Coaching and Social-Emotional Learning
Membantu rekan sejawat dan peserta didik menggali potensi diri melalui praktik coaching berbasis empati, welas asih (compassion) dan kesadaran (mindfulness).
Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menyatakan bahwa tugas seorang guru sejatinya adalah menuntun tumbuhnya kodrat alam seorang anak sesuai dengan kodrat zaman. Memberikan tuntunan hanya bisa dilakukan jika seorang guru memiliki rasa empati, welas asih, dan pemahaman terhadap segala bentuk perbedaan kodrat alam peserta didiknya. Untuk itu, seorang guru hendaknya membangun Kompetensi Sosial-Emosionalnya terlebih dahulu agar mampu memahami perbedaan peserta didik, dan menuntun tumbuh kembangnya untuk tercapai kekuatannya.
Kompetensi Sosial-Emosional terdiri atas lima komponen yaitu:
Kesadaran diri: kompetensi ini sangat erat kaitannya dengan Mindfulness, dimana seseorang menyadari siapa dirinya, dimana dia berada, apa yang dia lakukan dan sepenuhnya terhubung dengan saat ini, namun tidak bereaksi berlebihan atau merasa kewalahan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Kompetensi ini dapat dilatih melalui praktik berkesadaran penuh (mindfulness) misalnya mindful breathing, mindful walking, atau sesederhana melakukan hal-hal kecil dengan penuh perhatian. Kompetensi kesadaran diri sangat erat kaitannya dengan kompetensi yang kedua yaitu;
Pengelolaan diri: setelah menyadari diri dan emosi, langkah selanjutnya yang dapat diambil yaitu mengelola diri dengan mengendalikan emosi dan fokus. Setiap kali dihadapkan dalam situasi menantang, seseorang yang memiliki kompetensi pengelolaan diri yang baik tidak akan langsung bereaksi (triggered). Sebaliknya, ia akan berusaha untuk menganalisa situasi dan memberikan respon yang tepat untuk terhadap segala sesuatu yang terjadi.
Kesadaran sosial: kompetensi ini erat kaitannya dengan rasa empati (empathy) dan welas asih (compassion) yang tulus terhadap semua makhluk. Seseorang yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi mampu melihat dari sudut pandang orang lain dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Karenanya, dia juga akan memiliki kompetensi sosial emosional keempat, yaitu;
Kemampuan berinteraksi sosial: dalam kehidupan, sering kali kita tidak dapat memilih dengan siapa kita berinteraksi. Meskipun kita dapat memilih inner circle kita, namun tuntutan pekerjaan, dan norma kemasyarakatan mengharuskan kita untuk berinteraksi dengan siapa saja. Kunci dari interaksi sosial yang lancar adalah resiliensi, yang berarti daya lenting dan ketahanmalangan (adversity). Dengan menyadari diri, mengelola diri dengan baik, dan berempati terhadap sesama, daya lenting dalam interaksi sosial akan dapat tercapai.
Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab: keempat komponen KSE di atas akan mewujudkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara sadar, logis, dan bertanggungjawab. Sebagai seorang guru, kompetensi ini sangat penting dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak kepada anak karena dalam prosesnya banyak keputusan yang harus kita ambil untuk membantu murid meraih potensi optimalnya.
Coaching: kolaborasi dan komunikasi yang memberdayakan
Dalam konteks pendidikan, coaching merupakan proses menuntun belajar murid melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif, mendengarkan secara aktif, dan menuntun metakognisi (kemampuan berpikir) untuk membantu mereka menggali potensi (kekuatan kodrat) dirinya.
Seorang coach perlu menerapkan keterampilan sosial dan emosional dalam membangun mindset-nya. Praktik Mindfulness dalam mengenali dan mengendalikan emosi, coach untuk fokus mendengarkan, merespon, dan bertanya kepada coachee. Rasa empati dan welas asih yang dimiliki oleh seorang coach akan membantunya melihat permasalahan dari sudut pandang coachee, dan resiliensi yang tinggi akan menjadikan coach untuk mampu tetap netral dalam permasalahan yang dihadapi coachee. Selanjutnya, kemampuan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab yang dimiliki coach akan membantu coachee untuk melihat peluang, aksi nyata, dan visi untuk pengembangan potensinya.
Komunikasi yang memberdayakan
Menciptakan komunikasi yang memberdayakan dapat dilakukan dengan:
Komunikasi asertif
Mendengarkan secara aktif
Bertanya efektif
Memberikan umpan balik positif
Langkah-langkah coaching model TIRTA
References:
Collaborative for Academic Social and Emotional Learning: https://casel.org/
Genta Kedamaian: https://www.instagram.com/p/CMgL9t7AUrT/
Iberdrola: https://www.iberdrola.com/talent/coaching-mentoring
Mindful Northwest: https://www.mindfulnessnorthwest.com/about-practice/6170271