Dari Kembang hingga Jepang: Cerita Gyasi tentang Jatuh, Bangkit dan Menemukan Arah Baru
Dari Kembang hingga Jepang: Cerita Gyasi tentang Jatuh, Bangkit dan Menemukan Arah Baru
Ada masa dalam hidup ketika semuanya terasa berjalan sesuai rencana. Ada juga masa ketika hidup justru membawa kita berputar jauh sebelum akhirnya menemukan arah baru.
Bagi Gyasi, alumni PAUD & SD Kembang 2013, melewati banyak fase hidup yang benar-benar berbeda satu sama lain. Perjalanan sampai di titik ini tidak datang secara instan.
Setelah lulus dari Kembang, Gyasi mengingat dirinya sebagai remaja yang lebih banyak ingin bermain bersama teman-teman. Ada masa ketika ia merasa sulit diatur, bahkan sempat melalui fase rebellious dengan orang tua.
Memasuki pertengahan SMP dan SMA, hidupnya berubah ketika ia mulai serius menekuni polo air sebagai atlet. Dari olahraga itu, ia belajar tentang disiplin, komitmen, dan bagaimana mengatur waktu di tengah latihan dan sekolah.
“Jadi atlet membentuk mental saya cukup besar. Saya belajar tentang konsistensi, proses, dan bertahan walaupun capek,” kenangnya
Kesibukan sebagai atlet bahkan membuat Gyasi sempat berhenti kuliah setelah menjalani dua tahun perkuliahan di Jakarta. Saat itu, fokus utamanya masih tertuju pada dunia olahraga.
Namun perjalanan sebagai atlet ternyata tidak selalu berjalan mulus. Cedera, performa yang menurun, hingga kekalahan dalam pertandingan perlahan membuat motivasinya menurun. Sampai akhirnya, Gyasi memutuskan berhenti dari polo air—fase yang menurutnya cukup berat karena selama bertahun-tahun olahraga sudah menjadi bagian besar dalam hidupnya.
Setelah berhenti menjadi atlet, Gyasi mencoba membangun bisnis restoran bersama beberapa partner menggunakan tabungan yang ia miliki. Bisnis itu berjalan sekitar tiga tahun. Namun karena kondisi ekonomi dan mental yang saat itu masih belum cukup siap, usaha tersebut akhirnya gagal.
Alih-alih menutup cerita itu sebagai kegagalan semata, Gyasi justru melihatnya sebagai titik refleksi penting dalam hidupnya.
“Saya sadar dulu terlalu nyaman. Jadi sering menggampangkan sesuatu,” ungkapnya.
Dari berbagai pengalaman jatuh bangun itu, Gyasi mulai memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Tetapi justru dari kegagalan-kegagalan itulah ia belajar mengenal dirinya lebih dalam.
Kesempatan untuk pergi ke Jepang kemudian menjadi titik perubahan baru. Awalnya, Jepang hanya menjadi tempat untuk berjalan-jalan. Namun dari sana, Gyasi mulai tertarik mempelajari bahasa Jepang hingga akhirnya mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah di sana. Kali ini, ia lebih siap dan lebih dewasa menghadapi hidup.
Hidup jauh dari rumah membuatnya belajar mandiri, beradaptasi dengan budaya baru, dan menghadapi banyak hal sendiri. Mental sebagai atlet yang dulu terbentuk lewat latihan dan pertandingan ternyata sangat membantunya bertahan di fase ini.
Di tengah perkuliahannya, seorang teman menawarkan Gyasi untuk mencoba menjadi tour guide individu di Jepang. Awalnya ia tidak pernah membayangkan akan menjalani pekerjaan itu. Namun ternyata pengalaman tersebut justru membuka sisi baru dalam dirinya.
“Ternyata saya enjoy. Saya jadi belajar banyak tentang budaya, sejarah Jepang, cara menghadapi berbagai karakter orang, dan bahasa Jepang saya juga jadi semakin lancar," ceritanya.
Bagi Gyasi, menjadi guide bukan sekadar pekerjaan sampingan. Dari sana ia belajar membuka diri, memahami banyak orang, dan menemukan bidang yang benar-benar ia nikmati. Bahkan kini ia memiliki mimpi untuk suatu hari membangun travel company miliknya sendiri.
Jika ditanya apa yang membuatnya terus bertahan hingga sekarang, jawabannya sederhana, ia ingin bangkit dari kegagalan-kegagalan sebelumnya. Selain itu, ia juga merasa nyaman dengan lingkungan dan pekerjaan yang saat ini dijalaninya.
Di tengah perjalanan hidup yang membawanya jauh hingga ke Jepang, Gyasi juga mulai menyadari bahwa banyak nilai yang ternyata sudah ia pelajari sejak kecil di Kembang. Empati, respect, dan common sense menjadi hal yang paling terasa membentuk caranya menghadapi hidup hari ini.
Ia masih ingat suasana belajar di Kembang yang terasa hidup karena melibatkan hubungan dua arah antara murid dan Baginya, Kembang juga mengajarkan rasa hormat, bukan hanya kepada guru atau teman, tetapi juga terhadap ide dan pendapat orang lain. Dan yang paling ia ingat, sekolah selalu terasa menyenangkan. Karena itu, ketika diminta menggambarkan Kembang dalam tiga kata, Gyasi memilih: engaging, respect, dan nyaman.
Kini, setelah melewati berbagai fase hidup—dari masa kecil di Kembang, menjadi atlet, menghadapi kegagalan, hingga belajar hidup mandiri di Jepang—Gyasi melihat semuanya sebagai bagian dari proses bertumbuh.
Setiap fase membentuk dirinya sedikit demi sedikit. Dan mungkin, justru karena pernah jatuh, ia bisa lebih menghargai perjalanan untuk bangkit kembali.