami seperti burung pemakan serangga dan laba-laba.
Tujuan: Menghambat migrasi belalang dari satu petak ke petak lainnya.
Peringatan: Pengendalian pada fase dewasa jauh lebih sulit karena belalang akan terbang menjauh begitu mendengar suara atau merasakan gerakan manusia yang mendekat untuk melakukan penyemprotan.
Mengapa Setelah Belalang Bersayap Pengendalian Sulit?
Begitu belalang mencapai fase imago (dewasa) dan bersayap, mereka menjadi sangat gesit. Seekor belalang kembara dewasa dapat terbang puluhan kilometer dalam satu hari. Selain itu, belalang dewasa memiliki kutikula (kulit luar) yang lebih tebal dan keras, sehingga lebih tahan terhadap paparan insektisida kontak dibandingkan fase nimfa.
Strategi Utama:
Lakukan Penyemprotan Serempak pada pagi hari saat embun masih menempel di sayap/tubuh belalang. Pada kondisi ini, belalang cenderung diam dan tidak banyak bergerak karena sayapnya yang basah menghambat mereka untuk terbang dengan cepat, sehingga paparan bahan aktif akan lebih optimal. (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Musuh alami
Panduan Pengendalian
1. Pengendalian Fisik
Memanfaatkan faktor lingkungan atau perilaku belalang terhadap rangsangan fisik.
Penerapan:
Pemasangan Lampu Perangkap (Light Trap): Meskipun belalang aktif di siang hari, beberapa spesies imago (dewasa) tertarik pada cahaya di malam hari.
Tujuan:
Menangkap dan memantau populasi imago yang bermigrasi ke lahan, sehingga serangan besar dapat diantisipasi lebih awal.
2. Pengendalian Mekanik
Tindakan fisik secara langsung untuk mengurangi populasi belalang di lapangan.
Penerapan:
Penggunaan Jaring Ayun (Sweep Net): Menangkap belalang menggunakan jaring pada pagi hari saat mereka masih pasif (belum aktif terbang).
Pengolahan tanah: Pengolahan tanah yang dalam dapat menghancurkan polong telur belalang yang tertanam di dalam tanah.
Tujuan:
Menurunkan populasi nimfa (belalang muda) dan imago secara langsung serta menggagalkan penetasan telur di musim berikutnya.
3. Pengendalian Kultur Teknis
Modifikasi budidaya untuk meminimalkan ketersediaan pakan dan tempat berkembang biak.
Penerapan:
Sanitasi Lahan: Membersihkan gulma berdaun lebar dan rumput-rumputan di sekitar pematang yang sering menjadi tempat peletakan telur dan inang sementara bagi belalang.
Tujuan:
Menghilangkan sumber pakan alternatif dan tempat berlindung bagi belalang.
4. Pengendalian dengan Varietas Tahan
Memilih varietas yang memiliki kemampuan toleransi lebih baik terhadap kerusakan mekanis daun.
Penerapan:
Penggunaan Varietas dengan Daya Pulih Tinggi: Memilih benih unggul seperti Inpari 32 atau Inpari 42 yang memiliki kemampuan kompensasi (tunas baru tumbuh cepat) setelah terjadi kerusakan daun.
Tujuan:
Meminimalkan dampak penurunan produksi akibat hilangnya sebagian besar area fotosintesis daun yang dimakan belalang.
5. Pengendalian Hayati (Biologis)
Memanfaatkan musuh alami sebagai agen pengendali populasi belalang secara berkelanjutan.
Penerapan:
Aplikasi Cendawan Entomopatogen: Penggunaan cendawan Metarhizium anisopliae atau Beauveria bassiana.
Pelestarian predator: Melestarikan predator alami seperti burung pemangsa serangga, katak, dan laba-laba.
Tujuan:
Menginfeksi koloni belalang melalui kontak spora cendawan yang dapat menyebabkan kematian massal (epizoostik) dalam populasi belalang.
6. Pengendalian dengan Peraturan (Legal)
Langkah pencegahan penyebaran melalui kebijakan dan pelaporan cepat.
Penerapan:
Sistem Peringatan Dini (Early Warning System): Kewajiban melaporkan temuan populasi belalang kembara yang melebihi batas normal kepada petugas POPT di tingkat Kecamatan/Kabupaten Sigi sesuai regulasi perlindungan tanaman.
Tujuan:
Mencegah terjadinya ledakan populasi (outbreak) yang lebih luas dengan melakukan lokalisasi serangan sedini mungkin.
7. Pengendalian Kimiawi (Wajib dikoordinasikan dengan POPT setempat)
Langkah darurat yang diambil jika populasi melampaui Ambang Ekonomi dan mengancam kegagalan panen.
Tujuan:
Menurunkan populasi belalang secara cepat, terutama saat mereka masih dalam fase nimfa (belalang muda) yang belum bisa terbang jauh.