Nama Anggota Kelompok
Bastian Isaacson Nugraha / 02
Calista Stevania Martha Soegianto / 04
Defa Octsira Arlera / 07
Eugene Rachelle Siahaan / 09
Geraldus Tyaga Kristanto / 11
Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang kaya akan budaya dan adat istiadat, terutama dengan falsafah hidupnya yang terkenal, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.” Falsafah ini menjadi dasar dalam membangun harmoni di tengah keberagaman masyarakatnya. Di Sumatera Barat, masyarakat hidup berdampingan tidak hanya antar suku Minangkabau sendiri yang memiliki berbagai nagari dengan adat berbeda, tetapi juga dengan pendatang dari berbagai daerah dan latar belakang budaya.
Membangun harmoni dalam keberagaman berarti menciptakan kehidupan yang saling menghargai, menghormati perbedaan, serta menjaga persatuan di tengah perbedaan adat, bahasa, dan keyakinan. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai gotong royong, musyawarah, dan saling tolong-menolong menjadi wujud nyata harmoni tersebut. Misalnya, ketika ada kegiatan batagak rumah gadang atau pesta nagari, masyarakat dari berbagai daerah ikut serta membantu tanpa memandang status sosial maupun asal-usulnya.
Kita dapat mengamati beragam kepribadian dan tradisi penduduk setempat di setiap nagari (desa). Terlepas dari perbedaan adat dan tradisi di setiap daerah, setiap orang memiliki rasa hormat satu sama lain. Selama mereka menjunjung tinggi nilai-nilai bersama, pendatang baru yang ingin mencari nafkah di wilayah Minangkabau akan diterima dengan hangat. Kekuatan budaya Minangkabau terletak pada kenyataan bahwa keberagaman dihargai sebagai cara untuk meningkatkan kualitas hidup, alih-alih sebagai pembenaran jarak. Bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas adat seperti alek nagari (membangun desa) atau batagak rumah gadang (membangun rumah) menunjukkan bagaimana rasa kebersamaan tetap terjaga. Musyawarah di balai adat merupakan cara untuk menyelesaikan masalah tanpa menyinggung siapa pun. Setiap orang dihimbau untuk tetap tenang agar hubungan yang positif tetap terjaga.
Harmoni ini juga tercermin dalam sikap masyarakat yang menjunjung tinggi sopan santun dan menghargai tamu, sesuai pepatah Minangkabau, “Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang.” Artinya, di mana pun seseorang berada, ia harus menghormati adat dan aturan setempat. Sikap inilah yang menjadikan masyarakat Sumatera Barat mampu hidup rukun dan damai di tengah keberagaman. Menyadari bahwa setiap orang memiliki gaya hidup yang unik sangatlah penting untuk memupuk keharmonisan dalam keberagaman. Hidup akan lebih tenteram selama ada rasa hormat dan pengertian antarmanusia. Masyarakat Minangkabau terus menjadi teladan dalam menjaga persatuan dalam menghadapi keberagaman berkat nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Dear Students and Teachers,
We are excited to invite you to watch our class’s special performance in the Pesona Nusantara (Cultural Arts Showcase) event!
Performance Theme : Minangkabau Cultural Dance
Performance Title : "Ciek Duo Tigo"
Venue : School Hall
Date : October 28th 2025
Time : 06:45-14:15
Come and enjoy the beauty of our Minangkabau traditional dance, showcasing harmony, unity, and the spirit of our local culture. Let’s support our class and make this event unforgettable!
Don’t miss it!
See you there!
Class X-2 (INVICTUS)
Resep Masakan
Bahan-bahan:
Jagung manis
Tepung beras
Tepung tapioka
Bawang putih
Ketumbar bubuk
Garam
Seledri
Minyak goreng
Soda kue
Cara:
Pipil jagung, lalu haluskan dengan blender.
Campurkan jagung halus dengan tepung beras, tepung tapioka, bumbu halus, dan sedikit air.
Aduk rata hingga adonan bisa dibentuk tipis.
Pipihkan adonan di atas daun pisang atau loyang datar.
Jemur sampai setengah kering (bisa juga dikeringkan di oven suhu rendah).
Goreng dalam minyak panas hingga kuning keemasan dan renyah.
Tiriskan, biarkan dingin, lalu simpan dalam wadah tertutup.
Filososfi Masakan
Keripik jagung adalah olahan pangan yang terbuat dari jagung sebagai bahan utama. Di balik kesederhanaannya, keripik jagung memiliki filosofi yang menggambarkan nilai kehidupan manusia. Jagung melambangkan kesederhanaan, ketekunan, dan ketahanan hidup, karena mampu tumbuh di berbagai kondisi alam. Hal ini mencerminkan manusia yang harus tangguh dan tetap berusaha meskipun menghadapi kesulitan.
Proses pembuatannya juga memiliki makna tersendiri. Tahapan menggiling, membentuk, dan menggoreng menggambarkan proses perjuangan dan pembentukan karakter manusia. Panas saat penggorengan melambangkan ujian hidup yang harus dilalui agar menghasilkan pribadi yang kuat dan bernilai, seperti keripik yang renyah dan enak setelah digoreng.
Selain itu, keripik jagung sering disajikan sebagai camilan bersama, sehingga menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan sosial. Warna keemasannya melambangkan harapan dan kemakmuran, sedangkan rasa gurihnya mencerminkan keceriaan dalam kesederhanaan.
PKWU KERAJINAN