BURUNG PIPIT DAN BIJI HARAPAN
Di sebuah lembah yang tenang, dikelilingi hutan hijau dan langit biru, tinggallah seekor burung pipit kecil bernama Pino. Tubuhnya mungil, bulunya biasa saja, dan ia bukan burung yang pandai bernyanyi. Di antara burung-burung lain yang suka bersaing dalam lomba terbang atau bernyanyi, Pino sering dianggap "biasa-biasa saja."
Namun, ada satu hal yang membuat Pino berbeda. Ia sangat menyukai biji-bijian. Bukan untuk dimakan saja, tapi untuk ditanam. Setiap pagi, Pino akan terbang rendah, memungut biji dari pohon-pohon yang menjatuhkannya, dan membawanya ke sudut-sudut tanah kosong di hutan.
“Apa yang kau lakukan, Pino?” tanya seekor burung elang muda.
“Aku menanam biji,” jawab Pino sambil menepuk-nepuk tanah dengan kakinya yang kecil.
“Kenapa repot-repot? Kau tidak bisa memakan pohon, kan?” canda burung gagak.
Pino tersenyum, “Mungkin aku tidak bisa memakannya, tapi mungkin anak-anak kita bisa berlindung di bawahnya suatu hari nanti.”
Burung-burung lain tertawa. Mereka terbang tinggi, berlomba, dan bernyanyi, sementara Pino menanam satu per satu bijinya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Biji-biji yang ditanam Pino mulai tumbuh—pelan, kecil, namun kuat. Tunas-tunas kecil itu tumbuh di tempat-tempat yang dulu kosong dan gersang.
Kemudian datanglah musim kering. Panas membakar, daun-daun layu, air mengering. Pohon-pohon besar tak sanggup bertahan. Sarang-sarang burung runtuh, dan mereka mulai kehilangan tempat tinggal.
Burung jalak mengeluh, “Di mana kita akan tinggal sekarang?”
Burung kutilang menangis, “Sarangku jatuh. Anakku butuh tempat yang aman.”
Tapi di tengah kekeringan itu, tampaklah pohon-pohon muda yang mulai tinggi—pohon dari biji-biji yang dulu ditanam Pino. Mereka tumbuh di tempat yang terlindung, karena Pino tahu tempat terbaik untuk menanam: dekat sumber air kecil, di balik batu besar, atau di bawah naungan rumput tinggi.
Burung-burung pun mulai mendekat. “Pohon-pohon ini bisa menjadi rumah kita!”
Pino tidak berkata apa-apa. Ia hanya tersenyum dan melihat pohon-pohon kecilnya menjadi tempat berlindung bagi banyak makhluk.
Burung elang terbang turun. “Kami dulu menertawakanmu, Pino. Tapi ternyata kaulah yang paling bijak.”
Burung gagak ikut mengangguk. “Kami pikir kau aneh, tapi ternyata kau menanam masa depan.”
Sejak saat itu, Pino tidak lagi dianggap biasa. Ia dijuluki “Penjaga Lembah,” dan setiap burung kecil diajarkan satu hal penting: bahwa kebaikan yang kita tanam hari ini, walau kecil dan tak terlihat, bisa menjadi tempat berteduh bagi banyak kehidupan di masa depan.
Pesan moral:
Setiap kebaikan, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan tulus dan konsisten, akan memberikan dampak besar suatu hari nanti. Jangan takut dianggap berbeda jika kau sedang menanam harapan.