Dua belas prinsip dasar monitoring dan evaluasi menurut Kertsy Hobson, dkk (2013)
Tentukan program yang akan dimonitor menurut skala prioritas. Pertimbangkan program mana yang akan dinilai, untuk periode kapan, dan apakah program tersebut adalah aktivitas yang sedang berlangsung sehingga perlu dimonitoring, atau sebagai rangkaian aktivitas yang sudah selesai sehingga perlu dievaluasi.
Tentukan siapa yang terlibat dalam setiap tahapan dan informasi apa yang dibutuhkan. Identifikasi siapa yang menjadi bagian internal program dan siapa yang menjadi bagian eksternal program.
Tentukan kata kunci (topik, pertanyaan, isu) yang akan diinvestigasi. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan tertutup ataupun pertanyaan terbuka sesuai dengan informasi yang ingin digali.
Klarifikasi sasaran, tujuan, aktivitas, dan langkah-langkah mencapainya. Kemajuan dapat diukur dengan merefleksikan tujuan, target, dan cara yang diambil untuk meraihnya. Dalam mendesain sebuah program, strategi yang dapat diterapkan meliputi tahapan input, pelaksanaan kegiatan, output (hasil langsung), outcome, dan dampak (impact). Untuk lebih memahami istilah-istilah di atas, berikut adalah pemaparan dari konsep kunci dalam merancang sebuah program:
Aim (dampak yang diinginkan), yaitu dampak akhir yang ingin diraih pada kehidupan orang lain atau lingkungan sekitar.
Objective (tujuan; outcome yang diinginkan), yaitu perubahan-perubahan yang perlu dilakukan untuk mencapai dampak yang diinginkan)
Output, yaitu hasil cepat yang diraih dari satu kegiatan yang dapat berkontribusi terhadap tujuan yang ingin dicapai (objective).
Activities, yaitu kegiatan program atau kegiatan proyek yang sedang dilakukan sebagai proses memperoleh output yang diinginkan.
Inputs, yaitu semua yang diperlukan selama melakukan kegiatan program atau proyek, seperti manusia, keuangan, organisasi, teknis, dan semua sumber daya sosial.
Picture source: Slideshare
Identifikasi informasi yang perlu diketahui untuk memahami hal-hal yang berubah, alasan perubahan, dan interpretasi terhadap perubahan tersebut.. Informasi yang diinginkan dapat berupa data kuantitatif (menjawab pertanyaan, apa, berapa, dan kapan) atau data kualitatif (menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana).
Informasi dapat diperoleh dari sumber internal dan eksternal. Data monitoring dapat diperoleh dari pihak internal melalui rekam jejak internal kegiatan, menyimpan data sekunder yang relevan, workshop kelompok yang dilakukan secara periodik, diskusi, FGD, survei periodik, dan perlengkapan komunitas. Evaluasi dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Biasanya evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar berupa wawancara. Penilai eksternal dapat menggunakan data yang diperoleh melalui sistem monitoring internal.
Tentukan kontribusi/pengaruh yang diberikan dari pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap dampak (outcome) yang dapat diamati. Pengaruh dan kontribusi dapat dinilai dengan penerapan kontrol secara ajak atau dengan penilaian retrospektif.
Data dianalisis dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dan rencana perbaikan. Analisis dilakukan secara periodik sesuai jenis dan sifat data sebagai berikut:
Jika data adalah informasi bersifat kualitatif : mengidentifikasi kategori, menginterpretasikan temuan, dan bersiap untuk hasil yang di luar perkiraan.
Jika data adalah informasi yang bersifat kuantitatif: menghitung total sampel, menghitung rata-rata dan persentase serta melakukan pengujian statistik.
Picture source: Presentation
Cara menjelaskan data sangat bergantung pada tujuan yang ingin dicapai dan target audience. Data dapat disajikan dalam bentuk grafik, narasi, infografis, ataupun cara lain yang dapat menggambarkan hasil-hasil penting kepada pemangku kepentingan atau hadirin.
Kedua belas adalah tentang etika dan proteksi data. Dalam etika memproteksi data, semua peserta atau responden yang dilibatkan selama proses monitoring dan evaluasi wajib dijaga kerahasiaannya.
Manajemen Resiko
Risiko peluang terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang merupakan "efek samping" dari sebuah kegiatan (program). Oleh karena itu, manajemen risiko harus diintegrasikan dalam pelaksanaan sistem manajemen sebuah organisasi. Sebaik apapun sebuah program disusun, unsur ketidakpastian bahwa rencana akan berjalan sepenuhnya tidak dapat dihindari. Risiko dapat diantisipasi dengan menerapkan risk management yang meliputi penetapan konteks risiko, identifikasi risiko, analisis dan evaluasi risiko, pengendalian risiko, dan komunikasi risiko.
