MATERI : HARI SENIN
MATERI PANCANITI
BAGIAN I: NITI HARTI
Tahap Pengenalan dan Eksplorasi Awal
A. Tujuan Pembelajaran (Diperdalam)
Peserta didik diharapkan mampu:
Mengenal konsep dasar manusia sebagai khalifah fil ardh dalam Islam.
Mengeksplorasi ayat Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, dan ijma’ ulama yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Menumbuhkan kesadaran awal bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab keimanan.
Mengidentifikasi bentuk-bentuk kerusakan lingkungan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
B. Manusia sebagai Khalifah di Bumi
1. Pengertian Khalifah
Kata khalifah berasal dari bahasa Arab khalafa yang berarti:
Pengganti
Wakil
Pengelola
Pemegang amanah
Dalam konteks penciptaan manusia, khalifah berarti wakil Allah di bumi yang diberi amanah untuk:
Mengelola bumi
Menjaga keseimbangannya
Memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana
2. Amanah Kekhalifahan
Amanah sebagai khalifah mencakup:
Amanah spiritual (ketaatan kepada Allah)
Amanah sosial (kepedulian terhadap sesama manusia)
Amanah ekologis (tanggung jawab terhadap alam)
Kerusakan lingkungan bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi pengkhianatan terhadap amanah Allah.
3. Prinsip Keseimbangan (Tawazun)
Allah menciptakan alam dengan keseimbangan:
Siang dan malam
Darat dan laut
Manusia, hewan, dan tumbuhan
Manusia dilarang merusak keseimbangan tersebut karena akan berdampak pada seluruh makhluk hidup.
C. Dalil Al-Qur’an (Kajian Awal)
1. QS. Al-Baqarah: 30
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
Makna Kandungan Ayat:
Manusia memiliki kedudukan mulia sebagai khalifah.
Kedudukan tersebut disertai tanggung jawab besar, bukan kebebasan tanpa batas.
Kekhalifahan menuntut ilmu, akhlak, dan kesadaran moral.
Implikasi Lingkungan:
Manusia tidak berhak mengeksploitasi alam secara serakah.
Setiap tindakan terhadap alam akan dimintai pertanggungjawaban.
2. QS. Al-A’raf: 56
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
Makna Kandungan Ayat:
Allah menciptakan bumi dalam kondisi baik dan seimbang.
Larangan fasad (kerusakan) mencakup:
Kerusakan fisik (pencemaran, penebangan liar)
Kerusakan moral (keserakahan, ketidakpedulian)
Kerusakan sosial (ketidakadilan akibat eksploitasi alam)
Pesan Utama:
Menjaga lingkungan adalah bentuk ketaatan, sedangkan merusaknya adalah bentuk maksiat sosial.
D. Hadis Nabi ﷺ tentang Lingkungan
Hadis Menanam Pohon
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu dimakan manusia, hewan, atau burung, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari)
Makna Hadis:
Islam mendorong perbuatan yang berdampak jangka panjang.
Setiap kebaikan terhadap alam bernilai ibadah dan sedekah.
Manfaat tidak harus kembali kepada pelaku, tetapi cukup memberi manfaat bagi makhluk lain.
Nilai Pendidikan:
Keikhlasan
Kepedulian lintas generasi
Tanggung jawab ekologis
E. Ijma’ Ulama tentang Lingkungan
1. Lingkungan dalam Maqashid Syariah
Ulama sepakat bahwa menjaga lingkungan berkaitan erat dengan:
Hifz an-nafs (menjaga jiwa)
Hifz an-nasl (menjaga keturunan)
Hifz al-mal (menjaga sumber kehidupan)
Tanpa lingkungan yang sehat:
Jiwa terancam
Kehidupan generasi mendatang rusak
Sumber penghidupan hilang
2. Lingkungan sebagai Hak Bersama
Menurut pandangan ulama:
Alam adalah milik bersama, bukan milik segelintir orang.
Merusak alam berarti merampas hak orang lain dan generasi masa depan.
F. Aktivitas Murid (Diperdalam)
1. Aktivitas Individu
Membaca QS. Al-Baqarah: 30 dan QS. Al-A’raf: 56
Menuliskan makna ayat dengan bahasa sendiri
Mencatat satu contoh kerusakan lingkungan di sekitar mereka
2. Aktivitas Kelompok
Diskusi awal dengan pertanyaan pemantik:
Apa hubungan iman dengan lingkungan?
Mengapa Islam melarang kerusakan alam?
Apa akibat jika manusia mengabaikan peran sebagai khalifah?
