Hari raya merupakan surganya makanan lezat dan kue-kue tradisional yang selalu dirindukan. Dalam kebudayaan Palembang, kue maksuba atau kue delapan jam menjadi hidangan andalan pada hari raya keagamaan dan pesta pernikahan. Bayangkan, bertamu ke rumah saudara dengan jajaran kue maksuba berwarna kuning keemasan yang tertata rapi di atas meja. Seketika aroma mentega yang wangi dan lezat pun memenuhi ruangan. Apalagi ketika disantap, tiap-tiap lapisannya terasa manis gurih dan begitu legit di dalam mulut. Hmm… lemakkk niannn (lemak berarti enak dalam Bahasa Palembang). (Oleh Vania Orvala)
Horor merupakan sebuah konsep dengan arti yang berbeda untuk setiap orang. Sebagian orang memiliki pandangan bahwa horor berwujud jump scare dalam film menegangkan. Horor juga dapat berupa things that go bump in the night—sebuah frasa dengan arti suara yang bermunculan di malam hari dengan asal usul yang tidak dapat dijelaskan. Namun di Indonesia, tanah yang terkenal dengan kepercayaan tinggi terhadap cerita mistis dan takhayul, horor bermanifestasi dalam bentuk pamali. Dengan begitu, menurut KawanWH, dalam dunia yang sudah memasuki masa modern, apakah pamali dapat mempertahankan keberadaannya? (Oleh Cherine Aurelia)
Pada tanggal 5 Januari 1808, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, tiba di Pulau Jawa. Ia menapakkan kakinya di Batavia dengan satu tujuan–untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang loyalis Prancis sejati. Daendels memulai pekerjaannya di Pulau Jawa sesuai visi Napoleonik yang ada pada dirinya. Berbagai hal dilakukan Daendels untuk membenahi sistem administrasi dan infrastruktur di wilayah Jawa. Pembenahan olehnya terbukti berhasil, sebab Jawa terhindar dari serangan musuh utama Prancis saat itu, yakni Inggris. Lantas, apabila memang benar Daendels berjasa dalam meletakkan dasar-dasar birokrasi efektif di Indonesia, mengapa warisan kekuasaannya tidak secara jelas dikenang? (Oleh Jeniffer Vanessa Widiyatmoko)
Ketika pertama kali mendengar emansipasi perempuan hingga kesetaraan gender di Indonesia, rasanya tak lengkap tanpa nama Raden Ajeng Kartini. Setiap tahunnya di tanggal 21 April—tanggal kelahiran Kartini–masyarakat khususnya kaum perempuan merayakan Hari Kartini. Buku hariannya yang diterbitkan, Habis Gelap Terbitlah Terang, telah mengilhami banyak perempuan untuk meneruskan perjuangannya di era modern ini. Namun, di balik semua itu, apakah Kartini merupakan satu-satunya perempuan tangguh yang kokoh berdiri memperjuangkan hal yang ia percayai? Tidakkah ada tokoh-tokoh perempuan hebat lain yang kisahnya juga patut dirayakan? Lantas, mengapa selama ini kisah-kisah tersebut seolah tak terdengar atau dirayakan layaknya Kartini? (Oleh Trystan Ramadhane)
KawanWH, apakah pertanyaan seperti “kapan lulus?”, “kok belum punya pacar?”, dan “loh, gendutan ya?” sering terdengar saat sedang kumpul keluarga di hari raya? Momen hari raya yang selalu menjadi penantian banyak orang sayangnya tidak bisa dipisahkan dari pertanyaan yang kadang kala membuat risih. Banyak orang berpikir bahwa untuk mencapai kehidupan yang ‘ideal’, harus lulus di waktu tertentu, bekerja di tempat tertentu, bahkan memiliki penampilan tertentu. Namun, realitanya tidak mungkin kehidupan setiap individu berjalan dengan timeline dan standar yang sama persis dengan orang-orang di sekitarnya. (Oleh Kasistha Prasida Cantyani)
Pada tahun 1977, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA meluncurkan sebuah wahana luar angkasa berbentuk satelit bernama Voyager. Tak hanya itu, di dalamnya juga disertakan sebuah piringan emas yang dikenal dengan nama Voyager Golden Record. Isi dari piringan emas ini sendiri berupa penjelasan terkait planet Bumi, seperti foto-foto makhluk hidup, suara binatang, hingga pengetahuan singkat tentang spesies bernama manusia. (Oleh Trystan Ramadhane)