Dalam dunia pendidikan, risiko dalam penyusunan sebuah program sekolah tidak dapat dihindari, namun dapat dikelola dan dikendalikan dengan rangkaian analisis dan metodologi untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan program tersebut. Hasilnya, kerugian dan hambatan pelaksanaan program dapat diminimalisir. Tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:
Risiko Strategis: merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan;
Risiko Keuangan: merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset;
Risiko operasional: merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen;
Risiko pemenuhan: merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosedural internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku;
Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Princewatercoper, 2003)
Tidak ada perubahan tanpa risiko. Oleh karena itu, agar sekolah dapat berubah ke arah yang lebih baik, setiap sekolah harus mengidentifikasi risiko dan merencanakan pengelolaannya. Tahapan yang dapat diambil untuk manajemen risiko yaitu:
identifikasi jenis risiko,
pengukuran risiko,
melakukan strategi dalam pengendalian risiko
melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan
Untuk menambah pemahaman, Anda juga dapat mempelajari tautan berikut ini: https://ejournal.upi.edu/index.php/JAPSPs/article/view/8295
Bagian ketiga:
Langkah-langkah penyusunan program sekolah yang berdampak pada murid.
Tahap perencanaan; pada tahap ini menentukan tujuan pelaksanaan program, bagaimana program akan dilakukan, siapa yang terlibat, termasuk alternatif kegiatan yang lain apabila kegiatan yang direncanakan dinilai akan menimbulkan masalah. Misalnya kalau dalam kegiatan susur sungai dinilai terlalu banyak kendala dan masalah, maka dapat diganti dengan kegiatan alternatif yang lain.
Tahap manajemen resiko; dilakukan sebelum pelaksanaan program, dimana tahapan manajemen resiko yang harus dilakukan yaitu; (1) mengidentifikasi jenis resiko yang kemungkinan muncul, (2) setelah itu melakukan pengukuran resiko, (3) melakukan strategi dalam pengendalian resiko, dan (4) melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan.
Tahap Pelaksanaan, dilakukan setelah rencana disusun dengan matang dan sudah dilakukan manajemen resiko. Tahap ini dilaksanakan sesuai dengan rancangan yang sudah disusun pada tahap perencanaan, dengan memperhatikan manajemen resiko.
Tahap monitoring dan evaluasi. Tahap ini sangat penting dilakukan untuk dapat mengetahui pelaksanaan program, apakah sudah sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang ingin dicapai.
Tahap pelaporan, dimana pada tahap ini, disusun sebuah dokumen yang berisi gambaran tentang apa (what) yang telah terjadi, di mana (where) kejadian tersebut berlangsung, bilamana (when) kejadian itu terjadi dan mengapa (why) hal itu terjadi, siapa (who) yang bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah terjadi, serta bagaimana (how) kejadiannya. Laporan memiliki fungsi untuk; pertanggungjawaban dan pengawasan, penyampaian informasi, bahan pengambilan keputusan dalam pelaksanaan manajemen, sekaligus sebagai alat untuk memperluas ide dan tukar menukar pengalaman.
Bagian keempat:
Koneksi antar materi pengelolaan program berdampak pada murid.
Hal-hal menarik yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan bagaimana benang merah yang bisa Anda tarik dari keterkaitan antarmateri yang diberikan dalam modul 3.3?
Penerapan manajemen risiko dalam pendidikan, pertimbangan aspek perasaan (feelings) dalam menyusun, melaksanakan, memonitoring, dan mengevaluasi program.
Apakah kaitan antara pemetaan sumber daya dengan perencanaan program sekolah yang berdampak pada murid?
Pemetaan aset merupakan baseline untuk merencanakan program sekolah berdampak pada murid. Kekuatan yang dimiliki sekolah merupakan modal utama kesuksesan sebuah program.
Adakah materi dalam modul lain/paket modul lain yang berhubungan dengan materi dalam modul 3.3. ini? Jabarkanlah jika ada.
Seluruh materi dalam Program Pendidikan Guru Penggerak berhubungan dengan modul program sekolah yang berdampak pada murid. Semua berakar pada Filosopi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan bermuara pada terciptanya merdeka belajar. Program sekolah berdampak pada murid sangat relevan dengan visi guru penggerak dan dapat tercapai dengan penerapan budaya positif lingkungan sekolah. Untuk dapat merancang program sekolah yang berdampak pada murid, keterampilan berkomunikasi efektif, kompetensi sosial dan emosional, dan pola pikir berbasis aset sangat diperlukan. Selanjutnya, paradigma inquiry apresiatif dalam langkah BAGJA dapat diterapkan sebagai kerangka dalam menyusun program. Dalam melaksanakan dan memonitoring program, kemampuan coaching sangat diperlukan untuk pemecahan masalah yang dihadapi selama program berjalan.
Bagaimana kaitan dari semua materi tersebut dengan peran Anda sebagai guru penggerak?
Semua materi yang dipelajari dalam Program Pendidikan Guru Penggerak sangat bermanfaat bagi seorang guru penggerak untuk mewujudkan visinya: mandiri, reflektif, kolaboratif, dan berpihak pada murid.