Setelah mengetahui berbagai aspek tentang salah satu tradisi unik di Indonesia ini yaitu Pasola dari Sumba Nusa Tenggaran Timur, seharusnya semua pihak sadar akan pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap hidup. Pelestarian Pasola tidak hanya berarti melanggengkan atraksi, tetapi juga menjaga kesakralan ritual, filosofi Marapu, dan nilai nilai luhur yang terkandung didalamnya. Upaya pelestarian ini memerlukan kolaborasi aktifdari masyarakat adat, generasi muda, dan dukungan pemerintah.
Pelestarian Pasola Sumba berakar kuat pada Ketaatan pada Aturan Adat yang diwariskan secara turun-temurun. Aturan ini, yang dijaga dan dipimpin oleh para Rato (ketua adat), adalah kunci untuk mempertahankan esensi spiritual dan kesakralan Pasola. Ketaatan ini terlihat mulai dari tahap krusial persiapan ritual, seperti penentuan waktu pelaksanaan berdasarkan kemunculan Nyale (cacing laut) di pantai, yang dianggap sebagai tanda restu dari leluhur. Masyarakat wajib mematuhi berbagai pantangan (larangan adat) selama periode ritual berlangsung sebagai bentuk penyucian diri dan penghormatan. Kepatuhan yang ketat ini berfungsi untuk memastikan bahwa Pasola tetap dipandang sebagai ritual persembahan kepada leluhur (Marapu) yang memiliki tujuan agraris dan spiritual. Darah yang tertumpah dalam pertarungan dianggap sebagai persembahan suci kepada tanah untuk memohon panen yang melimpah dan kesejahteraan bagi komunitas. Oleh karena itu, menjauhkan Pasola dari sekadar atraksi hiburan semata adalah tanggung jawab kolektif. Dengan memegang teguh tata aturan adat ini, masyarakat Sumba menjaga otentisitas Pasola sebagai manifestasi keyakinan, bukan hanya sebagai tontonan budaya.
Dalam upaya pelestarian Pasola, Peran Pemerintah Daerah sangatlah strategis dan bersifat multifungsi, bertindak sebagai fasilitator dan promotor yang mendukung keberlanjutan tradisi ini tanpa menghilangkan nilai kesakralannya. Pemda memastikan kelancaran ritual dengan mendukung penuh pelaksanaan Pasola sesuai kaidah adat yang ditetapkan oleh para Rato. Dukungan fisik diwujudkan melalui penyediaan fasilitas infrastruktur, seperti perbaikan akses jalan menuju lokasi, pembangunan tribun penonton yang layak, serta menjamin keamanan dan ketertiban acara bekerja sama dengan TNI/Polri. Secara promosi, Pemda berperan penting dalam memasukkan Pasola ke dalam agenda pariwisata budaya nasional dan internasional, yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing wisata dan ekonomi lokal. Namun, promosi ini diimbangi dengan upaya perlindungan, yaitu mendokumentasikan dan memublikasikan Pasola secara luas sambil tetap memperhatikan etika budaya agar kesakralan ritual sebagai persembahan kepada Marapu tetap terjaga dari eksploitasi berlebihan.
Pendidikan dan Sosialisasi: Melibatkan generasi muda secara aktif dalam setiap tahapan upacara dan permainan Pasola, sehingga mereka memahami filosofi, nilai-nilai, serta teknik pelaksanaannya. Regenerasi Pemain, Masyarakat adat dan keluarga perlu secara konsisten mendorong anak-anak muda untuk berlatih dan berpartisipasi sebagai Pahola (peserta Pasola). Ini berarti adanya bimbingan khusus dalam keterampilan berkuda, penggunaan tombak (kabela), dan pemahaman tentang aturan tidak tertulis (sportivitas dan penghormatan adat). Dengan adanya regenerasi yang kuat, tradisi yang melibatkan kekuatan fisik dan mental ini akan terus hidup, melahirkan generasi penunggang kuda yang tangkas, sekaligus menjamin Pasola akan selalu digelar oleh putra-putra terbaik Sumba di masa yang akan datang.