Lagu Laskar Pelangi diciptakan dan dinyanyikan oleh grup band Nidji pada tahun 2008 sebagai soundtrack film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata. Novel dan film tersebut mengisahkan perjuangan anak-anak di Belitung yang bersekolah dengan penuh keterbatasan namun tetap bersemangat mengejar cita-cita. Judul Laskar Pelangi sendiri melambangkan semangat dan harapan anak-anak untuk meraih masa depan yang cerah, seperti warna-warni pelangi yang indah.
Lirik lagu ini sarat makna tentang keberanian bermimpi, optimisme, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak meraih masa depan yang lebih baik. Dengan musik yang penuh energi, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan remaja Indonesia dan sering dipakai dalam kegiatan sekolah maupun acara motivasi. Hingga kini, Laskar Pelangi dianggap sebagai salah satu lagu inspiratif yang mampu menggugah semangat belajar, kerja keras, dan rasa percaya diri generasi muda.
Sal Priadi, bernama lengkap Salmantyo Ashrizky Priadi, lahir di Malang pada 30 April 1992. Ia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, sekaligus aktor dengan karya-karya bernuansa puitis dan emosional. Kariernya bermula dari SoundCloud pada 2015 sebelum merilis single debut Kultusan (2017). Namanya semakin dikenal lewat lagu Ikat Aku di Tulang Belikatmu (2018), Amin Paling Serius bersama Nadin Amizah (2019), hingga album Berhati (2020). Album terbarunya, MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS (2024), semakin menguatkan ciri khas musiknya yang kontemporer dan penuh ekspresi. Ia telah meraih berbagai nominasi di ajang Anugerah Musik Indonesia dan bahkan sempat masuk nominasi Piala Citra.
Selain bermusik, Sal Priadi juga aktif di dunia akting. Ia tampil dalam film-film seperti Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021), Ketika Berhenti di Sini (2023), hingga 24 Jam Bersama Gaspar (2024). Ia juga terlibat dalam teater musikal serta serial web populer. Dalam kehidupan pribadi, Sal menikah dengan Sarah Deshita Affandi dan dikaruniai seorang putra bernama Barat. Kehangatan pribadinya, lirik yang sarat makna, serta penampilannya di panggung membuatnya dekat dengan para penggemar yang akrab disebut “fufufufriends.” Salah satu lagu yang menyentuh hati adalah Kita Usahakan Rumah Itu, yang menyampaikan pesan tentang membangun rumah tangga bersama dengan penuh cinta, kesabaran, dan pengharapan—sebuah simbol perjuangan dua insan untuk saling menguatkan dan merawat kebahagiaan bersama.
Leilani Hermiasih, yang dikenal dengan nama panggung Frau, adalah seorang musisi dan etnomusikolog asal Yogyakarta. Ia dikenal lewat karya musik piano-vokal yang dekat, reflektif, dan sarat makna. Musiknya menggabungkan unsur pop, klasik, eksperimental, hingga nuansa tradisional Jawa.
Selain sebagai musisi, Leilani adalah seorang akademisi. Ia merupakan lulusan Antropologi UGM dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana di bidang Etnomusikologi. Keilmuannya dalam antropologi sangat memengaruhi cara ia menciptakan musik—tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi sosial dan budaya.
Musik Frau khas dengan piano dan vokalnya yang kuat namun lembut, serta aransemen sederhana yang mampu menyampaikan pesan dalam. Banyak pendengarnya menggambarkan musik Frau sebagai “teman sepi”, “pengantar renungan”, atau “lagu untuk menenangkan hati”.