Belajar Sepanjang Hayat: Perjalanan Giva Menemukan Caranya Sendiri
Belajar Sepanjang Hayat: Perjalanan Giva Menemukan Caranya Sendiri
Tidak banyak yang tahu bahwa masa kecil Giva di Kembang diwarnai tantangan belajar. Ia kesulitan membaca, menulis, dan menghitung. Menyadari dirinya memiliki learning disability tidak membuatnya mundur—justru menyalakan tekad untuk menemukan cara belajar yang paling sesuai untuk dirinya.
Belajar Sebagai Proses Sepanjang Hayat
Dari Kembang, Giva memegang teguh satu hal: belajar adalah proses sepanjang hayat, bersifat personal, dan tidak bisa dibandingkan. Setiap anak punya ritme dan jalannya sendiri. Hal ini lah yang membentuk kecintaan Giva terhadap belajar yang kemudian membawanya berpartisipasi dalam penulisan riset ilmiah, hingga membuat akun TikTok yang ia dedikasikan untuk me-review buku-buku berbahasa Inggris.
Ketika kesempatan bekerja di bidang pendidikan datang, Giva langsung mengambilnya. Baginya, ini bukan sekedar pekerjaan, melainkan langkah untuk membantu anak-anak lain yang mungkin mengalami perjalanan belajar yang serupa dengan dirinya dulu.
Kelas yang Seru, Interaktif, dan Santai
Jika diminta menggambarkan suasana belajar di Kembang, Giva memilih tiga kata: seru, interaktif, santai.
Guru-guru menghadirkan suasana kelas yang hangat dan terasa dekat. Murid tidak pernah merasa “digurui” karena pembelajaran berlangsung komunikatif, melibatkan semua individu. Dan ya—ke sekolah tanpa seragam memberi ruang bagi setiap anak untuk tampil apa adanya menjadi diri sendiri.
Kenangan yang Menghangatkan Hati
Dari begitu banyak momen, ada satu kenangan yang masih melekat kuat: bakso Pak Kumis. Gerobak biru di depan sekolah, senyum ramahnya, dan cara beliau menyapa setiap anak—dari beliau, Giva belajar banyak hal sederhana, termasuk pentingnya bersikap sopan pada siapa saja.
Kebiasaan Kecil yang Bertahan Lama
Selama bersekolah di Kembang, Giva terbiasa mengisi agenda harian. Kebiasaan yang tampaknya sepele ini justru bertahan hingga dewasa—membantunya mengatur waktu, membangun kemandirian, dan menghargai proses yang dijalani.
Kini bekerja di dunia pendidikan, Giva melihat jelas betapa uniknya pendekatan Kembang. Bukan satu arah, bukan guru semata yang mengajarkan; melainkan ruang belajar dua arah yang penuh hormat. Guru bisa belajar dari murid, murid belajar dari guru—menghadirkan dinamika yang setara dan hangat.