Bayangkan kamu adalah seorang penyihir, melakukan teleportasi dari satu tempat ke tempat lain dengan sesuka hati. Memakai sebuah cincin khusus, menggerakan tangan secara melingkar, dan sebuah portal akan terbuka ke destinasi yang diinginkan. Everest, New York, bahkan dimensi lain bisa dikunjungi dalam hitungan detik. Tetapi apakah benar kamu penyihir? Doctor Strange? Tentu tidak. Kamu sekarang sedang memakai headset virtual reality dan berada di dalam metaverse. (Oleh Nathania Azalia)
Aktris yang sedang naik daun, klub sepak bola hingga tokoh politik. Menyukai dan menjadi penggemar dari hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Menjadikan semua itu sebagai panutan dapat menjadi alasan mengapa muncul basis penggemar. Namun, perasaan suka dapat berkembang bahkan sampai ke jenjang lebih tinggi, yakni fanatisme. (Oleh Trystan Ramadhane)
Tidak sedikit orang tua beranggapan jika anak bisa menguasai banyak bidang, anak akan menjadi sukses. Segala upaya dikerahkan untuk membuat si anak menguasai berbagai mata pelajaran, meskipun dengan belajar dan latihan yang tidak berkesudahan. Anak dituntut untuk bisa menjadi “sempurna” agar menjadi orang sukses. Pola asuh seperti ini dikenal dengan nama ‘tiger parenting’. Apa sesungguhnya makna dari 'tiger parenting' serta dampaknya pada anak? (Oleh Lindsay Winola dan Maria Risya)
”Future’s made of virtual insanity now, always seem to be governed by this love we have, for useless, twisting, our new technology,” – Virtual Insanity, Jamiroquai (1996).
Pada awal November 2021, Instagram memperkenalkan fitur Add Yours pada Instagram Stories. Saat itu, tidak ada yang mengira dampaknya bisa separah ini. Para pengguna Instagram seakan terbuai dalam gegap gempita fitur baru, sehingga tidak menyadari konsekuensi dari tindakan mereka. “Halah, cuma share foto aja, kok,” begitu pikir kebanyakan orang. Namun, bagaimana jadinya jika “hanya” sharing foto dapat dijadikan kedok tindakan kriminal oleh para pelaku kejahatan? (Oleh Nathania Azalia dan Immanuel Sahasika)
KawanWH, tahu ga, sih kalau tanggal 16 November diperingati sebagai hari toleransi internasional, lho! Rasa toleransi pastinya harus kita terapkan dan kita langgengkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya ke sesama manusia tetapi juga makhluk di sekitar kita. Toleransi juga erat kaitannya dengan hak asasi. Karena toleransi mengakui adanya kebebasan individu dan kebebasan mendasar. Setiap mendengar ‘hak asasi’ kebanyakan dari kita mengasosiasikannya dengan manusia. Tetapi, hewan pun perlu dijunjung dan menerima hak asasi demi kesejahteraannya. (Oleh Maria Risya dan Anindita Putri Dharmesti)
Pada zaman modern yang serba cepat dan kompetitif ini, kesibukan serta padatnya jadwal kerja seakan menjadi indikator utama dalam mengukur kesuksesan yang dimiliki seseorang. Banyak dari mereka berbondong-bondong ingin unggul dalam segala hal sampai mencurahkan seluruh energi maupun waktu mereka hanya untuk bekerja. Istirahat seakan hanya ditujukan bagi mereka yang lemah dan tidak mampu bersaing. Lalu, akankah situasi tersebut menjadi awal yang baik atau malah menghantui masa depan? (Oleh Maria Risya & Nadira Adhiesqa )
Berlatih hampir setiap hari, mengasah lebih tajam lagi keahlian yang dimiliki, hingga menunda bertemu keluarga dan kerabat untuk mencapai mimpi. Semua dilakukan oleh para atlet dalam usahanya untuk membanggakan negara juga dirinya sendiri. Namun, apa yang terjadi apabila usaha yang dilakukan nyatanya sia-sia? Bukan perihal menang atau kalah, namun perihal kurangnya pengakuan dan apresiasi yang setara dari masyarakat. Apa yang salah? Mengapa pola pikir masyarakat lagi-lagi mengalami kemunduran? (Oleh Kirana Prameswari)
