Unit Kesehatan Sekolah (UKS) adalah program di sekolah yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Berikut ini adalah fungsi dan tujuan UKS secara umum:
Fungsi Pendidikan Kesehatan
Memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang perilaku hidup bersih dan sehat kepada siswa, guru, dan warga sekolah.
Fungsi Pelayanan Kesehatan
Memberikan pelayanan kesehatan dasar seperti pertolongan pertama, pemeriksaan kesehatan ringan, dan rujukan jika perlu.
Fungsi Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
Mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan aman untuk kegiatan belajar mengajar.
Meningkatkan Kesehatan Siswa
Agar siswa sehat secara jasmani dan rohani, sehingga mampu belajar secara optimal.
Menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Membiasakan siswa untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan sejak dini.
Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Siswa
Dengan layanan dan penyuluhan kesehatan, siswa lebih tahan terhadap penyakit.
Membantu Deteksi Dini Masalah Kesehatan
Seperti gangguan penglihatan, gigi, atau gizi buruk, agar dapat ditangani lebih cepat.
Menjadi Wadah Pendidikan Karakter
Melalui kegiatan UKS, siswa juga belajar tanggung jawab, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama.
Kamis, 28 Agustus 2025 - Bias HPV skrining mengacu pada kesalahan atau penyimpangan hasil dalam proses skrining (penapisan) HPV (Human Papillomavirus) yang dapat memengaruhi akurasi, interpretasi, atau efektivitas program deteksi dini kanker serviks. Bias ini dapat muncul karena beberapa faktor, di antaranya.
Tujuan bias dalam skrining HPV (Human Papillomavirus) adalah untuk mengidentifikasi dan memahami kesalahan sistematis yang dapat memengaruhi hasil skrining sehingga hasilnya tidak akurat atau tidak mewakili kondisi yang sebenarnya. Bias ini bisa terjadi di berbagai tahap skrining, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga interpretasi hasil.
Bias ini dapat muncul karena beberapa faktor, di antaranya:
Terjadi bila kelompok yang ikut skrining tidak mewakili populasi sebenarnya.
Contoh: Hanya wanita yang sudah sadar kesehatan yang ikut tes, sementara yang berisiko tinggi tidak ikut.
Timbul jika terdapat kesalahan dalam pengumpulan, pencatatan, atau interpretasi hasil tes.
Contoh: Kesalahan laboratorium dalam membaca hasil tes HPV.
Memberi kesan seolah-olah skrining memperpanjang kelangsungan hidup, padahal yang terjadi hanya deteksi lebih awal tanpa benar-benar mengubah prognosis.
4. Length Bias
Terjadi karena skrining lebih cenderung mendeteksi infeksi HPV atau lesi serviks yang tumbuh lambat dan mungkin tidak berbahaya, sementara yang agresif cepat berkembang dan mungkin terlewat.
Mendeteksi infeksi atau lesi yang sebenarnya tidak akan berkembang menjadi kanker (lesi regresif), sehingga pasien mendapat intervensi yang tidak perlu.
Secara lebih spesifik, tujuan mengenali dan mencegah bias dalam skrining HPV meliputi:
Meningkatkan akurasi hasil skrining
Menghindari hasil positif atau negatif palsu yang dapat memengaruhi diagnosis dini kanker serviks.
Memastikan keadilan dalam program skrining
Mengurangi perbedaan akses atau partisipasi berdasarkan faktor sosial, ekonomi, atau demografi.
Meningkatkan efektivitas program deteksi dini
Dengan meminimalkan bias, skrining lebih efektif menemukan kasus yang benar-benar membutuhkan tindak lanjut.
Mengoptimalkan penggunaan sumber daya kesehatan
Menghindari pemeriksaan yang tidak perlu atau melewatkan individu yang berisiko tinggi.
Menjamin data skrining dapat diandalkan untuk kebijakan kesehatan masyarakat
Data bebas bias membantu membuat keputusan yang tepat terkait pencegahan kanker serviks.
DOKUMENTASI
Penyuluhan Sekolah Sehat adalah kegiatan edukatif yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku warga sekolah (siswa, guru, dan staf) dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan sekolah. Petugas kesehatan dari Puskesmas Sukatani melaksanakan program sekolah sehat ke setiap sekolah.Kegiatan ini biasanya bekerja sama dengan sekolah melalui program UKS (Usaha Kesehatan Sekolah).
Meningkatkan kesadaran pentingnya hidup sehat di lingkungan sekolah.
Mendorong perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di kalangan siswa.
Mencegah penyakit menular dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Menanamkan pola makan sehat dan gizi seimbang sejak dini.
Mengurangi kebiasaan buruk, seperti jajan sembarangan atau malas cuci tangan.
Meningkatkan partisipasi sekolah dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman.
Pentingnya cuci tangan pakai sabun (CTPS)
Kebersihan diri (mandi, gosok gigi, potong kuku)
Gizi seimbang dan makanan sehat
Pentingnya olahraga rutin
Pencegahan narkoba, merokok, dan perundungan (bullying)
Kesehatan reproduksi remaja (untuk tingkat SMP/SMA)
Bahaya jajan sembarangan
Pengelolaan sampah dan sanitasi sekolah
Siswa (SD/SMP/SMA)
Guru dan staf sekolah
Orang tua siswa (dalam kegiatan tertentu)
Ceramah interaktif
Diskusi kelompok
Demonstrasi (misalnya cara mencuci tangan)
Pemutaran video edukasi
Lomba-lomba kebersihan atau poster kesehatan
Pembagian leaflet/brosur.
Siswa lebih sadar pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.
Sekolah menjadi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang optimal.
Terwujudnya Sekolah Sehat sesuai standar UKS: sehat fisik, sehat lingkungan, dan sehat mental.
DOKUMENTASI