Anggota Kelompok :
Aurelia Elizabeth Fahik Bria / 01
Bonaventura Julio Chaesar / 03
Happy Nehemia Christy / 12
John Peter Solafide Abatan / 14
Vanessa Bare Goran / 24
Yohanna Firsttie Hastianti Rada / 27
Sumatera Barat, yang akrab disapa Ranah Minang, sering kali dipandang sebagai entitas yang homogen karena dominasi etnis Minangkabau dengan adatnya yang kuat. Namun, di balik kekhasan tersebut, provinsi ini menyimpan mozaik keberagaman yang kaya. Kehidupan sosial di Ranah Minang adalah contoh nyata implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Ketiga (Persatuan Indonesia) dan Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), dalam membangun harmoni di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya.
Pilar utama yang menopang harmoni di Sumatera Barat adalah falsafah "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK). Meskipun secara harfiah berbasis pada agama Islam, filosofi ini secara kultural mengajarkan sikap inklusif dan penghargaan terhadap tatanan sosial yang damai.
Dalam konteks keberagaman, ABS-SBK berfungsi sebagai kode etik yang memastikan setiap warga, baik yang berstatus urang awak (warga Minang) maupun urang rantau (pendatang) yang menetap, memiliki ruang hidup yang setara. Harmoni terwujud dalam pengakuan bahwa keberadaan etnis lain seperti Mentawai, komunitas Tionghoa, Jawa, Nias, dan Batak yang telah lama menetap, adalah bagian integral dari kekayaan Ranah Minang.
Membangun harmoni di Sumatera Barat bukanlah konsep pasif, melainkan praktik aktif yang terwujud dalam beberapa aspek kehidupan:
Gotong Royong Lintas Batas: Semangat tolong-menolong atau gotong royong tidak mengenal sekat agama atau suku. Di banyak daerah, termasuk di pusat kota Padang, sudah menjadi pemandangan umum bahwa warga dari berbagai latar belakang keyakinan saling membantu dalam acara adat, pernikahan, maupun musibah, mencerminkan nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Musyawarah dan Keterbukaan: Sesuai dengan Sila Keempat Pancasila, masyarakat Minangkabau menjunjung tinggi musyawarah dan dialog. Perbedaan pendapat dan keberadaan berbagai pandangan dalam masyarakat yang majemuk dianggap sebagai potensi untuk mencapai mufakat yang lebih baik, bukan sebagai sumber konflik.
Ruang Publik yang Inklusif: Kota-kota besar di Sumatera Barat, khususnya Padang dan Bukittinggi, menjadi titik temu berbagai etnis yang hidup berdampingan. Keberadaan rumah ibadah dari berbagai agama yang berdiri berdekatan—seperti masjid, gereja, dan klenteng—khususnya di kawasan pecinan lama, menjadi simbol nyata dari toleransi otentik dan Persatuan Indonesia yang telah berjalan puluhan tahun.
Makna mendalam dari membangun harmoni di Ranah Minang adalah mengubah perbedaan menjadi kekuatan budaya. Komunitas non-Minang tidak dipaksa untuk berasimilasi penuh, melainkan diizinkan untuk mempertahankan identitasnya, yang pada gilirannya memperkaya khazanah Minangkabau.
Contohnya, interaksi yang terjadi menciptakan melting pot kuliner dan dialek yang unik. Keberagaman yang diikat oleh kesadaran akan Keadilan Sosial ini menjadikan Sumatera Barat sebuah wilayah yang damai, di mana hak setiap warga negara untuk beribadah dan berekspresi dijamin dan dilindungi oleh adat serta negara.
Kesimpulannya
Sumatera Barat mengajarkan bahwa harmoni dalam keberagaman adalah hasil dari komitmen yang berkelanjutan untuk menghormati dan menghargai. Dengan berpijak pada nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal (ABS-SBK), masyarakat Ranah Minang berhasil menciptakan kehidupan sosial yang seimbang, di mana perbedaan menjadi pemanis, bukan pemecah.
To all Students, Faculty, and Staff of Campus Cor Jesu Malang,
Join us for our spectacular cultural celebration: "1001 PESONA DI SMACO"!
This event is dedicated to exploring and showcasing the incredible richness of the Indonesian Archipelago (Nusantara). Come witness the vibrant mosaic of cultures expressed through traditional arts!
Class X2 proudly invites you to experience their feature performance:
Witness the electrifying beauty of the Minangkabau region! All students of Class X2 will present an energetic performance of the "Ciek Duo Tigo" dance, capturing the dynamic spirit and unique rhythm of West Sumatra.
PERFORMANCE DETAILS:
Main Event Theme: 1001 PESONA DI SMACO
Class Performance: Archipelagic Showcase
Featured Art: The "Ciek Duo Tigo" Dance (West Sumatran Traditional)
Performers: All Students of Class X2
Day/Date: Tuesday, November 28, 2025
Time: From 07:00 AM to 02:15 PM (07.00 - 14.15 WIB)
Location: Cor Jesu Campus Hall, Malang
Be there to support your peers and immerse yourselves in the "1001 Wonders at SMACO!
Filosofi keripik Sanjai terletak pada asal-usulnya yang sederhana, berkembang dari profesi masyarakat, dan nilai ekonomis yang dihasilkannya. Keripik ini dinamai berdasarkan nama jalan (Jalan Sanjai) di Bukittinggi, tempat pertama kali dibuat dan dipasarkan. Seiring waktu, Sanjai menjadi simbol dari pengolahan bahan lokal yang sederhana (singkong) menjadi makanan bernilai tambah yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat.
Asal-usul dan makna filosofis
Kesederhanaan dan kemandirian: Awalnya, keripik dibuat oleh warga sebagai cara memanfaatkan hasil pertanian singkong yang melimpah. Ini mencerminkan filosofi pengolahan bahan mentah menjadi produk yang lebih bernilai, menciptakan lapangan kerja dan penghasilan tambahan.
Identitas lokal: Nama "Sanjai" melekat karena keripik ini berasal dari wilayah tersebut, bukan dari produk atau bumbu unik yang terinspirasi dari luar. Ini menjadi identitas kuliner lokal yang menjadi kebanggaan warga sekitar.
Adaptasi dan inovasi: Meskipun Sanjai asli adalah keripik singkong tanpa bumbu, inovasi rasa (seperti balado) dan bentuk (seperti stik) menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan selera pasar tanpa kehilangan identitas aslinya.
Simbolisme keuletan: Keberhasilan keripik Sanjai dari yang awalnya hanya makanan rumahan hingga menjadi oleh-oleh khas yang populer di pasaran, mencerminkan keuletan dan kerja keras masyarakat yang mengolahnya.