Ada apa di balik pintu itu? Sebuah pintu menuju ruang ketidakpastian— tiada yang tahu, tiada yang menyangka. Jangankan menarik gagang pintunya, bahkan melangkah pun masih disandung keraguan. Apakah di balik pintu terdapat hewan buas yang siap menerkam sewaktu-waktu atau justru kejutan yang menyenangkan? (Oleh Tsabita Rantawi)
KawanWH, perbedaan seringkali menjadi penghalang untuk menikmati kasih sayang dengan pasangan. Apakah budaya seperti ini akan tetap eksis? Atau pada akhirnya generasi selanjutnya akan lebih terbuka dalam memilih pasangannya? (Oleh Trystan Ramadhane)
Bukan rahasia lagi bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Berbagai puji ditorehkan atas ribuan suku, hingga ratusan bahasa daerah membentang dari Sabang hingga Merauke. Ibarat sebuah pohon, berbagai kebudayaan daerah di Indonesia menjadi akar kebudayaan nasional. Lama-kelamaan, mereka akan tumbuh menjadi batang yang kokoh dan berusaha mempertahankan keutuhan sebuah bangsa. Dengan begitu, mereka berharap dedaunan akan bersemi ditemani oleh buah-buahan yang manis. Sayangnya, perjuangan tidak pernah semudah dan seindah imaji, benar? (Oleh Tsabita Rantawi)
Setiap tahun, dalam rangka mensyukuri kemerdekaan karena berhasil bebas dari segala bentuk penindasan dan penjajahan, kita disuguhi berbagai perayaan dan kegiatan yang bersifat simbolik. Tentunya, itu semua tidak akan terjadi tanpa adanya jasa dari para pendiri bangsa dan para pahlawan.
Bagi mereka yang melakukan perundingan di meja diplomasi maupun bergerilya di medan tempur, kemerdekaan tentu menjadi peristiwa penting yang membekas di ingatan. Kemerdekaan yang diraih kemudian menjadi pijakan untuk menuju lembaran baru menjalani hidup yang penuh dengan kebebasan. Tetapi, pernahkah sejenak terpikirkan oleh KawanWH bagaimana kisah dari para seniman Indonesia, terutama dalam mengekspresikan arti kemerdekaan yang turut menginspirasi karya-karyanya? (Oleh Trystan Ramadhane)
Pernahkah KawanWH melihat penggunaan pronouns seperti she/her, he/him, they/them dan lainnya di media sosial belakangan ini? Pronouns atau pronomina digunakan untuk mengidentifikasikan identitas dan ekspresi gender seseorang sesuai dengan pilihan mereka. Penggunaan pronomina berarti menghormati identitas serta ekspresi gender seseorang sekaligus melawan stigma dan batasan gender yang bersifat biner atau tradisional. Lantas, apakah sikap ini dapat menjadi batu loncatan bagi generasi-generasi berikutnya untuk hidup di dunia yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan untuk berekspresi tanpa batas? (Oleh Felicia Melody)
Bayangkan jika Helen Keller dan Rosa Parks hadir diantara generasi Z yang saat ini mendominasi dunia. Mungkin mereka dapat dengan mudah memanfaatkan akses luas terhadap berbagai platform media massa yang ada untuk menyebarkan informasi dan gerakan sosial berskala besar. Dengan bantuan berbagai kemajuan teknologi yang disuguhkan dari generasi-generasi sebelumnya, informasi hanya dibatasi oleh satu klik tombol “post” untuk menghasilkan dampak secara global. Memiliki pengaruh yang besar, potensi generasi Z untuk membuat dunia lebih baik tentu lebih tinggi. Namun, kenyataannya tidak se-optimis itu. (Oleh Kirana Prameswari)
Sejak tahun 2020, tercipta banyak gerakan serta pergolakan untuk melakukan demonstrasi di Thailand. Ribuan orang yang menyuarakan hak-haknya menuntut untuk adanya reformasi pada tubuh pemerintahan di negara Monarki Konstitusional tersebut. Mereka yang menyuarakan hak-haknya tersebut menamai aksi mereka sebagai “gerakan pro-demokrasi” yang menginginkan adanya perubahan konstitusi yang lebih demokratis dan reformasi dari sistem Monarki. Dalam perhelatan aksinya, terdapat sejumlah tokoh yang mengorganisir gerakan tersebut, salah satunya bernama Parit Chiwarak atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Penguin”. (Oleh Trystan Ramadhane)
