Babat Tanah Tegal
Pada zaman dahulu, di pesisir utara Pulau Jawa masih terbentang hutan-hutan lebat yang belum dihuni manusia. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, semak belukar menutup jalan, dan suara binatang buas sering terdengar dari kejauhan. Tanah itu masih liar, gersang, dan belum tersentuh tangan manusia.
Alkisah, datanglah seorang tokoh bernama Ki Gede Sebayu. Ia berasal dari daerah Mataram dan dikenal sebagai sosok bijak serta pemberani. Ki Gede Sebayu mendapat tugas untuk membuka lahan baru di wilayah pesisir utara. Ia tidak bekerja sendirian, melainkan ditemani oleh keluarga dan sekelompok pengikut yang setia.
Setelah melakukan perjalanan jauh, rombongan Ki Gede Sebayu sampai di sebuah kawasan yang luas, dekat dengan laut. Tanahnya kering, penuh semak dan hutan belantara. Meski demikian, Ki Gede Sebayu melihat potensi besar di sana. “Inilah tanah yang akan kita babat, kita buka, dan kita jadikan tempat tinggal,” ujarnya penuh keyakinan.
Hari-hari awal mereka penuh perjuangan. Pepohonan besar ditebang, semak belukar dibersihkan, dan tanah yang keras dicangkul bersama-sama. Siang malam mereka bekerja, dengan tekad menjadikan tanah liar itu sebagai tanah tegalan—lahan luas yang subur dan bisa ditanami.
Tak hanya membuka lahan, Ki Gede Sebayu juga mengajarkan masyarakat sekitar cara bercocok tanam. Ia menanam padi, palawija, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Perlahan, tanah yang tadinya tandus berubah menjadi lahan yang hijau dan subur. Hasil panen melimpah, membuat kehidupan mereka semakin sejahtera.
Karena tanah itu berubah menjadi tegalan yang luas, daerah tersebut kemudian dinamai “Tegal”, yang berarti tanah lapang atau tanah tegalan yang subur. Nama itulah yang kemudian melekat hingga kini.
Namun perjuangan Ki Gede Sebayu tidak hanya berhenti pada membuka lahan. Ia juga mendidik rakyat dengan ilmu pengetahuan, mengajarkan cara berdagang, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan. Letak Tegal yang berada di pesisir membuat daerah ini cepat berkembang menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari negeri seberang.
Ki Gede Sebayu menjadi pemimpin yang disegani. Ia tidak hanya dihormati karena keberaniannya, tetapi juga karena kebijaksanaan dan kesederhanaannya. Ia selalu mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi. Berkat pengorbanan dan keteladanannya, Tegal tumbuh menjadi daerah yang makmur, damai, dan ramai hingga sekarang.
Penulis: Jatu Kaannaha Putri
Jenjang: SD
Jumlah: 24 halaman
Bahasa: Indonesia
Tema: Cerita Rakyat
Format: Buku Komik
Sinopsis :
Baro Klinting adalah seekor naga yang merupakan anak dari Endang Sawitri. Endang Sawitri adalah putri Kepala Desa Ngasem. Karena mendapat sebuah kutukan, Endang Sawitri harus mengandung dan melahirkan seorang anak berwujud naga. Anak itu bernama Baro Klinting. Setelah beranjak remaja Baro Kelinting ingin bertemu ayahandanya yang sedang bertapa di Gunung Telomoyo. Setelah bertemu, ia diberi perintah oleh ayahnya untuk bertapa demi melepaskan diri dari kutukan sehingga dapat berubah wujud menjadi anak manusia pada umumnya.
Penulis : Widowati Sumardi
Jenjang : SD
Jumlah : 23 halaman
Bahasa : Indonesia
Tema : Cerita Rakyat
Format : Buku Komik
Sinopsis :
Alkisah, seorang putri raja yang lincah dan cantik bernama Dewi KuncungBiru. Sang Putri senang memakai baju biru dan rambutnya selalu dikucir satu dengan menggunakan pita biru. Sang Putri memiliki kemauan yangsangat keras, tamak, dan iri hati. Apa yang diinginkannya harus ia dapatkan. Kadang ia tidak peduli, apakah yang diinginkannya itu milik orang lain atau bukan. Ia harus mendapatkannya. Oleh karena itu, ia sering bertengkar dengan teman-temannya. Nah, sifat yang kurang terpuji itulah yang akhirnya merugikan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bagaimana kelanjutannya? Mari ikuti kisah Dewi Kuncung Biru. Selamat membaca!