Koordinator : Theresia Elena Putricia / X-2 / 22
Anggota :
1. Fransiskus Xaverius Roseno Gunawan / X-2 / 10
2. Omar Juann Imawan / X-2 / 20
3. Ruth Anggraini Renata Wagab / X-2 / 21
4. Yizreel Octaqueen Alfionika Setjo / X-2 / 26
Pancasila
Sumatra Barat merupakan daerah yang dihuni berbagai etnis seperti Minangkabau, Mentawai, Mandailing, Tionghoa, Jawa, Batak, Nias, Sunda, dan lainnya. Meskipun terdapat perbedaan budaya dan sistem kekerabatan, misalnya antara adat Minangkabau yang matrilineal dan budaya Jawa atau Batak yang patrilineal, masyarakat di Sumatra Barat mampu menjalani hidup dengan saling menghargai dan mendukung satu sama lain. Prinsip gotong royong, musyawarah, serta kearifan lokal menjadi landasan untuk menciptakan suasana damai dan harmonis di tengah keberagaman
Tradisi dan keragaman budaya : Keberagaman budaya di Sumatra Barat tidak pernah menjadi sumber pertikaian, sebaliknya justru memperkaya kehidupan sosial masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah tradisi Makan Bajamba di Sawahlunto, di mana masyarakat dari berbagai etnis bersama-sama mengikuti acara makan besar yang bertujuan mempererat silaturahmi. Selain itu, Festival Bakcang dan Lamang Baluo di Padang menjadi simbol harmoni antara etnis Minangkabau dan Tionghoa. Rumah gadang, upacara adat, dan berbagai festival budaya juga memperlihatkan bagaimana identitas lokal terus dirawat dan dibagikan kepada generasi muda, selaras dengan perkembangan zaman.
Wujud kerukunan sehari hari Sumatra Barat, kerukunan antar umat beragama juga sangat terasa, misalnya di Nagari Sungai Buluah Barat di mana terbentuk Kampung Moderasi Beragama tempat masyarakat menjalankan berbagai aktivitas bersama tanpa memandang latar belakang agama. Renovasi gereja dengan izin dari Kerapatan Adat Nagari, ulama, dan tokoh masyarakat menunjukkan nilai toleransi yang tinggi. Kesadaran akan pentingnya menerima perbedaan dan menciptakan kerjasama telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Sumatra Barat.
Bahasa Inggris
🎉CLASS X-2 ART PERFORMANCE AT 1001 PESONA DI SMACO🎉
Hello Everyone!
Our Class X-2 proudly present a traditional dance from West Sumatra called "Ciek Duo Tigo" This dance shows a teamwork, harmony, and strategy, inspired by traditional Minangkabau martial movement.
🗓️Date: Tuesday, 28-October-2025
🕛 Time: 11.30 AM
📍Venue: Hall SMAK Cor Jesu
We will perform with full spirit and wear the traditional costume of minangkabau, Lets join us and enjoy the feling of minangkabau culture! Dont miss our performance at "1001 Pesona di Smaco"
PKWU Pengolahan
Foto
Filosofi Masakan
Filosofis makanan Arai Pinang khas Sumatera Barat mencerminkan kearifan lokal, kesederhanaan, dan kehangatan budaya Minangkabau. Makanan ini dibuat dari bahan sederhana seperti tepung beras dan santan, namun menghasilkan cita rasa gurih dan renyah yang disukai banyak orang. Hal itu menggambarkan pandangan hidup masyarakat Minang yang menghargai kerja keras, ketekunan, dan kreativitas dalam mengolah sesuatu yang sederhana menjadi bernilai tinggi.
Bentuk Arai Pinang yang menyerupai irisan buah pinang juga memiliki makna simbolik: buah pinang sering digunakan dalam upacara adat sebagai lambang persaudaraan, penghormatan, dan kebersamaan. Dengan demikian, Arai Pinang bukan sekadar camilan, melainkan wujud rasa hormat terhadap tradisi, lambang keakraban dalam setiap pertemuan, dan simbol manisnya hubungan antarsesama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Resep Masakan
Bahan :
500 gram tepung beras
1 sendok teh garam
1 sendok teh bawang putih
1/2 sendok teh jeruk nipis
2 sdm telur (telur sudah dikocok)
800 ml air
2 lembar daun pandan
Alat :
Baskom
Packaging
Plastik
Panci
Teflon
Sendok teh & sendok makan
Sabun cuci piring