MATERI BAHASA INDONESIA KELAS XII BAB 2
Pembelajaran 1 : Menyimak Informasi Kewirausahaan dari Media Elektronik
Materi Pembelajaran
a. Informasi bersumber dari media audiovisual
Audiovisual adalah jenis media yang berisikan pesan atau informasi yang dibuat
secara kreatif dan menarik dengan melibatkan indra pendengaran dan penglihatan
untuk mengaksesnya.
b. Macam-Macam Media Audiovisual
Media audiovisual dapat dibagia menjadi dua macam.
1) Audiovisual murni, yakni baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari
satu sumber. Contohnya, televisi, video kaset, film bersuara.
2) Audiovisual tidak murni, yakni untuk suara dan unsur gambarnya berasal dari
sumber yang berbeda, seperti film bingkai suara.
c. Kelebihan dan Kekurangan Media Audiovisual
Kelebihan penggunaan media audiovisual sebagai sumber informasi/ belajar
(Ramadhan, 2017).
1) Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif.
2) Mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik serta animasi dalam
satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapainya tujuan pembelajaran.
3) Mampu menimbulkan rasa senang selama proses belajar mengajar berlangsung.
Hal ini akan menambah motivasi peserta didik selama proses belajar mengajar
hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang maksimal.
4) Mampu menjangkau audiens yang jumlahnya besar, kecil, kelompok yang
heterogen maupun perorangan untuk mengamati suatu objek.
5) Mampu memvisualisasikan materi yang selama ini sulit untuk diterangkan hanya
dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional.
6) Mempermudah dan mempercepat guru menyajikan materi pembelajaran dalam
proses pembelajaran, sehingga memudahkan peserta didik untuk mengerti dan
memahaminya.
7) Media penyimpanan yang relatif mudah dan fleksibel.
Kelemahan penggunaan media audiovisual sebagai sumber informasi/ belajar.
1) Memerlukan peralatan khusus atau sarana pendukung dalam penyajiannya.
2) Memerlukan tenaga listrik.
3) Memerlukan keterampilan dan kerja tim dalam pembuatannya
Sumber: kompasiana.co
Pembelajaran 2 : Memahami dan Melakukan Instruksi Kompleks
Materi Pembelajaran
Bias Informasi
Saat kita membandingkan dan menganalisis beberapa informasi/berita sangat
dimungkinkan menemukan sebuah simpulan yang hampir sama mengenai nutralitas
berita. Setiap informasi/ berita yang dibuat oleh media cenderung bias dan tidak
menuliskan fakta dengan benar.
Bias informasi/berita dipilih berdasarkan keinginan setiap jurnalis untuk tujuan dan
maksud tertentu. Bias informasi/berita yang dibuat media diwakili oleh jurnalis
berkaitan dengan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya bahkan pertarungan
agama (Eriyanto, 2011). Mengutip pendapat Sobur (2009), bias berita muncul karena
media masaa tidak berada di ruang yang vakum. Media massa merupakan industri
yang berada di tengah realitas sosial yang sarat dengan berbagai kepentingan, konflik,
dan fakta yang kompleks dan beragam.
Bias informasi dapat diminimalisasi dengan menumbuhkan kemampuan berpikir
kritis dan selalu melakukan hal-hal sebagai berikut.
a. Mencari informasi pambanding agar kita lebih yakin dengan informasi yang
diperoleh.
b. Melakukan diskusi dengan pihak lain dengan latar belakang yang berbeda supaya
memperoleh wawasan dan pemahaman yang lebih luas.
c. Senantiasa terbuka menerima perbedaan.
d. Jadilah pendengar yang baik untuk memperkaya wawasan.
e. Lakukanlah perenungan dan pikirkan kembali agar dapat menyaring, mengevaluasi,
dan menghubungkan berbagai informasi yang diperoleh.
f. Keluar dari zona nyaman dengan cara mencari keterangan dan informasi baru.
g. Memahami bahwa suara terbanyak belum tentu mencerminkan kebenaran.
Terkadang suara terbanyak seolah-olah mengonfirmasi kebenaran yang ada.
Padahal, kita harus tetap melakukan cek dan ricek.
Sumber: https://www.idntimes.com/life/inspiration/syah-deva-ammurabi/7-tips-menghindari-bias-agar-kamu-lebih-objektif-menilai-sesuatu-c1c2/
Pembelajaran 3 : Menggunakan Kosakata Baru dari Teks Kewirausahaan
Materi Pembelajaran
a. Makna Kata
Makna adalah hubungan antara makna dengan pengertian. Dalam Kamus
Linguistik, pengertian makna dijabarkan menjadi:
1) maksud pembicara;
2) pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia
atau kelompok manusia;
3) hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidak sepadanan antara bahasa atau
antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya, dan
4) cara menggunakan lambang-lambang bahasa (Harimurti Kridalaksana, 2001).
