Adapun berdasarkan jumlah kuantitas atau berdasarkan jumlah perawinya, hadis terbagi menjadi dua bagian. Pertama, hadis mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang banyak. Kedua hadis ahad, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak, tapi tidak sampai sejumlah hadis mutawatir.
Hadis mutawatir adalah hadis hasil tanggapan dari pancaindera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat berdusta.
Hadis mutawatir itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mutawatir lafzi dan mutawatir ma’nawi. Hadis mutawatir lafzi adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang susunan redaksi dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Atau boleh disebut juga dengan hadis yang mutawatir lafaznya
Hadis mutawatir ma’nawi> adalah hadis mutawatir yang perawinya berlainan dalam menyusun redaksi hadis, tetapi terdapat persamaan dalam maknanya. Atau menurut definisi lain adalah kutipan sekian banyak orang yang menurut adat kebiasaan mustahil bersepakat dusta atas kejadian-kejadian yang berbeda-beda tetapi bertemu pada titik persamaan.
Hadis ahad adalah semua hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan bahwa jumlah hadis ahad itu pasti lebih banyak dibandingkan dengan hadis mutawatir.
Berdasarkan kualitasnya, hadis dapat dibagi menjadi tiga, yakni hadis sahih, hadis hasan dan hadis daif.
Secara etimologi, kata sahih (Arab: صحيح (artinya: sehat. Kata ini merupakan antonim dari kata saqi>m (Arab: سقيم (yang artinya: sakit. Bila digunakan untuk menyifati badan, maka makna yang digunakan adalah makna hakiki (yang sebenarnya), tetapi bila diungkapkan di dalam hadis dan pengertian-pengertian lainnya, maka maknanya hanya bersifat kiasan (maja>z). Sedangkan secara istilah, pengertian yang paling tepat tentang hadis sahih adalah adalah Hadis yang bersambung sanadnya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang adil, dabit, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syuzu>z, dan juga tanpa ‘illat
Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya tersambung, dengan perantara perawi yang adil, yang sedikit lemah hafalannya, tidak ada syadz (berbeda dengan hadis yang lebih sahih) dan ‘illat (penyakit). Kata al-h}asan secara bahasa merupakan sifat musya>bahah dari kata al-h}usna yang berarti al-jama>l, yang baik/bagus. Secara istilah, ulama hadis berbeda pendapat mengenai definisi hadis hasan sebab tingkatan hadis hasan berada di pertengahan antara sahih dan daif.
Daif secara bahasa adalah kebalikan dari kuat yaitu lemah, sedangkan secara istilah yaitu; ‚Apa yang sifat dari hadis hasan tidak tercangkup (terpenuhi) dengan cara hilangnya satu syarat dari syarat-syarat hadis hasan.
Dengan demikian, jika hilang salah satu kriteria saja, maka hadis itu menjadi tidak sahih atau tidak hasan. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua atau tiga syarat maka hadis tersebut dapat dinyatakan sebagai hadis daif yang sangat lemah. Karena kualitasnya daif, maka sebagian ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hukum.
PETA KONSEP
SILAHKAN KALIAN BACA MATERI BERIKUT !