Belajar dari Proses: Cerita Reina tentang Karya Tulis dan Bekal untuk Melangkah
Belajar dari Proses: Cerita Reina tentang Karya Tulis dan Bekal untuk Melangkah
Ada pengalaman belajar yang mungkin terasa menantang saat dijalani, namun justru menjadi bekal setelah kita melangkah lebih jauh.
Bagi Reina, salah satu pengalaman itu adalah proses menyusun karya tulis di kelas 6 SD Kembang.
Ia masih mengingat dengan jelas karya tulis yang ia buat saat itu—tentang sejarah Ka’bah. Mulai dari apa saja yang ada di sekitarnya, hingga aktivitas ibadah yang dilakukan oleh umat Muslim di sana.
Di awal, proses memilih topik bukan hal yang mudah.
“Awalnya cukup bingung, karena pilihannya sangat luas,” ceritanya.
Hingga akhirnya ia menemukan arah—berangkat dari latar belakang keluarganya yang religius, dan keinginan untuk berbagi pengetahuan kepada teman-temannya di Kembang yang datang dari beragam latar belakang.
Dari sana, karya tulis itu tidak hanya menjadi tugas, tetapi juga menjadi cara untuk berbagi dan memahami satu sama lain.
Dalam prosesnya, Reina dibimbing oleh Ibu Lina.
Yang paling ia ingat bukan hanya arahan yang diberikan, tetapi bagaimana proses itu dijalankan—jelas, terstruktur, dan konsisten.
Setiap minggu, ada perkembangan yang perlu ditunjukkan.
Progres demi progres menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kebiasaan untuk bertanggungjawab, disiplin, dan menyelesaikan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
“Waktu itu terasa cukup menantang, karena ini hal baru bagi kami, bahkan cukup advance untuk tingkat SD. Tapi justru dari situ saya belajar menyelesaikan sesuatu dengan baik, tepat waktu, dan merasa bangga dengan hasil akhirnya," ungkap Reina.
Di sepanjang proses itu, ia juga banyak berdiskusi—tidak hanya dengan guru pembimbing, tetapi juga dengan ustad di Kembang dan keluarganya di rumah. Proses ini membuka ruang untuk bertanya, mendengar, dan melihat dari berbagai sudut pandang.
Pengalaman menyusun karya tulis di Kembang bukan sekadar tugas akhir di SD. Pengalaman tersebut menjadi fondasi yang membantunya melangkah lebih siap di jenjang berikutnya.
“Di tingkat SMP, SMA, sampai kuliah, kegiatan menulis dan riset jadi semakin banyak. Dan pengalaman dari Kembang itu sangat membantu sebagai langkah awal,” kenangnya.
Kebiasaan yang terbentuk saat itu masih ia gunakan hingga hari ini—seperti tanggung jawab, disiplin terhadap waktu, serta pentingnya riset dan diskusi dalam memahami sesuatu.
Selain itu, Reina juga mengenang bagaimana ia belajar berbicara, dan menyampaikan ide dengan lebih percaya diri. Baginya, kemampuan menyampaikan pikiran atau public speaking menjadi salah satu hal yang terasa manfaatnya hingga sekarang.
“Belajar di Kembang itu terasa hidup. Tidak monoton, dan membuat kita lebih berani untuk menyampaikan sesuatu,” ceritanya.
Lingkungan belajar yang berbeda, penuh inovasi, serta guru yang peduli terhadap perkembangan setiap murid, menjadi bagian penting dalam membentuk dirinya hari ini.
Di balik semua proses belajar, ada juga kenangan sederhana yang kini dirindukan. Seperti bermain bersama teman di waktu kosong. Rutinitas yang dulu terasa biasa, kini menjadi kenangan yang hangat.
“Dulu rasanya ke sekolah itu selalu happy. Belajar dengan senang hati, main bareng teman tiap istirahat. Datang ke sekolah dengan perasaan ringan, tidak ada beban," kenangnya.
Hingga hari ini, ia masih menjalin hubungan baik dengan teman-temannya dari Kembang.
Di akhir ceritanya, Reina membagikan pesan sederhana untuk adik-adik di Kembang: enjoy the process. Masa sekolah dasar adalah tahap penting yang akan membentuk fondasi untuk langkah ke depan. Jangan takut untuk bertanya, dan mencari tahu banyak hal.