Belajar Seumur Hidup, Didengar Sepenuh Hati
Belajar Seumur Hidup, Didengar Sepenuh Hati
Hilmy bergabung dengan Sekolah Kembang saat duduk di kelas SD 3, setelah sebelumnya bersekolah di salah satu SD swasta lain. Sebenarnya, sejak kelas 1 ia sudah hampir menjadi bagian dari Kembang.
“Waktu itu sudah sempat mau masuk ke Kembang, tapi ada pertimbangan lain dan akhirnya memilih sekolah yang lebih dekat dari rumah,” kenangnya.
Namun rupanya, jalan membawanya kembali.
Dari Kembang, ada dua hal sederhana yang terus ia bawa hingga hari ini.
Yang pertama, haus akan belajar. Bagi Hilmy, belajar bukanlah fase yang selesai saat lulus sekolah. Belajar adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Rasa ingin tahu itu dipupuk sejak dini—bukan dengan paksaan, melainkan dengan rasa suka. Yang kedua, suara setiap anak didengar.
“Saya ingat betul komunikasi di Kembang selalu dua arah antara guru dan murid. Murid dihargai atas setiap diskusi dan sudut pandang,” ceritanya.
Di ruang-ruang kelas Kembang, pendapat anak bukan sekadar formalitas. Mereka sungguh diajak berdialog.
Mungkin itulah yang kemudian mengantarkannya memilih jalan di dunia pendidikan. Kini, Hilmy bekerja sebagai tutor. Pilihan itu berangkat dari kecintaannya pada proses belajar—dan keinginannya agar rasa suka belajar itu juga bisa dirasakan oleh anak-anak didiknya.
Ia ingin membagikan apa yang dulu ia rasakan: bahwa belajar bisa menyenangkan, bahwa bertanya itu baik, dan bahwa setiap suara layak dihargai. Dan tentu saja, benih itu tak lepas dari peran Sekolah Kembang yang sejak awal memacu rasa ingin tahu serta keberanian untuk bersuara.
Kalau diberi kesempatan memutar waktu, ada satu momen yang selalu membuatnya tersenyum: free day setelah menyelesaikan proyek akhir kuartal. Sehari sebelum konferensi keluarga, tidak ada proses belajar formal. Hari itu menjadi ruang bebas untuk bermain, menggambar, dan bersenda gurau bersama teman-teman. Selain itu, ia juga tak pernah lupa suara lonceng manual yang nyaring menandakan pergantian waktu.
“Sampai sekarang saya masih ingat bunyi lonceng yang dibunyikan oleh Bu Andin, Bu Tia, dan guru lainnya waktu SD,” tawanya.
Bunyi sederhana yang menjadi penanda kedisiplinan—dan kenangan.
Ketika diminta menggambarkan Sekolah Kembang dalam tiga kata, Hilmy memilih: nyaman, menyenangkan, dan progresif.
Nyaman, karena lingkungan belajar menjadi fondasi utama sebelum ilmu benar-benar bisa masuk. Menyenangkan, karena diskusi dua arah membuat murid berani menyampaikan pendapat. Dan progresif, karena Kembang tidak berhenti di cara lama, melainkan terus bergerak maju. Proyek murid-murid bahkan sudah dipertunjukkan kepada publik melalui pameran—sesuatu yang menurutnya belum banyak dilakukan sekolah lain, khususnya di tingkat SMP. “Itu yang membuat Kembang spesial,” ujarnya.
Untuk orang tua yang sedang mencari sekolah bagi anaknya, pesan Hilmy sederhana namun dalam: jika Bapak/Ibu ingin anaknya didengar sudut pandangnya, dihargai opininya, dan diberi ruang untuk bertumbuh sebagai individu yang utuh—pilihlah Kembang.
Ia teringat satu pelajaran dari guru Bahasa Inggrisnya di Kembang tentang perbedaan hearing dan listening. Yang kemudian Hilmy sadari, di Kembang ia tidak sekedar didengar—ia sungguh dipahami.
“Hearing hanya mendengar, sedangkan listening kita tidak hanya mendengar tapi juga memahami dan merasakan,” jelasnya.
Sebagai alumni, langkahnya tidak berhenti saat lulus. Hilmy beberapa kali kembali ke Kembang untuk berbagi pengalaman kepada adik-adik dan orang tua murid tentang perjalanan bertumbuhnya serta kehidupannya setelah lulus. Ia juga pernah memimpin sesi dalam #Bincang Kembang, sebuah ruang berbagi cerita dan refleksi untuk Keluarga Kembang.
Ke depan, ia memiliki harapan yang lebih besar. Ia ingin berkolaborasi dengan Hubungan Alumni untuk mengadakan semacam edufair di Kembang—mengundang lulusan Kembang yang telah melanjutkan pendidikan di berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk berbagi informasi dan pengalaman. Harapannya, adik-adik tingkat akhir mendapatkan gambaran yang lebih luas dalam menentukan langkah menuju SMA.
Karena bagi Hilmy, belajar tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk—dari murid, menjadi pengajar; dari penerima cerita, menjadi pembagi pengalaman.