Berikut ini akan dipaparkan jenis-jenis makna tersebut :
1) Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
a) Makna Leksikal
Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat
leksem, atau bersifat kata. Dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna
yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi
alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.
Makna leksikal sering pula disebut makna kamus.
b) Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa,
atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam
kalimat. Makna leksikal dapat berubah ke dalam makna gramtikal secara
operasional.
2) Makna Referensial dan Makna Nonreferensial
a) Makna Referensial
Makna referensial yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu maka
kata tersebut disebut kata bermakna referensial.
Misalnya kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial
karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga
yang disebut meja dan kursi.
b) Makna Nonreferensial
Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen
(acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya. Dalam
hal ini kata preposisi dan konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki
fungsi atau tugas, tetapi tidak memiliki makna.
3) Makna Denotatif dan Makna Konotatif
a) Makna Denotaif
Makna denotatif (sering juga disebut makna denotasional, makna konseptual,
atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama
dengan makna referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan
sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan,
penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Makna
denotasi sering disebut sebagai “makna sebenarnya”. Contohnya kata „gadis‟
dan „perawan‟ Kata gadis dan perawan memiliki makna denotasi yang sama,
yaitu wanita yang belum bersuami/lajang.
b) Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang berupa kiasan atau yang disertai nilai
rasa, tambahan-tambahan sikap sosial, sikap pribadi sikap dari suatu zaman,
dan kriteria-kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna
konseptual.
Contonya, kata „bunga‟, bunga secara konotatif bukan lagi „bagian tumbuhan
yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya dan harum baunya;
kembang‟, melaikan bermakna juga „gadis/ perawan‟. Bunga diartikan
sebagai „bagian tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok warnanya
dan harum baunya; kembang‟ mengandung makna lugas atau makna
denotatif. Bunga yang diartikan “gadis/ perawan‟ mengandung makna kiasan
atau makna konotatif.
b. Proses Penyerapan Kata
Kosa kata baru bahasa Indonesia dibentuk melalui tiga proses pembentukan, yaitu
ubah bentuk, penyerapan, dan penerjemahan.
Ubah bentuk dilakukan melalui proses afiksasi, akronim, blending, dan kliping
terhadap kosa kata yang ada. Penyerapan dilakukan melalui peminjaman kosa kata
dari bahasa lain (bahasa daerah/ bahasa asing), dan penerjemahan dilakukan
melalui alih makna. Penyerapan kosa kata asing dalam bahasa Indonesia lebih
lanjut dapat dipelajari dalam buku Pedoman Pengindonesiaan Nama dan Kata
Asing yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kemdikbud.
Ada tiga bentuk penyerapan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia.
1) Adopsi
Adopsi adalah penyerapan yang dilakukan secara utuh tanpa melakukan
perubaan atau penyesuaian. Adopsi ini berlaku jika sistem kata yang diambil
telah sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Contoh, kata novel, mall, radio,
dialog.
Penulisan kata yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia itu biasanya sama
dengan kata sumbernya. Tetapi, pelafalannya disesuaikan dengan kaidah bunyi
kata bahasa Indonesia.
2) Adaptasi
Adaptasi adalah penyerapan yang disesuaikan dengan kaidah yang berlaku, baik
kaidah bunyi maupun kaidah penulisan.
Contoh kata „computer‟ (bhs. Inggris) diadaptasi menjadi „komputer‟ (bhs.
Indonesia), kata „system‟ (bhs. Inggris) diadaptasi menjadi „sistem‟ (bhs.
Indonesia)
3) Penerjemahan
Dalam penerjemahan istilah asing tidak selalu perlu bentuk yang berimbang arti
satu lawan satu. Hal yang pertama-tama harus diikhtisarkan ialah kesamaan dan
kepadanan konsep, bukan kemiripan bentuk luarnya atau makna harfiahnya.
Medan makna dan ciri makna istilah bahasa asing masing-masing perlu
diperhatikan. Misalnya, network (jaringan), download (unduh), upload (unggah).
Sumber: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, 1987
Pembelajaran 4 Menggunakan Kalimat Efektif
Materi Pembelajaran
Materi mengenai tanda baca dapat dilihat pada penjelasan di Buku Siswa hlm. 52-54.
Sebagai pedoman guru dan peserta didik, guru dapat mengunduh file PDF Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia melalui tautan:
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf