Memulai dari Hal Sederhana: Cerita Mella tentang Kembang
Memulai dari Hal Sederhana: Cerita Mella tentang Kembang
Kadang, yang paling membekas dari sebuah perjalanan bukanlah hal-hal besar, melainkan momen sederhana yang tinggal lebih lama.
Bagi Almeira—yang akrab disapa Mella—Kembang adalah salah satu ruang itu.
Mella memulai perjalanannya di Kembang sejak kelas 1 hingga kelas 5 SD. Masa itu kemudian harus terhenti ketika orang tuanya pindah tugas ke Singapura. Perpisahan dengan teman-teman tentu bukan hal yang mudah—bahkan terasa lebih intense di usia tersebut. Namun, di tengah jarak yang terbentang, ada satu hal yang menjaga kedekatan itu tetap hidup: saat itu media sosial dan surel mulai menjadi bagian dari keseharian.
“Jadi, kami tetap terhubung, walaupun harus pindah sekolah ke Singapura,” kenangnya.
Hubungan yang tidak benar-benar terputus itu mungkin juga yang membuat Kembang tetap terasa dekat—meski secara fisik sudah jauh.
Perjalanan Mella hingga akhirnya menjadi seorang pendidik pun berangkat dari hal yang sederhana: rasa ingin tahu. Keinginan untuk terus belajar hal baru, dan kemudian membagikannya kepada orang lain.
Namun, jika ditarik ke belakang, ada satu momen kecil di kelas yang ternyata menetap dan membentuk cara pandangnya hingga hari ini. Saat itu, siswa diminta menulis tentang “apa yang membuat kamu bahagia.” Mella kecil merasa bingung. Tidak tahu harus mulai dari mana. Hingga gurunya menyederhanakan pertanyaan itu: coba tuliskan apa yang membuat kamu tersenyum hari ini.
Sebuah pendekatan yang sederhana, namun membekas dan berdampak panjang. Lebih dekat, lebih mungkin untuk dilakukan. Sejak saat itu, Mella membawa cara berpikir tersebut dalam hidupnya.
“Kalau sesuatu terasa terlalu kompleks, aku akan tanya ke diri sendiri—apa hal pertama yang bisa aku lakukan? Dipecah jadi langkah kecil, supaya tidak stuck,” ungkapnya.
Selain ruang belajar di kelas, kenangan Mella tentang Kembang juga dipenuhi oleh imajinasi. Ia dan teman-temannya sering bermain roleplay—menghidupkan berbagai benda di sekitar menjadi bagian dari cerita mereka. Dunia terasa luas, bahkan dari hal-hal kecil.
Dan tentu saja, Pentas Kembang menjadi salah satu momen yang paling dirindukan.
Ada rasa antusias yang selalu muncul, bahkan sejak beberapa hari sebelumnya—saat panggung mulai dirakit. Mella pernah terlibat sebagai bagian dari paduan suara maupun drama. Bukan hanya tentang tampil, tapi tentang proses yang dijalani bersama.
Tentang menunggu, tentang mempersiapkan, dan tentang merasakan kebersamaan.
Jika diminta menggambarkan Kembang dalam tiga kata, Mella memilih: nostalgia, intimate, dan nyaman.
Hubungan antara guru dan murid terasa dekat. Kelas yang kecil membuat setiap anak benar-benar dikenal. Ia juga mengingat sosok Bu Yaya, yang baginya menjadi figur inspiratif. Kehadiran beliau, dan lingkungan yang dibangun di Kembang, membuat sekolah terasa seperti rumah.
Namun, mungkin yang paling menggambarkan Kembang bagi Mella adalah satu hal ini: tempat di mana siswa dimengerti.
“Apapun kebutuhan siswa, Kembang berusaha untuk mengakomodasi dan memberi ruang agar kebutuhan itu bisa tumbuh,” kenangnya.
Kini, sebagai bagian dari alumni, Mella membawa harapan untuk tetap terhubung—bukan hanya lewat kenangan, tapi juga kontribusi nyata.
Ia memiliki keinginan untuk suatu hari bisa kembali berbagi, menghadirkan kelas soft skills untuk adik-adik di Kembang. Tentang membangun kepercayaan diri, mengenal diri sendiri, dan bertumbuh dengan lebih utuh. Karena mungkin, seperti yang pernah ia rasakan dulu—hal sederhana, ketika diberikan ruang yang tepat, bisa tumbuh menjadi sesuatu yang besar. Dan Kembang, bagi Mella, adalah tempat di mana itu dimulai.