3. Refleksi Awal
Peserta didik diminta menjawab secara singkat:
“Jika alam rusak, siapa yang paling dirugikan: alam atau manusia?”
G. Penegasan Nilai (Closing NITI HARTI)
Pada tahap NITI HARTI, peserta didik belum dituntut bertindak, tetapi:
Disadarkan
Dikenalkan
Dibangkitkan kepeduliannya
🌏
1. Hati sebagai Pusat Amal
Dalam Islam, hati (qalb) memiliki kedudukan yang sangat sentral.
📖 Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Artinya:
Harti adalah pengendali seluruh perilaku manusia.
2. Harti = Niat (Ikhlas)
Islam menegaskan bahwa nilai amal ditentukan oleh niat.
📖 “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya…”
(HR. Bukhari Muslim)
➡️ Maka dalam Islam:
Harti yang benar = ikhlas karena Allah
Harti yang salah = riya, sombong, pamer, atau kepentingan dunia
3. Jenis-Jenis Hati dalam Islam
Islam mengenal kondisi hati manusia:
Qalbun Salim (hati yang bersih)
➜ ikhlas, jujur, tenang, dekat dengan AllahQalbun Maridh (hati sakit)
➜ ragu, iri, malas beribadahQalbun Mayyit (hati mati)
➜ tidak peka pada kebenaran, dosa dianggap biasa
📖 QS. Asy-Syu’ara: 88–89
“Pada hari itu harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
C. SEJARAH NILAI HARTI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
1. Dalam Tradisi Nusantara
Sejak dahulu, budaya Indonesia mengenal konsep:
“hati nurani”
“rasa”
“eling lan waspada”
“budi pekerti”
Tokoh-tokoh Nusantara mengajarkan bahwa:
Manusia yang baik adalah manusia yang tajam hatinya, bersih niatnya, dan luhur budinya.
2. Dalam Perjuangan Bangsa Indonesia
Para pahlawan berjuang bukan karena materi, tapi karena Harti kebangsaan:
cinta tanah air
keikhlasan
pengorbanan
Ini selaras dengan Islam:
📖 “Cinta tanah air bagian dari iman” (makna nilai, meski bukan hadis sahih)
D. FUNGSI HARTI DALAM KEHIDUPAN
1. Fungsi Spiritual
Menentukan kualitas iman
Menjadi tempat tumbuhnya keikhlasan
Menghubungkan manusia dengan Allah
2. Fungsi Moral
Membimbing benar–salah
Menjadi rem perbuatan buruk
Menumbuhkan kejujuran dan tanggung jawab
3. Fungsi Sosial
Membentuk empati
Menumbuhkan kepedulian
Menghindarkan konflik dan kezaliman
E. CONTOH-CONTOH HARTI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1. Di Lingkungan Sekolah
Belajar karena ingin menjadi pribadi berguna (Harti benar)
Belajar hanya karena takut hukuman (Harti lemah)
Menolong teman tanpa pamrih (Harti ikhlas)
2. Dalam Ibadah
Shalat karena Allah (Harti lurus)
Shalat agar dipuji (Harti menyimpang)
📖 QS. Al-Ma’un: 4–6 (tentang orang yang lalai dalam shalat dan riya)
3. Dalam Dunia Kerja (Konteks SMK)
Bekerja dengan jujur meski tidak diawasi
Menolak kecurangan walau ada kesempatan
➡️ Ini buah dari Harti yang bersih
F. KESESUAIAN HARTI DENGAN PRIBADI MUSLIM
Pribadi Muslim yang ideal memiliki:
niat yang lurus
hati yang bersih
amal yang ikhlas
akhlak yang mulia
Islam tidak hanya menilai hasil, tapi proses dan niat.
G. KESESUAIAN HARTI DENGAN PRIBADI INDONESIA
Nilai Harti sejalan dengan:
Pancasila sila ke-1 dan ke-2
budaya gotong royong
nilai sopan santun
rasa kemanusiaan dan keadilan
➡️ Muslim Indonesia sejati adalah:
beriman kuat, berhati lembut, berakhlak luhur, dan cinta bangsa.
H. PENUTUP (Refleksi untuk Siswa)
“Perbaiki hatimu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu.”
Pertanyaan reflektif:
Untuk apa aku belajar hari ini?
Apa niatku dalam beribadah?
Sudahkah hatiku jujur pada diriku sendiri?
Kalau Pak Anang mau, saya bisa:
📝 menyederhanakan jadi modul 3–4 halaman
📊 membuat slide presentasi (outline per slide)
🧠 menyusun soal refleksi + rubrik penilaian sikap
🧩 menghubungkan Harti → Surti untuk materi pertemuan berikutnya