Not all heroes wear capes—terlepas dari dunia fiksi yang dipenuhi dengan bermacam-ragam jajaran superheroes, aksi heroik dalam keseharian yang dilakukan oleh masyarakat biasa juga bukanlah suatu anomali yang sulit ditemukan. Dengan tak terduga, seringkali seseorang melakukan tindakan yang menjadikan dirinya sosok pahlawan bagi masyarakat. (Oleh Valerie Tania Margono)
KawanWH, apakah kamu familiar dengan istilah “mohon maaf, sekadar mengingatkan”? Seringkali kita menemukan istilah tersebut pada kolom komentar media sosial sebagai tameng untuk mengeluarkan nasihat. Mungkin KawanWH heran, bukankah nasihat semestinya menjadi ucapan yang positif nan membangun; untuk apa pula diberikan tameng? Memangnya mereka berlindung dari apa? Mari kita bahas satu per satu. (Oleh Tsabita Rantawi)
Tangisan bawang, muka memelas, dan janji manis. Mulai dari video penjelasan hingga screenshot aplikasi notes, hampir setiap influencer global dan selebriti lokal pernah membuat konten dengan tujuan meminta maaf. Namun, apakah permintaan maaf ini tulus untuk menjadi individu yang lebih baik, atau hanya politik dunia hiburan digital belaka? (Oleh Felicia Melody)
Salah satu cara menarik yang dilakukan oleh masyarakat Myanmar untuk saling berkomunikasi di tengah pemblokiran Internet, yaitu dengan menggunakan sebuah aplikasi offline yang bernama Bridgefy. Aplikasi yang berasal dari Meksiko ini kini populer di masyarakat Myanmar dan telah diunduh lebih dari 600.000 kali saat pihak militer menutup sementara jaringan Internet terutama di wilayah sekitar Ibu Kota negara Naypyidaw. Kita bisa melihat bahwa semakin ditutup sebuah akses informasi, maka dorongan untuk mendapatkan kembali hak berpendapat serta berkomunikasi secara virtual tersebut akan semakin besar. (Oleh Trystan Ramadhane)
Sebagai makhluk sosial, keinginan untuk diikutsertakan memanglah manusiawi. Saat ini, perasaan tersebut sering dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO) yang merupakan sebuah keresahan sosial di mana seseorang terus merasa khawatir akan tertinggal hal baru, atau cemas bahwa orang lain sedang menjalani pengalaman hidup yang lebih baik darinya. Meskipun FoMO menjadi kelemahan banyak orang di tengah pandemi, tetapi hal ini berbalik menjadi kunci kesuksesan dari tren viral internet yang terbaru, yaitu aplikasi Clubhouse. (Oleh Valerie Tania Margono)
Media sosial memberikan kesempatan bagi individu untuk memiliki persona masing-masing; otentik, ilusi, bahkan keduanya. Salah satu faktor penentu persona tersebut merupakan penampilan fisik sang subjek. Terlebih dalam dunia maya, kecenderungan seseorang untuk berpenampilan dengan ciri tertentu untuk memperoleh perhatian hingga validasi menjadi status quo. Berkurangnya interaksi fisik telah menjadikan media sosial panggung dunia yang paling menghibur, dan semua orang ingin berada di bawah sorotan, bukan? (Oleh Felicia Melody)
“Kemanusiaan akan menjadi landasan dari pengabdian masyarakat sebagai alasan naluriah untuk manusia saling bermanfaat satu sama lain,” ujar Ben Laksana dan Rara Sekar pada sesi wawancara webinar Bebas Vol. 2 Sabtu (28/11). Webinar sekaligus talkshow ini diselenggarakan oleh Divisi Pengabdian Masyarakat HMPSIHI Unpar dengan mengundang kedua alumni HI Unpar untuk membahas tema “Melatih Pemikiran Kritis untuk Pengabdian Masyarakat.” (Oleh Tsabita Rantawi)
