MATERI : HARI SELASA
MATERI PANCANITI
BAGIAN I: NITI SURTI
(Kesadaran Akal, Pemahaman, dan Ilmu sebagai Penuntun Hidup)
Tahap Pemahaman dan Pemaknaan
A. Tujuan Pembelajaran (Diperdalam)
Peserta didik diharapkan mampu:
Memahami makna substantif ayat Al-Qur’an, hadis, dan ijma’ ulama tentang tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Menyadari bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ketaatan dan keimanan kepada Allah.
Menafsirkan nilai-nilai Islam dalam konteks permasalahan lingkungan masa kini.
Menumbuhkan sikap batin (kesadaran nurani) untuk peduli terhadap kelestarian alam.
B. Makna Menjaga Alam dalam Islam
1. Menjaga Alam sebagai Bentuk Ketaatan kepada Allah
Dalam Islam, ketaatan (tha’ah) tidak hanya diwujudkan melalui:
Salat
Puasa
Zakat
Haji
Tetapi juga melalui:
Menjaga ciptaan Allah
Tidak merusak tatanan alam
Menggunakan sumber daya secara bijaksana
Menjaga alam berarti:
Menjalankan perintah Allah
Menghormati sunnatullah (hukum alam)
Mengakui kebesaran dan hikmah penciptaan Allah
Setiap tindakan ramah lingkungan bernilai ibadah, meskipun dilakukan tanpa disadari sebagai ritual keagamaan.
2. Merusak Alam sebagai Dosa Sosial dan Ekologis
Merusak alam dalam Islam termasuk dosa ganda, yaitu:
Dosa kepada Allah, karena melanggar perintah-Nya
Dosa kepada manusia, karena merugikan kehidupan sosial
Dosa kepada makhluk lain, karena mengganggu ekosistem
Contoh perbuatan dosa ekologis:
Membuang sampah sembarangan
Eksploitasi alam berlebihan
Pemborosan air dan listrik
Penebangan liar tanpa reboisasi
Islam memandang bahwa dosa tidak selalu berbentuk maksiat pribadi, tetapi juga maksiat kolektif yang berdampak luas.
C. Hubungan Iman dan Lingkungan
1. Iman sebagai Kesadaran Menyeluruh
Iman dalam Islam bersifat syamil (menyeluruh), mencakup:
Hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah)
Hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas)
Hubungan manusia dengan alam (hablum minal ‘alam)
Oleh karena itu:
Orang beriman sejati tidak mungkin merusak alam dengan sengaja.
2. Lingkungan sebagai Cermin Kualitas Iman
Kualitas iman seseorang dapat tercermin dari:
Cara memperlakukan lingkungan
Sikap terhadap kebersihan dan kerapian
Kepedulian terhadap makhluk hidup lain
Lingkungan yang terjaga menunjukkan:
Iman yang hidup
Akhlak yang baik
Kesadaran tanggung jawab sebagai hamba dan khalifah
Sebaliknya, lingkungan yang rusak sering kali mencerminkan iman yang lemah dan nurani yang tumpul.
D. Nilai-Nilai Islam dalam Menjaga Lingkungan
1. Amanah
Alam adalah titipan Allah, bukan milik mutlak manusia.
Setiap nikmat alam akan dimintai pertanggungjawaban.
Amanah menuntut sikap jujur, adil, dan tidak serakah.
2. Tanggung Jawab
Setiap manusia bertanggung jawab atas:
Tindakannya
Dampaknya
Akibat jangka panjang bagi generasi mendatang
Islam mengajarkan prinsip:
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (La dharar wa la dhirar)
3. Keseimbangan (Tawazun)
Allah menciptakan alam dalam keadaan seimbang:
Penggunaan harus seimbang
Pembangunan harus berkelanjutan
Hak manusia dan hak alam harus selaras
Merusak keseimbangan berarti melawan sunnatullah.
4. Larangan Berlebih-lebihan (Israf)
Islam melarang segala bentuk pemborosan:
Boros air, meskipun saat wudhu
Boros listrik dan sumber daya
Konsumsi berlebihan tanpa kebutuhan
Sikap israf menunjukkan:
Ketidaksyukuran
Ketidakpedulian
Egoisme manusia
E. Aktivitas Murid (Diperdalam)
1. Aktivitas Individu
Menafsirkan QS. Al-A’raf: 56 dengan bahasa sendiri
Menuliskan contoh sikap menjaga alam sebagai bentuk iman
2. Aktivitas Kelompok
Diskusi pemaknaan:
Apakah orang rajin ibadah pasti peduli lingkungan?
Bagaimana hubungan iman dan kebersihan lingkungan sekolah?
Apakah merusak alam termasuk dosa? Jelaskan alasannya.
3. Refleksi Nilai
Peserta didik menuliskan jawaban singkat:
“Bagaimana cara saya membuktikan iman melalui kepedulian terhadap lingkungan?”
F. Penegasan Tahap NITI SURTI
Pada tahap NITI SURTI, peserta didik:
Tidak hanya mengetahui dalil
Tetapi memahami makna terdalamnya
Mulai merasakan keterikatan batin antara iman dan lingkungan
A. PENGERTIAN SURTI
1. Pengertian Umum
Surti berasal dari makna mengerti, memahami, menyadari secara rasional.
