Menumbuhkan budaya positif melalui kesepakatan kelas
Hi there, fellow teachers and lifelong learners!
Pernahkah kalian mendengar mengenai budaya positif di lingkungan sekolah? Positive culture, atau budaya positif adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa aman dan nyaman dalam belajar di sekolah. Jika anak-anak merasa aman dan nyaman di sekolah, pastinya mereka akan bersemangat juga untuk belajar. Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menyebutkan ini dengan istilah "Kasmaran Belajar". Salah satu cara untuk menumbuhkan merdeka belajar adalah dengan menyusun kesepakatan kelas. Yuk simak apa itu kesepakatan kelas dan bagaimana langkah-langkah menyusun kesepakatan kelas!
Langkah-langkah menyusun kesepakatan kelas:
Sosialisasikan kepada anak didik mengenai tujuan kesepakatan kelas dan alasan kenapa kesepakatan kelas itu penting.
Minta setiap anak untuk urun pendapat mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di kelas.
Arahkan diskusi sehingga tercapai poin-poin yang disepakati.
Rangkum hasil diskusi bersama anak dan pastikan semua usul anak ditampung dan disepakati bersama.
Tulis ulang kesepakatan kelas yang sudah dibuat. Jika memungkinkan, ajak anak untuk menandatangani kesepakatan kelas bersama-sama
Tempel kesepakatan kelas di tempat yang gampang terlihat, setiap anggota kelas wajib saling mengingatkan tentang pelaksanaan kesepakatan kelas ini.
Kesepakatan kelas ini dapat direview secara berkala, misalnya pada awal semester atau saat tengah semester.
Semangat belajar!
Kalau belajar daring gimana dong caranya bikin kesepakatan kelas?
Banyak jalan menuju Roma, tak ada rotan akar pun jadi!
Dalam kelas daring kita dapat memanfaatkan teknologi untuk menyusun dan mensosialisasikan kesepakatan kelas. Misalnya:
Menggunakan Menti Meter https://www.mentimeter.com/ untuk menampung pendapat siswa secara bersama-sama
Menggunakan Zoho Form https://www.zoho.com/id/ untuk menampung pendapat individu dan tanda tangan siswa
Menggunakan Padlet https://id.padlet.com/ agar siswa bisa menyampaikan pendapat dan melihat pendapat teman sekelas dalam satu laman.
Menggunakan Google Forms https://docs.google.com/forms untuk mengumpulkan pendapat siswa.
Menggunakan fitur "Question" (Pertanyaan) pada Google Classroom https://classroom.google.com/ untuk mendiskusikan kesepakatan kelas bersama anak-anak.
Teman-teman juga dapat mengeksplorasi berbagai aplikasi pendidikan lain dari internet. The sky is the limit, (almost) everything is one Google away.
Nah, seperti ini contohnya proses menyusun kesepakatan kelas.
Terus, kalau sudah ada kesepakatan kelas, apa manfaatnya?
Kesepakatan kelas disusun untuk menumbuhkan budaya positif di lingkungan sekolah. Anak-anak merasa percaya diri karena pendapatnya dihargai dan keinginannya diwujudkan. Anak-anak akan lebih taat pada aturan kesepakatan kelas ini karena merekalah yang menyusun dan menyetujui kesepakatan kelas bersama-sama. Mereka juga memiliki rasa tanggungjawab untuk saling mengingatkan. Pada akhirnya, mereka akan merasa aman dan nyaman di sekolah. Dengan demikian rasa kasmaran belajar akan muncul dalam diri siswa sehingga tumbuh menjadi pelajar Pancasila yang merdeka belajar.
Semangat belajar dan mengajar
Guru penggerak, merdeka belajar!