Masih banyak episode The Simpsons lainnya yang bisa jadi menjadi kenyataan, seperti Ivanka Trump yang akan dinobatkan sebagai Presiden Amerika Serikat Tahun 2028, sampai episode jam Big Ben berubah menjadi jam digital yang besar. Apakah episode tersebut akan terjadi di masa depan? Mungkinkah jika serial lelucon The Simpsons kembali berhasil memprediksikan kejadian di masa depan secara terus - menerus? Kita tunggu saja ya, KawanWH! (Oleh Auradisha Ashalya)
Orang Rimba kerap kali ditipu oleh orang luar yang merampas tanah mereka. Ketidakmampuan membaca, menulis, dan berhitung menyebabkan mereka tidak pernah tahu apa yang tertulis di kertas perjanjian jual-beli. Padahal, kehidupan mereka sangat bergantung dengan alam, dan sayangnya wilayah mereka terus berkurang. (Oleh Tsabita Rantawi)
Apophenia adalah fenomena psikis yang terjadi kepada manusia, yang membuat kita dapat melihat sosok wajah di sebuah benda. Apophenia, meski lebih sering terjadi di gelapnya malam hari, adalah fenomena universal yang dapat terjadi kapan pun dan di mana pun, kepada siapapun (Oleh Dzaky Putra Wirahman)
"Anak HI? Mau jadi diplomat ya?" Pasti itu pertanyaan pertama dari orang saat tau kalau kamu anak HI. Diplomat adalah stereotip yang paling melekat pada anak HI. Memang benar, anak HI mempelajari tentang isu internasional, terutama politik. Namun, apakah cuma politik saja? Apakah semua anak HI adalah calon diplomat? (Oleh Kirana Prameswari)
Pernahkah kalian merasa bahwa sebagai orang Indonesia, kalian cenderung lebih senang berada di zona nyaman? Tenang saja, kalian tidak sendiri! Zona nyaman merupakan salah satu stereotip yang dimiliki oleh orang Indonesia. Sebenarnya, apa yang membuat orang Indonesia betah di zona nyaman? (Oleh Kevin Adhitya)
Apa yang KawanWH bayangkan ketika mendengar kata ‘Meksiko’? Mungkin hal pertama yang muncul adalah hal-hal trivial seperti budaya Dia de los Muertos atau kuliner khas taco dan salsa. Tapi, mungkin ada juga yang mengasosiasikan Meksiko dengan tingkat kriminalitas yang tinggi akibat gerakan kartel narkoba. (Oleh Gabriella Alva)
Seks merupakan topik pembicaraan yang seringkali dianggap tabu oleh masyarakat. Seks dilihat hanya terbatas pada mekanisme perkembangbiakkan manusia, walaupun sebenarnya seks merupakan suatu hal yang kompleks. Pandangan sempit itulah yang tertanam di masyarakat dan membuat apapun yang mengandung unsur seksual, baik itu percakapan, ekspresi seni seperti film, musik, dan lukisan, dipandang negatif. (Oleh Michelle Nagakanya)
Dengan dimulainya kebiasaan yang baru, sebagian masyarakat, termasuk anak-anak, memanfaatkannya untuk melakukan aktivitas di luar rumah setelah lebih dari tiga bulan harus berdiam di rumah guna memutus rantai penyebaran virus COVID-19. (Oleh Prosferro Arva)
Kontes kecantikan sudah biasa dijadikan ajang yang bergengsi untuk menunjukkan kerupawanan, bakat hingga karisma di depan publik. Kebanyakan kontes kecantikan ditujukan untuk kontestan berusia minimal 16 tahun. Namun tradisi di Benua Amerika berkata lain. (Oleh Tsabita Sekarlintang Rantawi)
Semua anak dilahirkan unik. Sejak kecil, kita belajar untuk mengenal diri sendiri mulai dari penampilan fisik yang ditemukan di depan cermin. (Oleh Felicia Melody)
Kata ‘pemimpin’ biasanya tidak termasuk dalam ratusan stereotipe seorang perempuan. (Oleh Jessica Ruth Andina)
Di tengah kondisi isolasi wajib ini, orang-orang menemukan cara baru untuk bersosialisasi. Berbagai platform juga menyediakan layanan untuk menjaga kita tetap waras dan bebas dari kecemasan berlebih selama masa karantina mandiri. (Oleh Vianny Quininta)
Banyak budaya dan komunitas yang menceritakan berbagai mitos tentang makhluk halus yang menyerupai seorang perempuan. (Oleh Dzaky Putra Wirahman)
Isu seks selalu menjadi kontroversi dan merupakan hal yang tabu untuk diperbincangkan di Indonesia. Padahal, topik ini seharusnya menjadi diskusi publik, karena menyangkut banyak aspek kehidupan. (Oleh Kirana Prameswari)