Jika Harti adalah pusat niat dan hati, maka Surti adalah pusat akal dan pemahaman.
Surti mengandung unsur:
berpikir
memahami sebab–akibat
menyadari makna suatu perbuatan
menggunakan ilmu dan nalar sehat
➡️ Harti menjawab “mengapa aku berbuat”, Surti menjawab “apa dan bagaimana aku berbuat”.
2. Kedudukan Surti dalam PANCANITI
Urutan PANCANITI bersifat logis:
Harti → niat yang benar
Surti → pemahaman yang benar
Bukti → tindakan nyata
Bakti → pengabdian
Sajati → jati diri sejati
Tanpa Surti:
niat baik bisa salah arah
semangat tinggi bisa keliru
perbuatan baik bisa merugikan
B. SURTI DALAM AJARAN ISLAM
1. Islam Agama Ilmu dan Akal
Islam tidak memisahkan iman dari ilmu.
📖 “Bacalah dengan nama Tuhanmu…” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Wahyu pertama bukan perintah ibadah ritual, tetapi perintah berpikir dan membaca.
➡️ Ini menegaskan bahwa Surti (pemahaman) adalah fondasi keimanan.
2. Kedudukan Ilmu dalam Islam
📖 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
➡️ Surti dalam Islam = ilmu + kesadaran + hikmah.
3. Akal sebagai Amanah
Islam memuliakan akal, tetapi juga membimbingnya agar tidak liar.
📖 “Apakah kamu tidak berpikir?”
(berulang kali dalam Al-Qur’an)
➡️ Surti bukan sekadar pintar, tetapi bijak dan bertanggung jawab.
C. SEJARAH NILAI SURTI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1. Tradisi Intelektual Islam
Pada masa kejayaan Islam:
berkembang ilmu matematika, kedokteran, astronomi
lahir tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun
Mereka menggabungkan:
iman (Harti)
ilmu (Surti)
amal (Bukti)
2. Surti dalam Budaya Nusantara
Bangsa Indonesia sejak lama menjunjung:
musyawarah
kebijaksanaan
kearifan lokal
Ungkapan seperti:
“Ojo mung wani, kudu ngerti”
(Jangan hanya berani, tapi harus mengerti)
➡️ Ini adalah nilai Surti.
D. FUNGSI SURTI DALAM KEHIDUPAN
1. Fungsi Intelektual
membedakan benar dan salah
memahami akibat suatu tindakan
menghindari kesalahan karena kebodohan
2. Fungsi Spiritual
menguatkan iman berdasarkan pemahaman
mencegah taklid buta
melahirkan ibadah yang sadar dan khusyuk
📖 QS. Muhammad: 19
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…”
3. Fungsi Sosial
mendorong dialog, bukan kekerasan
menyelesaikan masalah dengan musyawarah
menghindari hoaks dan provokasi
E. CONTOH-CONTOH SURTI DALAM KEHIDUPAN
1. Di Lingkungan Sekolah
memahami aturan sekolah, bukan sekadar takut sanksi
belajar memahami tujuan pelajaran, bukan hanya nilai
berdiskusi sebelum berdebat
2. Dalam Beragama
memahami makna shalat, puasa, zakat
tidak mudah menghakimi perbedaan
beragama dengan dalil dan adab
📖 QS. An-Nahl: 125
“Serulah dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
3. Dalam Dunia Digital
menyaring informasi sebelum membagikan
berpikir kritis terhadap berita
bijak bermedia sosial
➡️ Surti adalah benteng dari hoaks dan radikalisme.
F. SURTI DALAM KONTEKS PENDIDIKAN SMK
Surti bagi siswa SMK berarti:
memahami kompetensi keahlian
tahu etika kerja
sadar risiko dan tanggung jawab pekerjaan
Contoh:
siswa teknik paham keselamatan kerja
siswa bisnis paham kejujuran transaksi
G. KESESUAIAN SURTI DENGAN PRIBADI MUSLIM
Pribadi Muslim sejati:
beriman dengan ilmu
beramal dengan pemahaman
berdakwah dengan hikmah
Islam menolak:
fanatisme buta
kebodohan yang dibungkus agama
H. KESESUAIAN SURTI DENGAN PRIBADI INDONESIA
Surti selaras dengan:
Pancasila sila ke-4 (musyawarah)
budaya dialog
pendidikan dan kecerdasan bangsa
Pribadi Indonesia yang ber-Surti:
cerdas
bijaksana
toleran
berpikir sebelum bertindak
I. HUBUNGAN SURTI DENGAN HARTI
Harti tanpa Surti → niat baik tapi salah langkah
Surti tanpa Harti → pintar tapi kering nilai
Harti + Surti → lahir tindakan yang benar dan bermakna
J. PENUTUP (REFLEKSI UNTUK SISWA)
Pertanyaan refleksi:
Apakah aku memahami alasan aku belajar?
Apakah aku beragama dengan ilmu atau sekadar ikut-ikutan?
Apakah aku berpikir sebelum bertindak?
“Ilmu tanpa iman melahirkan kesombongan, iman tanpa ilmu melahirkan kesesatan.”