Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya
Change your mindset, change your future!
Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Tugas kita sebagai warga Indonesia untuk mengidentifikasi, mengelola, dan mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki untuk kemajuan negeri tercinta.
Dalam lingkup yang lebih spesifik, dunia pendidikan (sekolah) memiliki sumber daya sendiri. Sekolah merupakan sebuah suatu ekosistem yang terdiri atas unsur biotik dan abiotik yang keberadaannya saling melengkapi dan saling mendukung. Tugas guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah mengelola sumber daya yang dimiliki komunitas sekolah secara optimal untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan.
Unsur biotik dan abiotik dalam ekosistem sekolah ini selanjutnya dikembangkan lagi menjadi tujuh jenis aset/modal yang dapat dikembangkan untuk kemajuan sebuah komunitas (Asset-Based Community Development). Ketujuh jenis aset tersebut yaitu 1) modal manusia; 2) modal sosial; 3) modal fisik; 4) modal lingkungan alam; 5) modal finansial; 6) modal politik; dan 7) modal agama dan budaya.
Ulasan lengkap mengenai identifikasi tujuh aset ini dapat dilihat pada Identifikasi Aset SMP Negeri 1 Mengwi
Dalam pengelolaan sumber daya/asset/modal yang dimiliki oleh sebuah komunitas, terdapat dua pendekatan berpikir yang sering dilakukan, yaitu pendekatan berpikir berbasis kekurangan (Deficit-Based Thinking) dan pendekatan berpikir berbasis aset (Asset-Based Thinking) menurut Dr. Kathryn Cramer. Pendekatan berpikir berbasis kekurangan berfokus pada permasalahan, kekurangan, gangguan dan hambatan yang menghalangi kesuksesan. Pola pikir berbasis kekurangan diterapkan terus menerus dapat membutakan kita pada potensi, asset, dan hal-hal baik yang telah kita capai. Sebaliknya, pendekatan berbasis asset mengajak kita untuk melihat sebuah situasi dari sisi terangnya. Untuk dapat mengoptimalkan potensi sumber daya yang dimiliki sebuah komunitas, diperlukan seorang pemimpin yang memiliki mindset Asset-Based Thinking. Pemimpin yang melakukan pendekatan berbasis asset dalam pengembangan sumber daya komunitasnya adalah seseorang yang optimis dan visioner. Perbandingan antara Decifit-Based Thinking dan Asset-Based Thinking dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Langkah pertama yang harus dilakukan guru untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk peningkatan layanan terhadap siswa yaitu mengubah cara pandang. Change your mindset! Mari belajar melihat sesuatu dari sisi terangnya. Hal-hal apa yang sudah baik, potensi apa yang masih bisa dikembangkan? Bagaimana kondisi ideal di masa depan?
Di masa pandemi kita dihadapkan pada situasi menantang yang memaksa kita untuk beradaptasi. Perubahan paradigma pendidikan dari belajar secara tatap muka di sekolah-sekolah menjadi pembelajaran daring dari rumah memerlukan proses adaptasi yang luar biasa. Kita dapat melihat situasi ini dari dua sisi: dark side (sisi gelap) atau bright side (sisi terang). Dengan mindset Asset-based thinking, kita dapat mengubah hal-hal negatif menjadi kekuatan.
Salah satu contohnya adalah mengubah kecemasan terhadap teknologi menjadi pemantik untuk mengenal dan memanfaatkan teknologi lebih jauh lagi. Kita memiliki sumber daya yang berlimpah. Anak-anak yang kita ajar merupakan digital native yang sangat mudah beradaptasi dengan teknologi. Berbagai media sosial dapat juga dimanfaatkan sebagai platform dan media pembelajaran. Hampir setiap anak memiliki gadget dan akses internet yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk proses pembelajaran. Dukungan finansial berupa bantuan kuota dari Kemdikbud mendukung proses belajar dari rumah secara daring. Kita dapat memperkuat sinergi dengan orangtua untuk pendidikan karakter anak, terutama mengenai etika dan keamanan berinternet. Kolaborasi dengan berbagai instansi dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi penyebaran hoax dan scam. Penguatan budaya dan agama juga dapat dilakukan dengan pemanfaatan teknologi.
Di masa depan, digitalisasi pendidikan bukanlah hal yang mustahil.
Guru adalah superhero yang dapat mengubah masa depan muridnya dengan membantunya menemukan jati dirinya, membimbingnya tumbuh dan berkembang sesuai kodrat alamnya, serta menuntunnya agar selamat mengarungi kodrat zaman. Untuk tujuan tersebut, guru harus memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik dan menerapkan coach mindset sehingga potensi seorang anak dapat dikembangkan secara optimal melalui pembelajaran yang dipimpin oleh guru. Latihan mindfulness dapat membantu guru untuk berpikir jernih dan melihat sisi terang dari sebuah situasi. Rasa empati dan kemampuan berkomunikasi efektif dapat membantu guru untuk lebih memahami peserta didiknya sehingga pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid dapat dirancang dan diterapkan. Sebagai coach, guru dapat membantu murid untuk menggali potensinya sendiri, memecahkan masalah, dan bertumbuh sesuai kodratnya. Di tangan dan hati guru, seorang murid akan mampu tumbuh salam dan bahagia.
Teachers, you are a superhero! The future is in your hands